Kisah Ngentot dengan Si Tukang Kebun Pak Gap

Nyonya Rosa yang sudah berusia 40 tahun masih nampak begitu cantik dan sexy, karena dia pintar merawat tubuhnya dengan melakukan senam sex serta minum jamu dan mandi susu. Kulitnya putih bersih dan mulus bak pualam, banyak laki-laki yang meliriknya bila dia sedang berbelanja di pasar. Tetapi dia sama sekali tidak bernafsu dengan cowok yang tidak dikenal baik, paling-paling melemparkan senyuman yang menawan dan lewat begitu saja di hadapan pria-pria itu.

Justru begitu, banyak sekali kaum adam yang ngiler dan pikirannya langsung melayang ke hal-hal yang negatif. Alangkah asyiknya kalau bisa mencicipi tubuh yang aduhai dan menggiurkan itu! Begitulah sekedar impian para lelaki hidung belang, tak sedikit dari mereka yang sembunyi-sembunyi melakukan onani di WC umum seusai melihat wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang merangsang.

Suami Nyonya Rosa, yang bernama Pak Burhan adalah pebisnis yang sangat sibuk dan sering berpergian ke luar negeri. Dia jarang sekali berada di rumah, paling-paling sebulan sekali baru pulang. Beliau jarang memberi kehangatan kepada istrinya lantaran sudah begitu capek sesudah menyelesaikan pekerjaan sehari-hari. Kalau pun melayani istri, paling-paling sanggup bertahan satu menit atau dua menit saja.

Tentu Nyonya Rosa merasa tidak puas, dan sudah pasti tidak enak menyimpan perasaan gantung diakibatkan nafsu yang menggebu itu tidak terpuaskan lantaran suaminya ejekulasi duluan sebelum dia mencapai puncak kenikmatan. Bisa dibayangkan bagaimana tersiksa batinnya dan dia sering merasa panas dingin karena birahinya tidak tersalurkan. Sering kali dia melakukan masturbasi dengan penis karet bertenaga baterai yang bisa bergetar sesudah dimasukkan ke dalam lubang vagina. Tetapi tidak juga bisa mendatangkan kepuasan batin, bagaimanapun juga, itu adalah barang tiruan yang tidak seenak aslinya.

Selain Nyonya Rosa dan seorang anak gadisnya yang baru berusia 15 tahun, ada seorang pembantu rumah tangga yang bernama mbak Tuti. Perempuan yang berusia 35 tahun itulah yang biasanya memasak dan mengurusi rumah. Nyonya Rosa juga mempekerjakan seorang tukang kebun untuk mengurusi kebun dan taman bunga kecil di belakang rumah yang mewah dan besar. Laki-laki itu sudah berusia 69 tahun, tetapi masih tegap dan kuat. Tinggi badan mencapai 170 cm, berkumis tebal dan botak, hanya tinggal beberapa helai uban saja yang menempel di kulit kepala.

Warna kulitnya hitam legam karena sering bekerja di bawah sinar matahari yang terik. Biasanya orang rumah itu memanggilnya Pak Gap, biarpun berperawakan kasar tetapi dia amat ramah terhadap siapa saja yang dikenalnya.

Sore itu, di saat senja, sewaktu Pak Gap sedang giat-giat menggembur tanah dengan cangkul dan memupuknya untuk ditanami bunga mawar. Kebetulan Nyonya Rosa lewat dan melihat tukang kebunnya sedang bekerja. Di sekujur tubuh pria itu yang berotot di basahi keringat, dia hanya memakai celana dalam yang berwarna coklat. Nampak ada sesuatu yang begitu menonjol, sebab celana dalam yang ketat tidak sanggup menyembunyikannya dari pandangan mata.

Barang itu terguncang dan bergerak-gerak karena pemiliknya sedang melakukan aktivitas, seolah-olah tidak beta dibungkus begitu saja dan ingin sekali menampakkan diri di hadapan mata ibu cantik yang tengah memperhatikannya. Di wajah Nyonya Rosa nampak senyuman kecil dan di benaknya timbul pikiran yang tak senonoh, membayangkan bagaimana rasanya jika bermain cinta dengan laki-laki kasar dan macho itu. Dia tau tukang kebunnya sering mondar mandir dan mencuri pandang bilamana dia mengenakan pakaian ketat sewaktu melakukan senam arobatik di taman bunga di pagi hari.

Pernah beberapa kali sewaktu dia berenang di kolam renang dan hanya memakai baju bikini, dia melihat pria tua itu terus menerus menelan air liur, jakunnya naik turun saat memperhatikan paha yang putih mulus. Walaupun saat itu, kedua kates montoknya masih terbungkus oleh baju bikini; tetapi baju yang ketat seolah-olah tak sanggup menutupi kedua gundukan yang besar dan kenyal yang amat didambakan oleh laki-laki mana pun.

Pak Gap menatapnya dengan mata melotot dan sambil menelan air liur. Bu Rosa merunduk dan mukanya memerah, dengan malu tersipu-sipu dia berlari kecil menjauhi pria tua yang penasaran itu.
Mungkin terpengaruh oleh nafsu sex yang tak terlampiaskan, maka sesampai di rumah, pikiran tak senonoh itu terus menerus membayangi alam sanubarinya. Sehabis makan malam dia memutar VCD porno di kamar tidur. Adegan panas yang disajikan sungguh membangkitkan gairah apalagi mendengarkan suara desahan dan erangan bintang film yang cantik dan genit yang tengah digarap oleh beberapa pendekar jantan dengan pedang sakti.

Dia mulai mengusapi kedua buah dada, semakin lama semakin membakar libido yang sudah lama terpendam di dalam tubuh. Badannya gemetaran dan berkeringat, napasnya terengah-engah pula. Jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat.

Karena merasa sumpek di kamar, Nyonya Rosa pun beranjak keluar dan pergi ke taman bunga. Angin bertiup dengan sepoi-sepoi dan keharuman bunga tersebar di sekitarnya malah menambah gejolak nafsu yang menuntut pelampiasan. Dari kejauhan dia melihat masih ada cahaya lampu yang terpancar dari pondok di kebun sayur yang gelap. Lalu dia berjalan dengan lamban menuju pondok itu. Rupanya Pak Gap belum juga tidur, dia lagi duduk dan menikmati minuman arak putih di depan pondok. Begitu terkejutnya dia melihat majikan perempuannya malam-malam datang.

“Oh, Nyonya rupanya! Ada apa ya, malam-malam ke sini?” tanya Pak Gap.
“Nggak ada apa-apa, saya kebetulan melihat masih ada cahaya lampu, jadi iseng-iseng main ke sini,” kata Nyonya Rosa sembari beranjak masuk dan duduk di kursi berhadapan dengan Pak Gap.

