<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Dewasa Online</title>
	<atom:link href="http://www.ceritadewasaonline.info/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritadewasaonline.info</link>
	<description>Koleksi Cerita Dewasa, Cerita Panas, Cerita Ngentot dan Cerita Seks Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Mar 2010 10:26:45 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Gairah Tetangga Sebelah</title>
		<link>http://www.ceritadewasaonline.info/gairah-tetangga-sebelah.htm</link>
		<comments>http://www.ceritadewasaonline.info/gairah-tetangga-sebelah.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 10:26:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jack Parlente</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[istri tetangga]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritadewasaonline.info/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Aku tinggal di perumahan baru di pinggiran kota P. Sebagian besar tetanggaku keluarga muda. Umurnya berkisar antara 25-35. Hanya satu dua yang berumur di atas 40 tahun. Tetangga sebelah kananku adalah pasangan yang belum mempunyai anak. Katanya, mereka pernah hampir punya anak tapi keguguran. Sementara tetangga sebelah kiri beranak dua, umur 5 tahun dan setahun. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku tinggal di perumahan baru di pinggiran kota P. Sebagian besar tetanggaku keluarga muda. Umurnya berkisar antara 25-35. Hanya satu dua yang berumur di atas 40 tahun. Tetangga sebelah kananku adalah pasangan yang belum mempunyai anak. Katanya, mereka pernah hampir punya anak tapi keguguran. Sementara tetangga sebelah kiri beranak dua, umur 5 tahun dan setahun. Dan, aku sendiri—sebut saja namaku Toni, punya satu anak. Umurku 31 tahun.</p>
<p>Karena sama-sama baru menempati rumah, paling lama 3 tahun, kami belum begitu akrab. Jarang saling bertandang, hanya saling sapa saat bertemu muka. Yang aku ceritakan ini adalah tetangga yang punya dua anak itu. Namanya Tari. Orangnya cukup manis, umur 33 tahun, rambut sebahu, tinggi badan (hanya) 155 cm dan berat—mungkin, 46 Kg. Bodinya bagus meski tidak seperti model atau SPG. Kulitnya kuning langsat, mulus. Dulu, katanya, dia kerja di hotel.</p>
<p>Jantungku kerap deg-degan ketika ia mengenakan daster dengan bawahan di atas lutut. Karena pikiranku agak kotor, sehingga birahiku sedikit naik saat melihatnya. Apalagi saat ia nungging mengambil pakaian untuk dijemur. Bagiku, itu sudah cukup menggairahkan. <span id="more-26"></span><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Pagi itu, istriku berangkat menjenguk keluarganya di luar kota. Jelas, anakku yang masih berusia 1,5 tahun diajak serta. Sementara aku di rumah sendiri karena harus bekerja. Oh ya, sekadar diketahui, aku bekerja sebagai debt collector di perusahaan A.<br />
Jarum jam menunjuk angka 9. Aku sudah memastikan diri tidak masuk kantor. Males, karena banyak tagihan yang belum bisa kuselesaikan. Setelah cuci muka dan membuat kopi serta menyulut rokok kretek, aku menuju depan rumah. Sepi. Mungkin semua sudah pada berangkat kerja.<br />
Untuk mengisi waktu, aku mencabuti rumput depan rumah. Tak berapa lama kemudian, Tari keluar. Ia membawa ember berisi pakaian. Ia mengenakan kaos ketat dan celana pendek bermotif kembang. Aku bisa menikmati pemandangan itu dengan jelas karena rumah kami tidak berbatas tembok.<br />
Sambil terus mencabuti rumput, berkali-kali aku meliriknya. Tampak depan, dadanya yang sedikit membusung—ukurannya sedang, dan perutnya yang rata. Pikiranku menjurus ke daging di selakangannya. Hm, pasti indah.<br />
Tampak belakang, pantatnya lumayan padat. Kenyal berisi. Tak terlihat kalau dia punya dua anak. Mungkin ia rajin merawat, sehingga tubuhnya masih terlihat bagus untuk perempuan seumurannya. Aku yakin dia tahu aku melihatnya tapi kelihatannya dia tidak terlalu risih.<br />
Selesai menjemur pakaian, ia masuk ke rumah. Terdengar anaknya yang kecil menangis, kemudian sekejap kemudian diam. Anaknya yang pertama masih di sekolah. Sedangkan suaminya pasti sudah berangkat bekerja.<br />
Tak berapa lama kemudian, Tari berkata, “Mas minta tolong dong.”<br />
“Iya Mbak, ada apa?”<br />
“Tolong angkatin gallon air ke dispenser.”<br />
Kondisi perumahan tengah sepi. Dengan dipeunhi pikiran kotor, aku masuk ke rumahnya. Sambil melirik Tari, gallon langsung kuangkat dan kutempatkan ke dispenser.<br />
“Makasih ya.”<br />
Sebelum meninggalkan rumah, aku sempat melihat anak kedua Tari tidur terlelap.<br />
“Eh mas, Mbak Indi (istriku) pulang ya?”<br />
“Iya Mbak. Pagi-pagi tadi berangkat.”<br />
Aku males meneruskan mencabuti rumput. Gelas kopi kukemasi dan kubawa masuk ke dalam rumah. Setelah mencopot kaos, aku sandarkan tubuh di kursi ruang tamu. Pikiranku menerawang, menelanjangi tubuh Tari. Seolah-olah aku melihat jelas, tubuh Tari yang mulus, gunung kembar yang kenyal, puting berdiri, vaginanya yang menyembul.<br />
Penisku mengeras. Celanaku sampai sesak. Karena tidak tahan, aku ke kamar mandi, lalu onani—aktivitas yang kulakukan sejak SMA. Tidak butuh waktu lama untuk memuncratkan sperma, karena birahiku memang tengah tinggi-tingginya. Rasanya lega, meski tidak senikmat senggama.<br />
Kembali, kusandarkan tubuh ke kursi. Dalam sekejap, zz, zz, zz. Aku terbangun saat pintu rumah diketuk. Ternyata Tari.<br />
“Mas bisa betulin kipas angin nggak? Ini tiba-tiba macet,” katanya sambil menenteng kipas angin ukuran sedang.<br />
Tari mengenakan daster. Bawahannya hanya di atas lutut sedikit. Meski baru saja onani, aku tetap greng. Apalagi aroma Tari tercium jelas. Rupanya ia baru saja mandi.<br />
“Bisa nggak mas?”<br />
“Eh, iya. Maaf. Saya coba ceknya Mbak.”<br />
Aku ambil obeng dan mencopot bagian-bagian kipas itu di lantai. Tari berdiri di sampingku. Hm, kakinya mulus. Bulu-bulunya yang jarang-jarang itu terlihat jelas. Kata orang, perempuan yang punya bulu kaki birahinya tinggi.<br />
Mataku tak henti-hentinya melirik, sementara tanganku terus bekerja. Setelah kucek, sepertinya tidak ada yang rusak. Dugaanku tidak salah. Saat kutancapkan ke listrik, kipas menyala. Angin berhembus kencang. Daster Tari pun terangkat.<br />
Tari kaget. Ia langsung menutup bawahan dasternya. Sayang terlambat. Aku sudah terlanjur menikmati celana dalamnya yang berwarna merah. Jantungku berdegup.<br />
“Maaf. Tidak sengaja,” kataku tergagap sambil mematikan kipas.<br />
Tangan Tari masih menyilang tepat di bagian selangkangan. Tentu saja, mataku fokus ke bagian itu. kontrolku hilang, cleguk!, aku menelan ludah. Mengetahui itu, Tari tersenyum dan menarik tanganku agar berdiri. Dia membelai dadaku. Bibirnya di dekatkan ke mulutku, tapi sebelum sampai aku sudah menyosornya.<br />
Kesadaranku masih utuh. Kutendang pintu rumah hingga menutup. Lalu sambil terus berciuman dan tanpa berkata-kata, kugeret Tari ke ruang tengah. Dia menurut saja.<br />
Rupanya birahi Tari sangat tinggi. Dia membalas ciumanku dengan lahap. Tangannya juga sudah bergerilya ke selangkanganku. Aku tidak tinggal diam. Kulepas dasternya dan wow! ternyata dia tidak mengenakan bra. Gunung kembarnya mengacung. Putingnya yang berwarna merah kecoklatan, mengeras.<br />
Perlahan dia mendorongku ke kasur tipis di ruang tengah yang biasa kugunakan nonton teve. Tangannya dengan lincah membelai penisku dari luar. Kemudian dia melepaskan celanaku, menyergap penis dengan mulutnya. Tangannya menekan urat di bawah kantong penis. Rasanya nikmat betul. Sepertinya dia tahu betul titik rangsang lelaki.<br />
Beruntung, aku baru saja onani, jadi tidak cepat orgasme. Selesai mengulum penisku, Tari berjongkok, mencium bibirku, dan mengarahkan vaginanya yang masih tertutup celana dalam ke arah penis. Dia mendesah,”Ooohh, aaaahhh.”<br />
Kutarik tubuh Tari dan kutelentangkan. Wow, bodinya masih yahud. Dua gunung kembarnya mengacung, tidak terlalu besar tapi padat berisi. Perutnya rata. Kulitnya mulus. Di beberapa bagian terdapat tahi lalat.<br />
Kucumbui bibirnya, leher, kemudian kulit diantara gunung kembarnya. Ia merem melek, tubuhnya menggelinjang. Kujilati putting sebelah kiri, kuremas gunung kembar sebelah kanannya. Begitu sebaliknya.<br />
“Aaahhh, oooohhh, aahhhh”<br />
Jilatanku kian turun. Pusarnya kusapu dengan lidah. Tangan kananku menggerayangi paha bagian dalamnya, tangan kiriku membelai lembut selangkangannya. Tari berkelejotan sambil terus mendesah.<br />
Tibalah saatnya mulutku beraksi di sembulan daging di selangkangan. Kujilati bagian itu. celana dalamnya basah. Campur antara ludahku dan lender kenikmatan Tari. Rambut vagina yang keluar, kusapu pelan. Belahan daging kutekan-tekan dengan jari.<br />
“Aaahhh, oooohhh, aahhhh, ooughh”<br />
Kutarik celana dalam itu dan terpampanglah sembulan daging yang ditumbuhi rambut-rambut hitam. Cukup lebat tapi bibir vaginanya masih sangat kentara. Indah sekali. Langsung saja kujilati bagian atas vagina itu, klitorisnya. Tari mengangkat pantatnya.<br />