“Tolong ambilin gelas, saya pengen minum juga, Pak.” Sambung Nyonya Rosa.
“Jangan minum banyak-banyak, nanti Ibu mabuk.” Kata Pak Gap sambil menuangkan arak ke gelas buat majikannya.

Mereka berbincang-bincang sambil makan kacang goreng sebagai selingan untuk menikmati minuman arak. Karena arak putih memang berupa minuman yang mengandung alkohol tinggi, maka wajah Nyonya Rosa sudah nampak merah setelah menghabiskan setengah gelas. Kepalanya terasa agak pusing dan detak jantung bertambah cepat. Pak Gap sendiri sudah menghabiskan dua botol dan dia pun merasa tubuhnya panas dan berkeringat dan pikirannya melayang-layang. Dia tak henti-hentinya menatap wajah majikannya yang cantik dan terus menelan air liur sewaktu memandangi tubuhnya yang molek. Apalagi wanita itu memakai baju tidur tak berlengan, berleher rendah yang menampakkan bagian atas payudara dengan belahan yang dalam.

Kedua gundukan itu begitu montok dan besar sehingga terlihat samar-samar teteknya terbungkusi baju tipis berwarna putih. Kedua paha mulus yang tersingkap tak tertutupi oleh baju yang pendek, benar-benar membangkitkan gairah dan nampaknya si tukang kebun itu sudah amat gelisah, terdengar dengusan napas yang berat seakan-akan dia baru saja selesai mencangkul tanah.

“Idih……, bapak kok lihatin orang terus, malu aaah…..” kata Nyonya Rosa, dia merundukkan kepala dan tersenyum sipu-sipu. Pipinya memerah entah malu atau pengaruh alkohol.

“Siapa suruh Ibu begitu cantik dan sexy?” Pak Gap mencoba untuk menggodanya.
“Wuh, genitnya……, dasar kurang ajar!” sergah Bu Rosa.

Barangkali terpengaruh oleh minuman keras, Pak Gap lalu menghampiri Bu Rosa dan meraba-raba pahanya yang padat berisi. Wanita itu langsung menggeliat geli karena telapak tangan tukang kebunnya yang penuh dengan kapalan terasa amat kasar.

“Nyonya kelihatan lelah, biarlah aku mijitin!”, jari-jarinya mulai memijit pundak majikannya.
Wanita itu memejamkan kedua mata sembari merasakan pijitan jari-jari kasar. Kira-kira lima menit lamanya memijiti pundak, leher dan kedua lengan, tangan Pak Gap mulai meraba-raba kedua buah dada yang tidak ber-BH, melihat majikannya tidak menolak dan nyalinya pun bertambah besar. Dia mulai meremas-remas dengan kuat. Mulut wanita cantik itu mengeluarkan suara erangan dan napasnya terengah-engah, merasakan darah di sekujur tubuh mendesir dengan cepat.

Tangan nakal itu kemudian berpindah ke paha kiri kanan dan mulai mengelus-elus. Telapak tangan kasar itu terasa seperti ular yang sedang merayap di kulit, seolah-olah ada aliran listrik yang menjalar ke tempat yang paling rahasia. Tubuhnya langsung lemas tak bertenaga, dia langsung memegangi kedua lengan pria tua itu.

“Pak, kepalaku pusing banget dan pengen baring sebentar.” Desah Nyonya Rosa dengan suara yang lemah.

“Ibu istirahat dulu di dalam, ya!” Kata pria tua itu, dia lantas membopong calon mangsa yang akan digauli ke dalam gubuk dan membaringkannya di dipan dengan kasur yang kusut dan berbau keringat. Kemudian dia menutup pintu rapat-rapat, di dalam gubuk hanya diterangi lampu minyak tanah yang digantung di dinding. Dia duduk di pinggir dipan dan mulai menggerayangi tubuh yang lemas lunglai itu. Wanita itu sudah mulai menggeliat-geliat dan mengerang dengan hebat. Melihat kondisi sudah matang, tangannya langsung melucuti baju tidur dan celana dalam lawan jenisnya hingga bugil.

Dia mulai mengisap tetek dan meremas buah dada montok itu dengan penuh semangat, lidahnya mulai menjilati dari bagian dada, perut, paha dan akhirnya sampai di bukit yang tidak ditumbuhi semak-semak. Rupanya bukit itu gundul dan licin, hanya terdapat sedikit bulu yang tumbuh di bagian atas hingga mendekati pusar. Dia mulai menjilati gua kenikmatan yang berada di tengah-tengah kedua paha mulus, gua itu sudah mulai mengeluarkan cairan kental, lalu dia membuka lubang yang sudah basah dan merah itu dengan jari-jari dan menjilati buah kacang di dalamnya.

edua tangan Nyonya Rosa memegang erat kepala lelaki tua itu agar mulutnya lebih menempel di lubang kemaluan. Dia mendesah dan mengerang, tubuhnya meliuk-liuk seperti seekor ular, nafasnya naik-turun tak teratur.

“Oh….., Pak Gap….., gagahilah aku, hantamlah aku, oh……, aku mohon, aku sudah tidak tahan lagi!” suara Nyonya Rosa terdengar parau dan mengemis.

“Ha…ha….ha….., aku udah lama pengen ngentot Ibu. Tau nggak, aku sering merancap di kamar mandi dan membayangkan wajah cantik Ibu, aku nggak tahan seusai melihat tubuh seksi ibu saat memakai baju senam ketat yang amat merangsang nafsu birahi.” Kata Pak Gap sembari menanggalkan pakaian, akhirnya dia berdiri telanjang bulat di depan Nyonya Rosa.

Batang kemaluannya begitu tegang, keras, besar dan panjang serta berurat. Dengan nafsu yang menggebu-gebu, dia lantas menaiki tubuh wanita itu dan menindihnya, dia langsung menancapkan kontolnya ke dalam lubang vagina yang basah dan nampak mengembang. Dengan sedikit gerakan menekan, batang penis yang panjang dan keras itu masuk perlahan-lahan ke dalam lubang sempit itu. Nyonya Rosa merasa batang kemaluan si tukang kebun yang panjang itu menyentuh mulut rahimnya, yang terasa begitu sensasional dan merangsang.

Diameter penis itu jelas lebih besar dari milik suaminya yang tercinta. Seolah-olah seperti pisang ambon yang menyumbati lubang memeknya.

“Ahhhh……………..” teriakan kecil keluar dari mulut Nyonya Rosa, tangan kanannya memegang kuat kain bantal. Pak Gap lantas melumat bibir Nyonya Rosa dengan ganas. Wanita itu membalas ciumannya sambil memeluk tubuh tukang kebunnya, dan mereka mulai memangut dengan penuh nafsu.

Seusai berdiam sebentar, Pak Gap mulai menaik turunkan pinggulnya dengan pelan. Nyonya Rosa memejamkan mata dan menikmati gesekan penis besar di dinding lubang kemaluannya. Di malam yang sepi terdengar bunyi: “Ciut…. ciut…. ciut…..” dari gesekan penis di goa kramat yang becek. Kepala Nyonya Rosa bergerak ke kiri ke kanan dan mulutnya mengeluarkan suara erangan. Gerak-geriknya amat memancing nafsu liar si tukang kebun, lelaki tua itu mulai memompa memek majikannya dengan cepat, semakin lama semakin buas.

Terasa ada denyutan-denyutan yang memberi kenikmatan tak terlukiskan pada kepala kontol yang sudah tertanam dalam-dalam. Nyonya Rosa berteriak kecil, kedua matanya terpenjam dan mulutnya menganga menikmati genjotan ganas dari si tukang kebun tua. Saking kuat genjotannya maka timbullah bunyi “buk…..buk…..bukkkk….” disertai teriakan histeris wanita setengah baya yang cantik itu. Dia nampak lemas dan pasrah menerima hantaman demi hantaman yang kuat dan kencang.
“Oh….., Pak ampunilah aku……., aku sudah keluar…., ahhhh……….”, jari-jari Bu Rosa mencengkeram kuat dan kukunya yang tajam melukai punggung pria tua yang amat jantan itu.

Biar punggungnya terlukai, tapi dia sama sekali tidak merasa sakit. Jangankan kuku, biar golok pun dia tidak akan merasa gentar. Terasa ada semburan cairan panas yang membasahi kepala kontol, dan tubuh Nyonya Rosa yang tengah ditindihnya mengejang-ngejang dengan hebat pertanda wanita itu sudah mencapai klimaks.

“Tiada maaf bagimu, Bu…..”, sahutnya dengan nafas yang tak teratur. Dia terus menggenjot lubang surgawi yang tengah memberinya kenikmatan yang amat sangat. Batang kontolnya yang panjang dan besar terus memompa seperti stang seher mobil yang naik turun secara otomatis dan menimbulkan bunyi ciut-ciutan, sesekali terdengar suara rintihan Nyonya Rosa yang lemas lunglai dan tak berdaya. Pak Gap terus menggaulinya dengan brutal. Pantat pak tua itu naik turun dengan cepat dan napasnya menggebu-gebu bak napas kerbau yang sedang membajak sawah.

Bulu dadanya yang lebat sudah dibasahi oleh keringat panas. Otot dadanya bergetar-getar, kedua telapak tangannya meremas-remas kedua buah dada yang kenyal, kontolnya yang gede dan panjang nampak asyik mengentoti lubang nikmat yang licin.

“Ahhhhhh………..”, jerit Nyonya Rosa disertai dengan otot badan yang kejang-kejang dan tangan kanannya menarik-narik kain bantal. Dia telah mencapai klimaks yang kedua kali. Mata Pak Gap nampak memerah, dengan napas yang ngos-ngosan dan cengkraman kedua tangan yang kuat pada kedua pundak Nyonya Rosa, gejolak nafsunya sudah tak terbendungkan lagi bagaikan gunung berapi meletus dan menyemburkan lahar panas ke dalam goa kramat yang penuh nikmat itu. Tubuhnya yang kekar lalu lemas dan menindih tubuh Bu Rosa yang putih mulus. Biarpun dia sudah berejekulasi tapi kontolnya masih tegang dan menancap di dalam lubang vagina.

“Oh……., aku merasa puas sekali Pak.” Kata Nyonya Rosa dengan nada lembut.
“Aku juga, dan merasa sangat beruntung bisa meniduri wanita secantik Ibu.” Kata Pak Gap sembari mengusap-usap rambut Nyonya Rosa yang penuh dengan keringat. Kedua sosok tubuh yang berpelukan erat itu basah kuyup dipenuhi keringat kepuasan seakan-akan barusan selesai mandi.
“Kontolmu enak sekali ya, Pak!” desah Bu Rosa, mukanya tersenyum puas.

“Lubangmu juga enak sekali dikentotin lho, sayang!” jawab Pak Gap sambil menciumi pipi majikannya.
“Selain suamiku, Bapaklah laki-laki pertama yang berhasil merenggut kehormatanku. Tapi aku rela dan iklas memberikannya kepada Bapak, karena Bapaklah pria yang sanggup menaklukkan aku dan sangat pantas mencicipinya.”, desah Bu Rosa.

“Terima kasih ya Bu! Apakah suami Ibu tak sanggup memberi kehangatan buat Ibu?”, tanya Pak Gap.
“Suamiku, orangnya sangat perhatian dan penuh kasih sayang. Tapi permainan ranjangnya tidak sehebat Bapak. Dia hanya bisa tahan beberapa menit saja.”

“Aduh……, kasihan! Tapi tidak apa-apa kan? Kalau suami Ibu tak sanggup memberi kepuasan batiniah, biarlah saya yang sebagai gantinya!” kata Pak Gap sembari meremas-remas kedua payudara Bu Rosa, rasanya begitu kenyal dan penuh dengan elastisitas. Bu Rosa hanya mengangguk malu-malu.
“Sekarang biarkan saya menggagahi Ibu sekali lagi, biarlah saya menikmati tubuhmu yang sexy ini!” bisik Pak Gap, tangannya mulai meraba-raba paha yang putih mulus, bertujuan untuk membangkitkan nafsu birahi majikannya. Bu Rosa memejamkan mata dan Pak Gap mulai menjilati dan menciumi lehernya, tangan kasar pria tua itu meremas-remas bongkahan susu besar yang seperti bakpao itu secara bergantian. Nyonya Rosa berdesah dan napasnya mulai tidak teratur.

“Ibu iklas kan, untuk kedua kalinya?”
“Tubuhku udah dinodai Bapak, bagaimana tidak rela untuk kedua kalinya? Kontol Bapak udah tegang lagi ya?” kata Bu Rosa, tangannya menyentuh batang kontol yang tegang dan terasa panas itu.
Wajah Pak Gap langsung berseri-seri dan mulai menyerang lagi dengan senjata ampuhnya.
“Ah…, dasar sex maniak!” sergah Bu Rosa, dia berusaha merapatkan kedua pahanya untuk menghindari serangan rudal si tukang kebun brengsek. Tetapi Pak Gap dengan sigap menahan kedua kaki wanita itu dengan kakinya yang berotot dan berbulu lebat. Kontolnya yang tegak dan keras langsung menusuk lubang kemaluan yang pertahanannya sudah dipatahkan terlebih dahulu.