“Aaauhh, terussss.”<br />
Sambil terus menjilati vagina, tanganku meremas-remas payudara Tari. Si empunya hanya bisa melenguh dan menggerak-gerakan tubuh dan pantatnya. Hingga beberapa menit kemudian, sambil mengangkat pantat, paha Tari menjepit kepalaku. “Aaaaaaaahh,” jeritnya. Rupanya dia orgasme untuk kali pertama.<br />
Tangannya mendorong kepalaku agar mundur dari selangkangannya. “Geli,” katanya.<br />
Tari lunglai. Peluhnya keluar, di wajah dan dada. Dia seka peluh di wajahnya. Matanya masih terpejam. Kubiarkan sebentar dia menikmati hal yang baru saja terjadi. Aku usap mulutku yang kena cairan vagina. Baunya khas.<br />
Beberapa menit kemudian, kutindih tubuh Tari. Kucumbui bibirnya, kugesek-gesekkan penisku ke vaginanya. Setelah bibir, kusapu gunung kembarnya bergantian. Tari mendesah, tanda birahinya muncul lagi.<br />
Tangannya mencari-cari penisku. Digenggamnya senjataku, lalu digesek-gesekkan ke klitorisnya. Aku segera ambil posisi berjongkok. Kaki Tari kurenggangkan, penisku kuarahkan ke vaginanya. Dalam sekali tembak, penisku langsung masuk. Vaginanya sudah cukup licin, sehingga dengan mudah, menelusup penuh.<br />
“Aaahhh,” desah Tari.<br />
“Penismu keras sekali. Aaaahhhh,” imbuhnya.<br />
Harus kuakui, senjataku memang tak terlalu panjang. Hanya 15 cm. Diameternya mungkin hanya 5 cm. Tapi sangat keras. Urat-uratnya terlihat jelas. Tidak seperti bintang porno yang panjang tapi agak lembek.<br />
Kudorong penisku lebih ke dalam. Pelan, kemudian keras. Begitu seterusnya. Tubuh Tari bergoncang. Pada setiap hentakan, Tari terus mendesah.<br />
Biasanya, aku hanya kuat 3 menit, dari proses memasukkan hingga memompa. Tapi karena sebelumnya telah onani, aku tidak cepat orgasme. Denyut vagina Tari sungguh terasa. Saat penisku menusuk, terasa ada jepitan.<br />
Aku cukup puas dengan ‘kinerja’ penisku. Tidak cepat panas alias memuntahkan sperma. Kucabut penisku, cairan-cairan kental tampak membasahi. Kuangkat tubuh Tari dan kuminta dia nungging. Belahan vaginanya tampak indah. Pantatnya membulat.<br />
Sekali tusuk, penisku telah tenggelam. Pada posisi ini, hentakan kuperkeras. Tubuhku berbenturan dengan pantatnya yang berisi. Tari merintih. Peluh membasahi punggungnya. Dengan posisi agak menunduk, kuremas-remas gunung kembar Tari yang menggantung.<br />
Cukup lama, kami dalam posisi ini. Aku belum juga orgasme. Malah Tari yang orgasme untuk yang kedua kali. Itu terjadi setelah penisku menusuk rahimnya. Tari melenguh, tangannya memegang erat kasur.<br />
“Ooouugggghhhhh…”<br />
Aku hentikan sodokanku. Serasa ada cairan hangat meleleh di penisku. Tari tertelungkup. Otomatis penis senjataku dari vaginanya. Peluh kami bercucuran.<br />
Tari membalikkan badannya. Terlentang. Hm, menggairahkan. Gunung kembar dan putingnya masih mengacung, Lobang vaginanya memerah. Ada lelehan cairan di sekitar lobang itu.<br />
Aku menjatuhkan badan di samping Tari. Tanganku membelai gunung kembar Tari. Putingnya kupilin-pilin. Setelah puas, kuraba vagina Tari yang licin. Tari menggelinjang. Ia bangkit dan berjongkok menghadapku. Tangannya mengarahkan penisku ke vaginanya.<br />
Blesss, penisku langsung tenggelam. Tari memaju-mundurkan tubuhnya. Kemudian, mengangkat tubuh, dan menghujamkannya. Beberapa detik kemudian, dia menggoyangkan pantatnya. Penisku serasa diputar-putar.<br />
“Aaaaahhh, oooooohhh,” Tari mendesah.<br />
Tampaknya Tari ingin segera membuatku orgamse. Dia bergerak lincah, maju mundur, mengangkat menghunjam, dan menggoyangkan pantatnya. Agar tidak cepat orgasme, aku mengikuti gerakan Tari. Tapi orgasme itu sulit ditahan. Apalagi Tari kian beringas.<br />
“Aaahhh, aku mau keluar,” kataku.<br />
Tari menghentikan sesaat gerakannya. Tangannya menggesek-gesek kiltorisnya. Sepertinya ia ingin orgasme bersama. Tak berapa lama, Tari menggerakan lagi tubuhnya. Ia mendesah, “Aaahhh, aku juga mau keluarrr.”<br />
Aku tak kuat menahan orgasme saat gerakan Tari kian tak beraturan.<br />
“Oooohhhh….”<br />
Tanganku meremas gunung kembar Tari sekuat tenaga. Pantat kunaikkan setinggi-tingginya. Spermaku menyembur beberapa kali. Crot, crot, crot!<br />
“Aaahhhh…..”<br />
Beberapa detik kemudian, Tari juga orgasme. Dia menghunjamkan selangkangannya. Tangannya memegang erat pundakku. Saat ia mengangkat tubuhnya, dari vaginanya keluar cairan. Spermaku dan cairannya. Kami terkulai. Terlentang. Telanjang.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Setelah sedikit merapikan rambut, Tari mengenakan daster dan celana dalamnya.<br />
“Terima kasih.”<br />
“Apanya?”<br />
“Kipasnya.”<br />
“Loh ininya?,” tanyaku sambil memegang penisku yang masih lemas.<br />
Dia tersenyum, lalu berlalu membawa kipas anginnya. Jempolnya diacungkan, entah apa maksudnya.<br />
Tak terasa 25 menit sudah kami bergumul. Aku berniat mengulanginya, tapi hingga kini belum ada kesempatan.</p>
<p>Tamat<br />
Pengirim: Awe<br />
kuadran2000@gmail.com</p>
<h4>Cerita seks lainnya:</h4><ul><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+birahi+denga+pacar+pertama" title="cerita birahi denga pacar pertama">cerita birahi denga pacar pertama</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+gairah" title="cerita gairah">cerita gairah</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+gairah+setengah+baya" title="cerita gairah setengah baya">cerita gairah setengah baya</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+seks+gairah" title="cerita seks gairah">cerita seks gairah</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/membelai+belahan" title="membelai belahan">membelai belahan</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/selangkangan+mbak" title="selangkangan mbak">selangkangan mbak</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.032 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritadewasaonline.info/gairah-tetangga-sebelah.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Ngentot dengan Mertuaku</title>
		<link>http://www.ceritadewasaonline.info/pengalaman-ngentot-dengan-mertuaku.htm</link>
		<comments>http://www.ceritadewasaonline.info/pengalaman-ngentot-dengan-mertuaku.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 04:33:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jack Parlente</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot mertua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritadewasaonline.info/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Meski aku adalah tunangan Riri anaknya, tetapi sejujurnya sedari dahulu aku jauuuuuuuh lebih tertarik dengan Mbak Yayu (selanjutnya aku akan menyebutnya dengan Yayu saja) ibu kandung Riri. Yayu walau berselisih umur 21 tahun dengan anaknya Riri, tetapi bagiku dia nampak jauh lebih cantik dan menggairahkan. Yayu lebih tinggi dari Rini, berbahu lebar, padat berisi dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meski aku adalah tunangan Riri anaknya, tetapi sejujurnya sedari dahulu aku jauuuuuuuh lebih tertarik dengan Mbak Yayu (selanjutnya aku akan menyebutnya dengan Yayu saja) ibu kandung Riri. Yayu walau berselisih umur 21 tahun dengan anaknya Riri, tetapi bagiku dia nampak jauh lebih cantik dan menggairahkan. Yayu lebih tinggi dari Rini, berbahu lebar, padat berisi dan berkulit putih langsat. Jika kalian masih ingat dan pernah melihat langsung wajah Dian Budiargo penyiar TVRI tahun 90-an, maka seperti dialah bodinya. </p>
<p>Semenatara Riri, meski juga ayu, tetapi memiliki bangun tubuh yang tidak semenarik ibunya dan berkulit lebih gelap. Dalam busana apapun Yayu nampak demikian sexy di mataku. Dia kalem tetapi aku tahu benar dalam kekalemannya tersimpan magma yang akan menenggelamkan setiap lelaki dalam gairah cinta luar biasa. Naluriku sebagai lelaki mengatakan dia adalah seniman ranjang yang pintar menyembunyikan bakatnya. Tentu saja bila kita mampu membangkitkan gairah tersembunyinya, maka dia merupakan partner bercinta yang akan membuat kita senantiasa rindu untuk bergumul dengannya…..Ooooooh. </p>
<p>Mbak Yayuku itu memang kawin muda, menurut kakak-kakakku, dahulu dia kawin di umurnya yang masih remaja karena keburu hamil sebelum menyelesaikan SMA nya, jadi sebenarnya meskipun dia sudah punya anak dara seumur 21 tahun tetapi umurnya masih belum bisa dibilang tua. Baru jalan 37 usia matang untuk bisa melakukan semua aktivitas sex secara sempurna. Oh iya, aku tidak heran bila bapak Riri yang kini adalah pegawai sebuah instansi pemerintah, dahulu tidak tahan untuk mencicipi pacarnya hingga hamil. Tidak bisa membayangkan seperti apa menariknya Yayu saat itu. Jika aku pada posisi bapaknyapun aku yakin aku akan melakukan hal serupa, tidak peduli aku harus kawin muda karena perbuatan tersebut. <span id="more-24"></span></p>