Sekali, dua kali tidak tepat. Tetapi ketiga kalinya pas mengenai sasaran. Mula-mula kepala kontolnya yang masuk duluan ke dalam lorong yang sempit dan terasa dinding lorong itu berdenyut-denyut dengan hebat. Lalu dia menekan lebih kuat sedikit, ini kali batang penisnya sudah masuk setengah. Kepala Nyonya Rosa bergerak ke kiri kanan dan kedua tangannya mendorong dada penyerangnya. Pria tua itu lantas memegangi kedua pergelangan tangan itu dengan kuat dan menahannya di tempat kasur tepat di kedua sisi kepala Nyonya Rosa. Dia menusuk lagi, blessss………, dan akhirnya seluruh batang kontolnya yang berukuran 18 Cm sudah tertanamkan di dalam lubang vagina yang siap dibombardir.
“Ahhhhhh………….”, terdengar jeritan Bu Rosa yang memelas di kegelapan malam yang semakin larut.

************
“Baru-baru ini Mama nampak semakin cakep ya, kalo dulu Mama sering murung dan gelisah.” Kata Yenny, anak Bu Rosa yang cantik. Wajahnya mirip dengan ibunya, berambut panjang dan bertubuh bongsor. Biarpun masih duduk di bangku SMP kelas III, tetapi dia sudah tidak perawan lagi. Perawannya sudah dimakan oleh seorang residevis kakap yang menjual obat geleng kepala di salah satu diskotik di kota metropolitan.

Dulu Yenny bersama teman-teman sering berkunjung di diskotik itu untuk berdisko ria. Karena pengaruh lingkungan, dia pun sering minum bir dan mengkonsumsi narkoba. Karena si penjahat yang berambut gondrong dan dikuncil itu langsung naksir melihat paras Yenny yang cantik dan badannya yang seperti gitar spanyol, lalu timbul niat untuk menggaulinya.

Maka disusunlah sebuah siasat yang melibatkan salah seorang teman Yenny. Temannya yang cewek itu, mula-mula meminjami Yenny buku cerita seks dan VCD porno. Lama kelamaan Yenny pun terpengaruh dan sering melakukan masturbasi dengan menggosok-gosokkan jarinya di sekitar lubang kemaluan. Dia sering juga menceritakan hal itu kepada temannya yang bernama Rita.

Rita sendiri sudah hilang kegadisannya dan sering ditiduri oleh penjahat kakap itu, biasanya dia dibawa ke tempat pelacuran, di hotel murahan atau di tempat kuburan yang gelap. Di sanalah si bandit itu melampiaskan nafsu binatangnya pada tubuh cewek ABG ini tanpa belas kasihan. Setiap kali menggarapnya, dia duluan memberi minuman yang dicampuri obat narkotika yang membuat si Rita pasrah, membiarkan tubuhnya dinikmati dan harga dirinya diinjak-injak oleh laki-laki kriminal itu. Meskipun masih remaja namun lubangnya sudah gede banget lantaran sering digituin dengan kasar. Si Roni, penjahat itu memperlakukannya seperti seorang budak nafsu.

“Rit, Setiap kali habis nonton, aku selalu masturbasi dengan gosokan tangan. Pernah sih, terpikirkan untuk memakai kontol plastik bertenaga baterai. Tapi aku takut selaput perawan terkoyak. Nanti udah nikah takut ketahuan sama cowokku.” Kata Yenny.

“Ah….., itu ma urusan belakang. Cinta itu bukan diukur dengan selaput dara, cinta kan dari hati ke hati. Kalau toh cowokmu bener-bener mencintaimu, dia tidak akan mempermasalahkan itu. Bukankah banyak cowok yang mau menikah dengan pelacur-pelacur? Yang penting permainan ranjangnya mesti memuaskan.” Jawab Rita dengan muka senyum. Dia akan memperoleh uang jutaan rupiah dari Mas Roni jika berhasil membujuk Yenny.

“Kontol itu enak kalo dimasukin! Tentu kontol asli lebih enak daripada yang tiruan. Nggak apa-apalah sekali-kali mencobanya, ntar kamu akan ketagihan kalo udah tau rasanya.” Sambung Rita sembari meneguk bir angkernya yang bermerek jangkar.
“Iya deh Rit, tapi dengan siapa aku mesti bereksperimen?” sahut Yenny dengan wajah merah karena pengaruh alkohol.

“Sebenarnya Mas Roni sudah lama naksir sama kamu lho! Kalo mau…, ntar aku hubungin dia.” Kata Rita sambil mengisap rokok Star Mild.

“Pak Roni kan udah tua bangka, usianya mungkin ada lima puluhan ya. Berkumis tebal dan jelek pula, enggak mau ah……”, pinta Yenny.

“Justru pria tua itu baru berpengalaman dan tau banget cara memuasi perempuan. Aku pernah ditidurinya, waduh enak banget……deh! Kumisnya yang tebal menggosok-gosok dada dan payudaraku, batang kontolnya yang keras besar, seperti buah ketimun itu menyodok-nyodok lubang memekku yang sempit. Aku dikerjai berjam-jam lamanya, sampai aku minta ampun, dia baru menyemprotkan air mani di dalam rahimku. Air maninya buanyakkkkkk………sekali. Wah…wah…wah……, sungguh nikmat dan seolah-olah terbang di angkasa.” Kata Rita, tangannya meraba-raba punggung temannya.

“Apa kamu tidak takut bunting, Rit?”
“Ahhhh, itu ma gampang………”, Rita mendekatkan bibirnya dan membisikkan sesuatu di telinga gadis lugu itu sambil tertawa geli.
“Kenapa nggak pakai kondom saja? Selain bersih juga aman dari penyakit kelamin dan AIDS.” Tanya Yenny.
“Pakai kondom rasanya kurang sip, maunya lubang yang sudah ngembang itu disirami air mani hangat baru nikmat.” Jelas Rita.

$$$$$$$$$$$$$$$$$$

Malam minggu itu, si Yenny menelpon ke rumah dan memberitahu mbak Tuti bahwa dia akan menginap di rumah teman. Biasanya dia sering menyogok mbak Tuti dengan uang agar dia tutup mulut kalau dia bermain di diskotik atau tempat karaoke bilamana ibunya tidak berada di rumah. Ibunya sering keluar daerah untuk berbisnis.
Sekitar pukul sembilan mereka tiba di sebuah diskotik yang hingar bingar dan sesak. Banyak sekali pria wanita, baik muda maupun setengah baya berkumpul di sana. Ada Om-Om yang mencari gadis ABG dan ada pula Tante yang memburu gigolo tampan. Pokoknya ada “Cien” semuanya bakal beres. Bukankah ada istilah: “Money is Power, No Money No can DO!”

“Halo….., manis!!! Apa kabar malam ini?” sapa Bung Roni dengan senyuman genitnya.
“Baik-baik saja, Pak. Malam ini aku ajak Yenny main-main ke sini.” Sahut Rita.
“Iya deh, dari pada bengong di rumah, mending berdisko-diskoan di sini. Oh ya, kalian berdua mau minum apa?” Tanya Bung Roni.

“Terserah deh….., kami baru saja minum bir tadi. Tapi nggak banyak seorang sekaleng kecil.” Kata Rita.
“Bolehkan saya mengajak Yenny berdisko?” tanya Bung Roni sembari memesan minuman bir dari seorang pelayan bar.