<p>Yayu memang bersahabat dekat dengan kakak perempuanku nomor 2 aku sendiri adik nomor enamnya, dan entah bagaimana ceritanya diam-diam aku dijodohkan dengan Riri anaknya yang  kalem dan terkenal tidak macam-macam. Rupanya Riri tidak menolak sama sekali saat dijodohkan denganku, maklumlah menurut kawan-kawan wajahku memang dari jenis yang digandrungi wanita, justru aku yang awalnya menolak karena aku tidak terlalu tertarik dengannya tetapi justru jauh lebih tertarik kepada ibunya. Tetapi akhirnya aku nurut juga karena kupikir ini kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan mBak Yayu, eh Yayu maksudnya.</p>
<p>Aku aktivis sekolah dan lingkungan. Begitupun Yayu, saat kuliah aku aktif juga di organisasi kepemudaan tempat tinggalku, aku menjabat sebagai ketua seksi kepemudaan, sendang Yayu menjabat sebagai ketua seksi kewanitaan. Aktifitas LKMD desa kami tergolong tinggi sehingga sering kali kami harus mengadakan rapat-rapat sehubungan dengan aktifitas-2 tersebut. Disetiap rapat aku selalu mengambil tempat duduk disebelahnya. Untuk menikmati suaranya yang merdu, betisnya yang sangat indah dan tentu saja menikmati getaran rasa cinta (dan nafsu juga) yang menggejolak setiap kali dekat dengannya. Berangkat dan pulang rapat aku yang menjemput dan mengantarkannya , orang melihatnya sebagai suatu kewajaran karena aku adalah tunangan putrinya. Mereka sama sekali tidak mengerti bahwa sesungguhnya aku jauh lebih menikmati suasana saat memboncengkan Yayu daripada Riri anaknya…….. Aku mengindap oudipus kompleks ? Nggak juga. Aku hanya merasa semua sisi sensual wanita yang kuinginkan terdapat pada dirinya. Sungguh jika dia janda, aku lebih suka melamarnya meski dia 12 tahun lebih tua dariku. Namun apalah daya……… dia masih menjadi istri syah Mas Broto sepupu sangat jauhku. Dan kini aku bahkan tunangan anaknya.</p>
<p>Setelah aku selesai kuliah dan usahaku yang kurintis sejak aku SMA mulai menampakkan hasil, aku dan Riri menikah. Sepanjang prosesi pernikahan yang dilakukan dengan adat Jawa, tidak henti-hentinya aku melirik mertuaku yang malam itu nampak demikian ayu dan menawan dalam balutan busana Jawanya. Pinggangnya ramping, wajahnya begitu segar berseri, pantatnya indah dibalut kain batik nan ketat. Ketika jalan perlahan seluruh gerakan tubuhnya laksana tarian erotis tingkat tinggi yang mampu menggoda birahi siapapun. Aku membayangkan betapa seharusnya dialah mempelaiku malam ini bukan Riri anaknya. Aku sungguh cemburu melihat dia berjalan dalam gandengan suaminya yang adalah mertua lelakiku sendiri.</p>
<p>Mungkin karena obsesi nafsu yang terpendam sehingga malam pertamaku aku memperlakukan istriku yang masih perawan ting-ting begitu buasnya. Aku menggaulinya dengan kasar sambil membayangkan betapa yang kugauli adalah Yayu ibunya. Riri menjerit-jerit kesakitan saat aku menggenjot vaginanya dengan penisku yang keras dan berukuran di atas rata-rata nyaris tanpa pemanasan sama sekali. Entah berapa kali dalam semalam aku menggaulinya laksana seekor kambing jantan yang birahi.</p>
<p>Aku ingat benar, pagi-pagi  ketika Riri bangun ia kesakitan saat harus berjalan turun dari ranjang pengantin kami. Vaginanya bengkak dan beberapa bercak darah mengering di sela-sela selangkangannya. Wajahnya pucat. Rambutnya kusut. Malam pertama yang menyakitkannya mungkin.</p>
<p>‘Iiiiih, kamu kalem tetapi ternyata buas……’ kata istriku pagi harinya sambil menahan sakit di selangkangannya.</p>
<p>‘Yah, itulah adanya aku……’</p>
<p>Berturut turut selama empat malam sesudah itu, dia enggan dan takut melayaniku karena baginya mungkin berhubungan seks adalah sesuatu yang menyakitkan. Aku bisa menggauli lagi istriku setelah secara diam-diam mencampurkan obat perangsang pada minumannya. Tentu saja kali ini aku melakukannya dengan lebih hati-hati karena takut istriku kesakitan akibat sodokanku yang liar dan ganas karena nafsu terpendamku. Tapi tentu saja aku melakukannya sambil membayangkan bahwa perempuan yang kucumbu dan kugauli adalah Yayu, mertuaku yang ayu menawan. Hubungan seks kami yang malam itu lebih kalem membuat istriku menikmatinya. Terbukti setelah malamnya aku menggauli dia tiga kali pagi-paginya dia mau lagi melayani nafsuku yang serasa tidak pernah mau terpuaskan itu. Dan dia menikmati cumbuan-cumbuan liar dan erotisku. Riri tidak henti-henti mengagumi ‘rudalku’ yang memang besar, panjang dan amat keras saat sistim hidroliknya bekerja.</p>
<p>Selama sebulan aku tinggal di rumah mertuaku membuatku lebih sering berdekatan dengan Yayu. Aku sengaja sering membelikan segala sesuatu sama dengan apa yang kuberikan kepada Riri istriku. Aku mengatakan kepada Riri bahwa itu semata-mata tanda hormat dan sayangku kepada sang ibu. Tentu saja Riri yang lugu tidak tahu bahwa pemberianku tersebut adalah ada udang di balik batunya. Pembaca, Yayu sungguh nampak semakin menawan saat dia menggunakan daster warna warni, tubuhnya yang tinggi padat semampai, dadanya yang masih kencang dan kulitnya kuning langsat sungguh-sungguh membuatku merasa demikian terpesona secara seksual, aku ingin menciumnya dari ujung kaki hingga ubun-ubunnya. Ingin kenikmati setiap inci pesona seksualnya dengan segenap kemampuan erotis romantisku. Tapi tentu saja aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan segala gelora asmaraku yang kian menggelegak terhadapnya. Sebuah perjuangan yang berat tentunya.</p>
<p>Saat kami harus pindah ke rumah kami sendiri yang telah kubangun sebelum kami menikah aku menghadiahi mertuaku dengan seperangkat alat kebugaran berikut instruktur yang kusewa beberapa bulan  mengajari kedua mertuaku menggunakan alat tersebut untuk kebugaran dirinya. Tentu saja semua ini dengan maksud terselubungku agar tubuh sexy dan indah mertuaku bertahan lebih lama dan aku kelak akan berkesempatan ‘memetiknya’. Meski sampai saat ini aku tidak tahu bagaimana harus memulainya untuk melakukan hubungan lebih intim dengan mertuaku tersebut.</p>
<p>Mungkin karena serangan-seranganku yang ganas dan kami berdua memang subur sehingga menginjak bulan ketiga Riri telat dan setelah kami periksakan ke dokter ternyata dia mengandung…..Celakanya setelah ketahuan mengandung Riri tidak mau melayaniku sama sekali karena takut kandungannya terganggu…..Berabe sekali karena hasrat seksualku sangat menggebu-gebu.</p>
<p>Karena bulan-bulan awal kandungannya dia terus mual-mual dan muntah-muntah akhirnya dia minta untuk tidak membantuku di toko bangunan yang kami kelola. Tentu saja ini menjadi entry poin yang bagus untuk berdekatan dengan mertuaku hanya berdua saja secara lebih intens, karena Riri mengusulkan agar ibunya yang memang cerdas membantu mengurus toko. Pendek kata mulai hari itu setiap hari kami mempunyai kesempatan untuk berdua sepanjang hari, bercanda dan makan siang serta sarapan bersama. Aku mencoba membuang batas dengannya. Langkah maju segera kudapat  sejak hari pertama dia membantu di tokoku aku minta diijinkan untuk tidak memanggilnya ibu  tetapi dengan sebutan hanya embak saja seperti dahulu. Dia mau dengan syarat itu dilakukan hanya bila kami berdua saja. KArena takut anggapan yang enggak-enggak. Tentu saja aku setuju dan aku merasa yakin bahwa Yayu yang cantik dan kalem dan terkenal setia ini bisa untuk diajak masuk lebih dalam kedalam affair yang sudah ingin segera kubangun. Dari cara memandangya kepadaku pun sebenarnya aku mulai menangkap kesan bahwa dia suka ke aku tidak pada porsi sbg ibu mertua ke anak menantunya tetapi lebih seperti wanita dewasa ke pria dewasa…….</p>
<p>Pintu mulai lebih terbuka ketika hari Sabtu itu datang ke toko dengan mengenakan span yang ketat dan sedikit di atas lutut. Aku terpesona kepada kakinya yang jenjang mulus dan indah terlihat lebih menawan.</p>
<p>“mBak cantik sekali hari ini………..” Kataku spontan<br />
“Ah kamu bisa saja….Aku sudah hampir empat puluh. Sudah tua…..” Katanya sambil tersipu sementara wajahnya merah menahan malu dan bangga.<br />
“Tidak kok. Mbak nampak indah cemerlang hari ini……” Kataku mengumbar rayuan gombal yang jujur. Yayu hanya tersenyum kemudian mencubitku. Aku sungguh melayang ke langit saat cubitan manjanya mengenai tanganku.</p>
<p>Mungkin karena kegembiraan kami sehingga toko kami demikian laris hari itu. Sepanjang melayani pelanggan kami terus bercakap dan bercanda, hingga tiba makan siang saat dia mengambil posisi duduk aku benar-benar terpana melihat paha indah mulusnya didepanku. Aku terus memandanginya sampai dia tersadar bahwa pahanya yang indah menjadi santapan lezat mataku.</p>
<p>‘Adi, jangan memandangi mbak seperti itu ah……..’<br />
‘Maaf mbak, tapi itu indah sekali……….Sangat indah mbak, jauh lebih indah dari Riri’ Kataku tanpa pikir panjang dan membuat Mbak Yayu benar-benar tersipu dan melongo beberapa saat. Sejak saat itu, sepanjang saat makan aku terus berusaha menatap ke arah pahanya tanpa canggung aku sengaja memprovokasi birahinya, sehingga benar-benar membuatnya nampak serba salah. Kupikir inilah serangan pendahuluan yang sudah harus kumulai. Kami tidak bercakap sedikitpun, dia nampak begitu kikuk. Tetapi tidak nampak marah. Syukurlah. Berarti hari ini bisa jadi semua obsesi terpendamku untuk menyerahkan segala yang kumiliki kepadanya bisa terpenuhi….</p>