“Ayo, Yen! Berdiskolah sama Pak Roni, biar kamu tidak stress….” kata Rita dengan nada lembut.
Yenny pun tersipu-sipu sewaktu lengannya ditarik Bung Roni. Mereka berdua pun pergi berdisko dengan suka ria. Sesudah usai berdisko dengan Yenny, Bung Roni berdisko lagi dengan Rita. Setelah puas berdisko-diskoan, mereka bertiga pun duduk berbincang-bincang sambil menikmati bir. Mata Bung Roni tiada henti-hentinya menyorot wajah Yenny yang cantik dan tubuhnya yang seksi. Sampai-sampai muka Yenny memerah dan merundukkan kepalanya.

“Idiiiih……, Bapak kok lihatin orang terus. Emangnya kenapa sih?” Yenny cemberut sambil meneguk birnya.
“Dik Yenny cakep sih….., makanya abang seneng banget melihatin.” Ujar Bung Roni sembari melemparkan senyumannya yang mesum.
“Yuk…., jalan-jalan ke villa Om. Di sono udaranya lebih segar dan tidak sumpek”, ajak Roni.
“Yuk Yen, mumpung malam minggu, esok hari bisa bangun siang.” Kata Rita.
“Ayolah Yen, jangan sungkan-sungkan. Pokoknya tenang deh kalo jalan-jalan sama abang.” Bujuk Roni.

$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

Sebuah Mobil sedan berwarna hitam melaju dengan kecepatan tinggi di jalan tol di luar kota. Di dalam mobil itu ada 5 orang, 3 laki-laki dan 2 perempuan. Yang memegang setir adalah cowok yang bermuka sangar, kira-kira berumur 35 tahun dan dia adalah tukang pukul penjaga diskotik. Teman yang di sebelahnya sedang tidur-tiduran, mungkin terpengaruh oleh bunyi mesin atau barangkali terlalu banyak minum bir. Bung Roni yang duduk di belakang, sedang bercanda ria dengan Rita dan Yenny. Mulut Ketiga orang itu juga sangat berbau alkohol, kata-kata yang keluar dari mulut mereka sudah menjurus ke hal-hal yang negatif. Tangan kanan Bung Roni sudah mulai meraba dan meremas-remas buah dada Yenny. Gadis itu amat terkejut lantaran belum pernah diraba laki-laki, ini adalah pengalaman baru buatnya.

“Pak, jangan……, geli ahhhh……..” sergah si Yenny sembari menarik tangan jahil itu dari buah dadanya.
“Gak apa-apa…., ntar juga terbiasa dan merasa enak!” sahut Rita.
“Pasti dong……., ntar Om kasih makan pisang ambon, ya…., sayang. Rasanya lebih enak lagi! Ha…., ha…., ha….” Sambung Roni.
“Nggak mau ah……” kata si Yenny sembari merundukkan kepalanya.
“Kontol enak lho!!! Kalo dimasukin…..” gurau Rita.
“Dik Rita tuh….., sering digilir beberapa laki-laki ganas sewaktu dia lagi mabuk ekstasi!” kata Bung Roni.
“Berapa orang sih, yang menggaulinya sewaktu mabuk?” tanya Yenny malu-malu.

“Biasanya 5 sampai 9 orang yang menggilirnya, ada yang ngentot lubang pantatnya juga.” Jawab Roni sambil memeluk Yenny yang sudah mabuk bir dan tangan kanannya meremas-remas susu yang mungil. Si Yenny merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, entah itu pengaruh alkohol atau memang nafsunya besar dan tak tersalurkan selama ini. Tangan jahil itu tak henti-hentinya meremas-remas kedua buah dadanya, semakin lama semakin kasar dan kuat. Dia merasakan sedikit kesakitan bercampur nikmat.

##############################

Akhirnya mobil itu tiba di kebun yang gelap dan ditumbuhi banyak pohon pisang. Di sana berdiri sebuah villa yang tidak terlalu megah, dari jendelanya terpancar cahaya lampu yang redup. Rupanya si Amran yang penjaga itu belum tidur lantaran menunggu bosnya membawa cewek untuk menginap. Dengan langkah yang malas dia beranjak keluar menyambut bosnya. Sewaktu dia melihat Bung Roni memapah si Yenny yang sudah setengah mabuk itu keluar dari mobil, matanya lantas melorot bak bola pimpong, seolah-olah ingin melompat keluar dari socket-nya. Kancing atas Baju Yenny sudah dilepas oleh Si Roni sewaktu dia sedang giat-giat meremas susu yang baru tumbuh sedikit lebih besar dari bola tenis itu. Gundukan susu yang masih sangat muda itu dibungkusi oleh BH yang berwarna merah. Sebentar lagi sudah pasti akan digerayangi habis-habisan oleh Om Roni.

Si pria sadis itu terkenal ganas sewaktu sedang menggauli cewek yang masih perawan. Kerap kali Amran mendengarkan jeritan serta erangan dari perempuan tak berdaya yang tengah digarapnya, baik itu pelacur, gadis perawan, janda atau istri orang lain. Bahkan tidak sedikit istri orang yang mengandung benihnya dan melahirkan anak hasil hubungan gelap yang tak diketahui oleh pihak suami yang lugu.

***************************
Rita sudah sangat mabuk sesudah meneguk beberapa gelas anggur merah, dia mutah-muntah karena merasa kepala pusing. Badannya lemas tak bertenaga sewaktu pakaiannya dilucuti oleh anak buah Pak Roni yang haus seks dan sudah sangat terangsang. Senjata mereka sudah tegang bangat, ada batang kontol yang tengah meneteskan lendir pelumas karena tak tahan melihat tubuh sexy yang sudah bugil di atas lantai. Ada yang mengisap susu sambil memeras dengan kasar, ada juga yang menjilati lubang kemaluan dengan lahap sambil menyedot-nyedotnya.

Si Doni yang duluan menaiki tubuh mulus Rita dan menusukkan batang kontolnya ke dalam lubang memek. Dia yang begitu terbakar oleh api nafsu birahi langsung menggenjotnya dengan bersemangat, pantatnya naik turun dengan cepat dan tidak lama kemudian dia menyemprotkan air maninya ke rahim Rita. Sambil menghela nafas kepuasan, dia turun dari tubuh mulus itu dan digantikan oleh rekannya Toto, kemudian digilir oleh Sapin. Ada yang tembak dua kali ada pula yang tembak tiga kali. Akhirnya tubuh Rita menjadi lemas lunglai dan berkeringat setelah digauli secara bergiliran, air mani yang masih hangat terlihat menetes dari lubang kemaluannya. Di bibir dan mukanya juga penuh dengan cairan kental, sebab ada yang menyemprotkan minyak olinya di wajah yang cantik itu.