<p>Seperti biasa di hari Sabtu toko hanya buka sampai jam dua siang. Aku telah bilang ke Riri, Mertua Lelakiku, juga Yayu sebelumnya bahwa meski toko tutup dan karyawan pulang aku dan Yayu akan meneruskan kerja sampai agak malam untuk melakukan stock opname barang dagangan kami.  Ketika toko sudah sepi Yayu nampak menjadi semakin kikuk karena aku terus melahap dengan mataku keindahan tubuhnya.</p>
<p>‘Terus apa yang harus kulakukan untuk bantu pekerjaanmu?’ Tanyanya setelah kami duduk di sofa kantor toko kami yang terletak dibelakang toko kami. Aku sengaja tidak menjawab dan terus memandangnya dengan mesra dan membuatnya benar-benar salah tingkah. Ternyata mertuaku memang cantik memesona…….</p>
<p>‘Ditanya kok malah senyum-senyum sih Di……..’</p>
<p>‘Siapa yang mau stok opname?’<br />
‘Terus……..?’<br />
‘Saya hanya mau berduaan dengan kamu kok Yu……’<br />
Yayu nampak kaget dengan keterusteranganku, apalagi aku menyebut dia tidak lagi dengan embel-embel mbak apalagi bu di depan namanya ’ Maaf aku tadi tidak bisa menahan diri saat melihat pahamu yang sudah sejak lama kukagumi kelihatan saat rokmu tersingkap…….Itu pemandangan paling menggetarkan gairahku.’</p>
<p>Aku menghentikan kalimat rayuanku. Sekedar ingin melihat reaksinya. Dia nampak demikian kaget, tetapi tidak menunjukan sama sekali tanda-tanda kemarahan. Burungku serta merta mulai bereaksi menegang, minta jatah yang sudah lama ingin dinikmatinya. Sementara aku sudah bertekad apapun yang terjadi aku harus bisa menuntaskan gairah nafsuku terhadap Yayu mulai hari ini. Apapun yang terjadi. Syukurlah nampaknya semuanya berjalan lebih mudah dari yang sebelumnya kubayangkan. Kini bahkan dia sama sekali tidak berani melawan tatapan mataku, seperti perawan yang baru pertama kali menerima pernyataan cinta seorang lelaki sementara dia sendiri sudah lama menantikan peristiwa itu. Nampaknya aku tidak perlu memperkosa mertuaku yang ayu ini, hanya aku masih harus tetap berhati-hati.</p>
<p>‘Sejak mengerti kehamilannya Riri sama sekali tidak mau melayaniku karena takut. Itulah mungkin yang membuatku tidak bisa menahan diri tadi.’</p>
<p>‘Nggak papa aku bisa maklum…..aku hanya kaget saja.’ Yayu, mertuaku nan jelita itu menjawabku dengan pelan dan wajah tertunduk.</p>
<p>Aku berpindah duduk mepet mendekatinya, desiran jantungku tidak karuan, kulihat dia juga mengalami perasaan galau serupa.</p>
<p>Aku mencoba meraih jemari runcingnya yang indah, awalnya dia menolak tanganku. Tetapi aku tidak menyerah, aku tahu benar penolakan ini sebenarnya bukan penolakan yang ikhlas. Di usahaku yang ketiga jemari indahnya telah pasrah berada dalam genggamanku, perasaan bahagia mengguyur sekujur tubuhku.</p>
<p>‘Kamu tahu dari dahulu aku sudah kagum dan mencintaimu, tetapi tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Kamu tahu nggak dari dahulu aku selalu duduk di dekatmu dan berusaha mengantarkanmu kemanapun kamu pergi. Itu semua bukan untuk Riri, tetapi untuk kamu sendiri…..sungguh.’</p>
<p>Yayu sendu menatapku, aku balas menatapnya. Kulihat ada genangan basah di kedua ujung matanya.</p>
<p>‘Aku juga diam-diam sayang kamu dari dulu Ad. Tapi aku merasa itu bukan perasaan yang wajar karena aku jauh lebih tua darimu dan juga sudah berkeluarga.’</p>
<p>Katanya pelan sekali nyaris tidak kedengaran, aku sungguh kaget dengan pernyataannya. Mengapa tidak sedari dahulu aku tahu ? Menyadari keadaannya secara refleks aku melingkarkan tanganku ke bahunya ia tidak menolak. Aku dekap bahunya dari samping dengan mesra, dia menangis.</p>
<p>‘Mengapa dari dahulu aku tidak tahu Yu ? Mengapa kamu sembunyikan ?’<br />
‘Aku merasa tidak pantas. Kamu tahu setiap kali berdekatan denganmu akupun merasa bahagia, hatiku berdesir, apalagi bila aku duduk di boncenganmu aku selalu berusaha keras agar tidak memelukmu. Aku malu.’</p>
<p>‘Aku juga menyayangimu dari dulu, aku ingin punya anak denganmu.’</p>
<p>‘Bagaimana caranya ? Aku mertuamu sekarang.’</p>
<p>‘Memang kenapa ? ‘</p>
<p>‘Kita memiliki kesempatan terbuka untuk menuntaskan segala hasrat mulai sekarang kan Yu. Kita tahu hati kita masing-2. Terserah kamu saja. Aku siap jadi suami keduamu…….’ Kulihat Yayu tersenyum, aku tahu itu senyum bahagia.</p>