Si Yenny terlihat amat terangsang oleh adegan hot itu, apalagi dia sudah terpengaruh oleh minuman bir hitam dan sedikit serbuk morfin yang diam-diam dilarutkan oleh Om Roni. Sebenarnya dia sudah orgasme beberapa kali sewaktu menyaksikan tubuh temannya digarap oleh laki-laki yang tengah dirasuki nafsu setan. Apalagi kedua bukitnya diremas terus oleh tangan jahil si Roni itu. Tubuh Yenny sudah lemas dan dia mengerang dengan nada mengemis dengan harapan agar segera dikerjai oleh Om-nya. Si Roni pun menangkap aba-aba yang diberikan padanya, maklum dia sudah sangat berpengalaman dan memahami keinginan setiap wanita. Dia langsung mengangkat tubuh Yenny dan membopongnya ke kamar tidur.

Setelah seluruh pakaian dilepas dan bertelanjang bulat di atas ranjang, Yenny nampaknya sudah tak kuasa lagi nenahan diri dari nafsu birahi yang meletup-letup di bawah pengaruh bir hitam dan serbuk morfin. Mukanya begitu merah dan tubuhnya menggeliat, meliuk-liuk di depan Om Roni. Lelaki bandit itupun sudah melepaskan pakain, batang kontolnya tegak dan kaku dengan kepala rudal yang seperti kulat raksasa. Dia naik ke ranjang dan berbaring di samping Yenny, tangannya memainkan kelentit mungil dan meremas buah dada dengan kuat serta menjilati sekujur tubuh yang putih mulus. Saking tidak terbendungnya nafsu seks yang tinggi, dia langsung menaiki tubuh gadis itu, badannya yang kekar dan berbulu menindih tubuh Yenny yang langsing dan tanpa kompromi melepaskan tembakan rudal ke lubang vagina yang masih perawan.

Ah……., si Yenny menjerit kesakitan, matanya terbelalak dan salah satu tangannya memegang erat kain bantal untuk menahan rasa perih sewaktu ditembus oleh rudal maut si Roni. Terpecahlah selaput daranya di malam yang naas itu, cewek itu menyerahkan tubuhnya bulat-bulat kepada lelaki yang baru dikenal beberapa jam yang lalu. Si Roni menaik turunkan pantatnya, memompa dengan bersemangat dan menikmati kehangatan tubuh seorang gadis perawan yang konon akan membuat setiap lelaki menjadi awet muda. Dia bertambah ganas ketika si Yenny meronta-ronta dan meminta ampun, seolah-olah penderitaan gadis itu adalah kenikmatannya.

Dia menindih dengan kuat dan menggenjot dengan bertenaga dan buas tanpa mempedulikan kondisi cewek yang tengah di bawah siksaan yang berat bercampur dengan kenikmatan surgawi. Setelah beberapa kali orgasme, si Yenny pun pingsan dan tak sadarkan diri. Tetapi Om Roni masih terus memompanya meskipun tubuh mungil yang di bawah tindihannya sudah lemas lunglai. Entah berapa lamanya kemudian, si Yenny mulai siuman dan merasakan lubangnya perih sekali bercampur dengan rasa pedas-pedas. Dia amat terkejut menyadari Om Roni masih tengah buas-buasnya mengentot lubang kemaluannya yang sudah payah. Om Roni benar-benar tidak menganggapnya manusia, dia menganggap cewek yang sedang digarapnya adalah budak seks.

“Aouuu…….., ampun…, Om…., ampun……,” teriak Yenny, kedua tangan mendorong dada Roni dengan sisa tenaganya. Om Roni lalu memegangi kedua lengan Yenny, pantatnya terus naik turun dan batang kontolnya keluar masuk dari lubang kemaluan Yenny yang sudah lecet dan berdarah. Cewek itu tidak kuat melawan dan tubuhnya lemas lunglai membiarkan Om Roni melampiaskan nafsu binatangnya dengan buas dan kasar. Muka Om Roni memerah dan keringat panas menetes di wajah dan dada si Yenny. Akhirnya meletuslah gunung Krakatau dan menyemprotkan lahar panas yang kental. Semburan lahar itu baru berhenti selang beberapa kali ledakan. Di luar kamar terdengar jeritan Yenny yang kesuciannya telah berhasil direnggut dengan brutal. Terdengar pula helaan nafas yang puas dari mulut Om Roni yang telah menikmati daun muda sebagai lalapan di bawah bantuan minuman keras dan obat kuat.
Malam yang naas itu, gunung berapi yang ganas dan aktif tadi meletus sampai beberapa kali, lahar panasnya mengalir hingga ke dasar lembah yang dalam. Dari kejauhan terdengar pula isak tangis yang memelas hati.

*****************

Sejak itu Yenny telah kecanduan narkoba dan menjadi barang mainan Om Roni. Begitu juga sewaktu bos-bos kenalannya membutuhkan pelampiasan nafsu syahwat, maka si Yenny sering diperkenalkan kepada bos yang membutuhkan servis. Cewek itu sering dibawa ke hotel, di sanalah Yenny melacurkan diri kepada bos yang membayar dengan uang jutaan rupiah. Namun Om Roni sering menikmatinya secara gratis, yang sebelumnya diberi dulu obat perangsang berupa ganja atau marijuana. Pernah sekali di dalam villa Om Roni, si Yenny sudah mabuk ekstasi dan kemudian digilir oleh sepuluh lelaki hidung belang dari berbagai umur. Ada eksekutif yang baru berusia 25 tahun, ada yang berumur 30-an, 40-an, 50-an bahkan ada yang sudah berusia 60-an ke atas yang sudah mempunyai cucu dan cicit. Karena para eksekutif itu kurang olah raga untuk menjaga kebugaran tubuh, maka mereka rata-rata hanya mampu bertahan satu atau dua menit saja. Ada yang hanya bertahan beberapa detik saja lalu berejekulasi dengan hebat.

Si Yenny pun menyadari bahwa dia tidak bisa sepanjang tahun menjadi budak pelampiasan nafsu sex Om Roni dan kawan-kawannya. Tapi apa boleh buat, di bawah ancaman si bandit itu dia tidak bisa berbuat apa-apa. Om Roni mengancam akan mengirim fotonya yang sedang tergeletak lemas sewaktu digilir oleh beberapa pria hidung belang. Ada foto wajahnya yang cantik itu dipenuhi air mani, ada foto yang mulutnya sedang mengisap batang kontol berurat yang tegang dan keras. Yang paling memalukan adalah foto yang menayangkan dia sedang digarap dari belakang secara doggy style (posisi anjing sedang kawin) oleh salah satu tukang pukul Om Roni, sedangkan mulutnya sedang mengisap kontol Mas Anto yang bekerja sebagai Satpam di tempat hiburan malam. Di sampingnya ada seorang cowok bermuka jelek dan bopeng yang tengah menjilati punggungnya. Setelah melihat foto-foto itu, Yenny seperti kena sengatan listrik tegangan tinggi dan merasa putus asa. Dia pernah beberapa kali kena penyakit Sipilis (raja singa) dan GO (kencing nanah).

Untunglah pada suatu malam, diskotik Om Roni kebakaran pada saat terjadi bentrokan dengan kelompok geng lain. Om Roni tewas diterjang timah panas sewaktu melarikan diri dari sergapan polisi. Semenjak itu bubarlah komplotan geng si Roni dan cewek-cewek yang semula diancam dan dijadikan budak seksual terbebaskan dari cengkraman tangan setan. Si Yenny pun pergi berobat agar bebas dari kecanduan narkoba dan syukurlah dia berhasil. Sedangkan Rita yang pernah beberapa kali turun mesin lantaran hamil, sudah kena AIDS, tubuhnya kian hari kian kurus kering dan hanya tinggal kulit yang membalut tulang saja. Cewek itu tinggal menunggu waktu maut menjemputnya.

***************

Yenny yang telah bebas dari ketergantungan obat terlarang kini telah tamat SMP dan melanjutkan ke SMU. Dia tidak lagi bergaul dengan cewek nakal dan mulai memfokuskan diri di mata pelajaran sekolah. Hatinya menjadi tenang dan penampilannya juga lebih baik dari hari-hari yang lalu. Dia tidak lagi berhubungan seks dengan cowok mana pun, takut kena penyakit kencing nanah atau sipilis. Paling-paling dia memakai penis karet atau terong untuk menyodok-nyodok lubang kemaluan sewaktu memuncaknya nafsu syawat. Yah, namanya barang tiruan, tentu tidak seenak yang asli. Tapi apa boleh buat, tiada rotan akar pun jadilah. Meskipun demikian, keuntungannya adalah aman dan bebas dari penyakit memalukan.

Pada suatu hari, saatnya dia usai mengulangi pelajaran sekolahnya di hari minggu. Di rumah tiada siapa-siapa, ibunya pergi ke pesta pernikahan seorang sanak saudaranya. Mbak Tuti pulang kampung untuk menjenguk suaminya yang kerja sebagai petani. Hanya tinggal Pak Gap si tukang kebun tua bangka itu yang tengah beristirahat di gubuknya sambil meneguk minuman keras. Maklum, majikannya tidak ada dan itulah kesempatan untuk bermalas-malasan. Apalagi tadi malam dia baru saja meladeni istri bos-nya yang cantik hingga subuh. Sendi-sendi tulang seluruh tubuh terasa nyilu lantaran terlalu memforsir tenaga. Ibarat baterai yang sudah habis terpakai mesti diisi ulang, sekarang Pak tua itu sedang menikmati telor setengah matang yang diberi serbuk lada dan madu lebah.

Cuaca di siang hari terasa panas sekali biarpun ada AC yang menyejukkan ruangan rumah. Barangkali mesin AC-nya tidak berfungsi secara maksimal, sebab sudah lama tidak menyuruh tukang membersihkannya. Untuk menyejukkan badan, Yenny pun pergi berenang di kolam renang. Dia hanya memakai kutang dan celana dalam ketat berwarna putih. Alangkah sejuknya air di kolam seakan-akan bercelup di dalam air es. Cewek itu berenang dengan riang, dia menggerak-gerakkan anggota tubuhnya dengan leluasa.

Tidak lama kemudian datanglah Pak Gap yang hanya mengenakan celana dalam saja. Orang tua itu terus memperhatikan Yenny yang sedang asyik berenang. Tubuh gadis itu begitu menggiurkan, tubuhnya yang hanya mengenakan BH dan CD itu sungguh merangsang nafsu birahi seorang laki-laki. Barangkali telor setengah matang yang bercampur dengan serbuk lada dan madu tengah memberikan reaksi. Senjata pusaka yang terbungkus oleh celana dalam sudah mulai mengembang dan nampak jelas di mata Yenny. Wah, begitu besar ukurannya barang pusaka itu! Pasti enaknya bukan main kalau dimasukkan ke dalam lubang memekku. Begitulah pikiran yang melintasi benak gadis itu, timbullah hasrat ingin bersetubuh dengan tukang kebun yang sudah pantas menjadi kakeknya. Apalagi dia sudah setahun lebih tidak dijantani oleh pria macho. Lalu dia berseru: “Hai…… Bapak, turunlah dan berenang dengan saya! Mari kita berlomba siapa yang lebih kuat!”

“Baik Non, Bapak juga pengen mandi. Memang hari ini panas sekali dan membuat orang tidak nyaman.” Seusai menjawab, Pak Gap pun langsung menceburkan diri ke dalam kolam renang. Yenny langsung berenang menjauhinya sambil berteriak: “Ayo, kejar gue……… ha..ha…ha….”
Pak Gap dibuatnya penasaran, dia lantas menggerakkan kaki tangan dan mengejar ke arah nona cantik itu. Nafsu syahwatnya menyala-nyala melihat paha mulus yang montok. Sesaat mendekati tubuh langsing itu, dia langsung menangkap salah satu kakinya hingga cewek itu berteriak dan mencoba menarik kaki kanan agar terlepas dari genggaman tangan yang seperti iblis itu. Dia berhasil melepaskan kakinya, lalu dengan cepat bak seekor ikan duyung dia membalikkan tubuh dan tak henti-hentinya menghempaskan air ke muka Pak Gap. Pria tua itu memejamkan mata dan kedua tangannya mencoba menangkap tangan gadis itu. Yenny memukul-mukul punggung Pak Gap. Tangan Pak Gap langsung mengenai tali BH, dia pun langsung menarik dengan kuat hingga putus dan terlepas dari tubuh mulus itu. Yenny segera menutupi kedua gundukan susunya dengan telapak tangan sembari berteriak: “Bapak jahat ah……, kurang ajar!” Dengan secepatnya tangan Pak Gap langsung merobek celana dalam gadis itu. CD yang sudah tersobek terapung-apung di air. Maka telanjang bulatlah Yenny tanpa tertutupi oleh sehelai benang pun. Saking terkejutnya, Yenny cepat-cepat naik ke tepi kolam dan mulai berlari ke arah taman yang ditumbuhi tanaman hias dan pohon bunga. Pak Gap pun langsung naik dari kolam dan mengejar. Kontolnya makin tegang melihat tubuh bugil nona manisnya. Dia merasa tersiksa lantaran kontol yang tegang terasa tak leluasa terbungkusi celana dalam yang ketat.

Akhirnya Yenny berlari masuk ke tempat yang menyerupai hutan kecil yang memang sengaja dirancang agar orang rumah bisa seolah-olah masuk ke hutan benaran sambil menikmati udara sejuk di bawah naungan rerimbunan pohon.
Yenny berhenti sembari menyandalkan diri di sebatang pohon pisang yang tengah berbuah lebat. Dia amat lelah sembari menarik napas panjang dan memejamkan mata. Begitu sejuk rasanya berdiri di bawah naungan pohon dalam keadaan telanjang bulat. Saatnya dia lagi asyik merasakan kesejukan alami, tau-taunya ada tangan yang meraba kedua payudaranya. Telapak tangan itu terasa kasar penuh dengan kapalan. Yenny lantas membuka mata dan melihat tukang kebunnya entah kapan sudah berada di hadapannya. Orang tua itu juga telanjang bulat, entah kapan dia melepaskan celana dalam. Kontolnya begitu tegang dan keras dengan kepala yang nampak seperti payung jamur raksasa. Senjata pusaka itu bergerak-gerak bagaikan seekor ular King Kobra yang sedang marah dan siap mematuk. Batang kemaluan tukan kebun itu setidak-tidaknya mencapai ukuran 18 cm dengan diameter tidak kalah dengan sebuah pisang ambon bahkan melebihinya.

Mata Yenny terbelalak menyaksikan kontol yang ekstra tegang dan menampakkan urat-urat yang jelas di sekeliling batangnya. Meriam tua itu meneteskan sedikit cairan pelumas kental seperti ingus yang meleleh dari hidung seorang bocah. Pertanda si kakek tua sudah sangat terangsang oleh tubuh montok yang bugil. Dia langsung menarik dan mendekap mangsanya sekaligus merebahkannya di rerumputan. Dia segera menaiki tubuh Yenny dan merenggangkan paha yang menghalangi aksinya dengan kedua kaki yang berbulu lebat dan keriting. Tanpa kompromi sedikit pun, batang kontolnya langsung menusuk ke dalam lubang vagina anak majikannya yang baru berusia 16 tahun. Senjata pamungkas itu menancap begitu dalam hingga mentok sampai ke ujung-ujung. Mata Yenny terbelalak, mulutnya menganga dan tangannya memegangi batang rumput yang tumbuh subur di tanah. Saking kuat tarikannya, batang rumput itu pun tercabut. Saat itu, Pak Gap sudah mulai memompa dengan kencang dan penuh nafsu. Gadis itu merasakan tubuhnya begitu dikuasai oleh seorang laki-laki tua yang memang pantas menjadi kakeknya, berbeda usia, status sosial dan pendidikan. Orang tua itu tidak tamat SD dan hanya seorang buruh kasar. Tetapi Yenny merasa begitu nikmat pada saat digarap dengan kasar dan brutal di alam bebas. Sodokan demi sodokan, hantaman demi hantaman yang dahsyat membuat gadis montok itu mengalami berkali-kali orgasme yang belum pernah diperoleh dari lelaki lain. Lubang vagina dirasakan begitu penuh dan tersumbat oleh buah terong yang mantap milik tukang kebunnya. Akhirnya cewek cantik itu berteriak kecil, kedua tangan yang lemah memegangi lengan Pak Gap yang lagi asyik menggarap, memompa dan menikmati tubuhnya. Tangan kasar yang penuh dengan kapalan meremas-remas susu serta menggerayangi lekukan tubuh dan paha si Yenny. Yenny merasa begitu geli bercampur nikmat, lalu tanpa disadari otot liang memeknya berdenyut-denyut dan menyemburkan cairan nikmat.

“Oh……. Pak, ampun….. ampun……” teriaknya memelas, kuku tangan yang tajam dan dicat merah mencengkram dan melukai kedua lengan kakek tua yang menyetubuhinya. Pak Gap merasakan cairan hangat membasahi kepala kontol yang tertancap di dalam lubang kemaluan, hingga membuatnya kegelikan dan makin bernafsu. Nafsu binatang kakek tua bangka itu sudah tidak terkendali lagi, dia memompa dengan kencang sekali sembari menciumi leher jenjang dan melumati mulut mungil Yenny. Dengan nafsu yang meledak-ledak dan napas yang ngos-ngosan, dia pun berejekulasi dan menyemprotkan air mani berkali-kali di rahim Yenny. Benih sperma yang barusan ditembakkan, mulai berkeliaran di dalam rahim agar bisa menemukan sel telur yang siap dibuahi. Tetapi alangkah sayangnya, Yenny pasti tidak akan membiarkannya tumbuh subur. Gadis cantik itu akan membinasakan benih malang itu dengan pil KB yang ampuh.

Seusai melampiaskan nafsu birahi, Pak gap tidak langsung mencabut batang kontol. Dia membiarkan barang pusakanya berdiam beberapa saat sambil merasakan denyutan otot liang vagina gadis remaja yang baru saja ditaklukkannya.

~~~TAMAT~~~

Pengirim:
AR LUKMAN
lucky88831@gmail.com

17 Responses to “Kisah Ngentot dengan Si Tukang Kebun Pak Gap”

  1. zz

  2. bertobatlah kamu sebelum ajal menjemput? karena siksa neraka amat pedich?

  3. SUBHANALLAH,Dasar SETAN TERKUTUK

  4. hebat benar si tukang kebun,ibu dan anak majikannya dientot, aku juga pingin sich kalau ada cewe yang mau ngentot ama aku pasti aku puasin sampai puas dan mencapai klimaks berkali-kali hub aku di tanbengkiong89@yahoo.com , dijamin puas OK! kutunggu ya, bye…bye…

  5. boleh juga, enakan free sex ya bambangud@yahoo.co.id

  6. tante DEWI LIANAWATI di Kudus meski kau dah umur tapi masih terlihat cantik putih langsing dan sexy bahkan semakin matang dan menggairahkan saja membuat aku ingin menelanjanimu dan menikmati tubuhmu serta tempik cinamu sampai tante menjerit keenakan

  7. wuih gile crtany bkin napsu aj cba low gw yg jd tkang kbunny pzty mak nyus

  8. 085257404477

  9. ah…. ceritanya ngArang

  10. bajingan ,,kalo ngarang ,,yang bener dong,,,,setan belang,babi buntung,setan kurapan,kutu busuk, pantat tanpa dubur,,,,

  11. dikutuk jadi kodok lho entar
    bocah gemblung ^(*^%$^

  12. ah..critanya g asik buangetz
    terlalu banyak rekayasa.

  13. hai setan segeralah insyap karena alllah pasti menyiksa orang yang ska jina

  14. ngeang critanya klo bneran gw juga,,mauu,,,jdi tukang kebonya,,,,,

  15. ngeang critanya klo bneran gw juga,,mauu,,,jdi tukang kebonya,,,,,. ndutz_3498df@yahoo.com/om_bobrastafara@yahoo.com

  16. lumayan ceritanya.

  17. Mau dong di entot pak Gap….
    Ady : panbo20@yahoo.com

Leave a Reply