<p>‘Selain dengan bapaknya Riri, aku belum pernah menjadi kekasih siapapun. Tetapi meski ini gila, rasanya aku tidak bisa menolak bila kamu memintaku menjadi madu dari anak kandungku sendiri Riri….Aku sayang kamu Ad.’ Dia mengatakan itu dengan mantap, matanya memancarkan gairah cinta dan birahi yang meluap.</p>
<p>‘Yayu, maukah kamu menjadi istri keduaku?’</p>
<p>Yayu mengangguk mantap, aku segera merengkuhnya kulumat bibir indah mertuaku yang seksi itu dengan segenap kerinduan dan nafsu yang membara, dia membalas dengan tidak kalah serunya. Kami saling memagut, mencipok, lidah kami saling memilin suara keceplak-keceplok dan desah gairah kami terdengar begitu jelas di meja kerja. Rudalku sudah menegang sempurna layaknya moncong meriam yang siap menembus sasaran.</p>
<p>Aku berpindah ke arah depan posisi Yayu, semua agar lebih mudah untuk saling memagut dan berpelukan. Aku dekap mertuaku lebih erat, kupagut bibirnya lebih dalam, ia mendesah, menggelayut pasrah.</p>
<p>‘Aku selalu membayangkan saat seperti ini’ katanya diantara desahannya.</p>
<p>‘Aku juga…..Yu, aku kepengin segera menyemprotkan benihku di rahimu.’</p>
<p>‘Lakukan saja Adi sayang, aku milikmu sekarang.’</p>
<p>Setelah puas dengan pagutan demi pagutan yang luar biasa panasnya, aku kemudian mulai menyerang leher jenjang dan daerah di sekitar telinganya. Yayu mendesah – desah tidak karuan, kurasakan dadanya yang montok semakin mengeras, padahal aku sengaja belum melakukan ‘tindakan’ apa – apa terhadap daerah itu. Setelah beberapa lama kemudian aku melepaskan pelukanku. Segera kulepas celana dan bajuku. Aku sedikit terkejut juga saat mertuaku Yayu juga melepas rok dan celananya, tetapi saat dia mau melepas BHnya aku melarang, aku ingin melakukannya sendiri dia setuju.</p>
<p>Sejurus kemudian aku sudah melumat seluruh daerah lehernya tanganku melepas kait behanya dan kemudian kulucuti, buah dadanya besar indah dan proposional menyembul bebas membangkitkan birahi. Dengan sangat lembut aku membelainya, ia mendesah merem melek. Hanya beberapa saat aku sudah tidak lagi bisa menahan diri, kucocor dengan buas buah dadanya yang indah itu di bagian sebelah kiri, ia menjerit menahan kenikmatan. Tangan kiriku dengan ganas meremas buah dada yang satunya sementara tangan kananku bergerilya kearah pangkal pahanya. Aku menyentuh bulu-bulu vagina yang subur, penisku semakin tegang. Tangannya mulai menggerayangi tubuhku juga, satu diantaranya menyusup kedalam celana dalamku. Saat tangannya menggapai senjataku dia terpekik, dan aku serta merta melapaskannya dan menghentikan cumbuanku.</p>
<p>‘Ada apa ?’ Kataku gemas.</p>
<p>‘Barangmu besar sekali…..’</p>
<p>Aku segera melepas satu-satunya pakaian yang masih menempel di tubuhku. Batang meriamku serta merta berdiri tegak dengan gagahnya. Yayu terpana, kubimbing tangannya untk kembali mengelus burungku yang kini berdiri bebas. Saat tanganya yang halus dan jemarinya yang runcing menyentuh kelaminku aku merasakan sensasi luar biasa. Sementara pemandangan nampak begitu kontras, karena meski aku sebagai orang Jawa memiliki kulit putih tetapi rudalku berwarna coklat kehitaman dan nampak gagah. Saat ini rudal tersebut berada dalam genggangam jemari Yayu yang runcing indah dan kuning langsat, kontolku berdenyut-denyut dan mertuaku nampak begitu bahagia dan senang dapat mengelus burungku yang ternyata sudah lama dia rindukan juga.</p>
<p>Menyadari sempitnya sofa kantor aku segera membopong tubuh indah nan sexy mertuaku ke kamar istirahat yang berseprei harum dan berkasur empuk, saat kubopong tangannya masih menggenggam kontolku dengan mesra. Seakan tidak ingin melepasnya lagi.</p>
<p>‘Jangan kuatir itu milikmu seutuhnya hari ini….’</p>
<p>Ia tersenyum manja dan mencium pipiku, aku membalasnya dengan ganas ke bibirnya yang indah sekali itu.</p>
<p>Aku merebahkan dia dengan hati hati kemudian aku melucuti celana dalamnya, aku benar-benar terpesona dengan keindahan tubuh mertuaku, pangkal vaginanya pun putih mulus dengan rambut hitam legam dipinggir, vaginanya nampak terawat dan kencang, burungku meronta tidak karuan saat melihat sarang terbaik yang dirindukannya terpampang di depan mata……</p>
<p>Aku elus paha mulusnya dengan serta merta dia bangkit dari posisi berbaring, melumat bibirku meremas kontolku dan menarikku rebah di tubuh bagian atasnya, aku terjatuh diatas payudaranya yang kenyal lalu memekik manja, lirih,</p>
<p>‘Kamu telah membuat aku orgasme sementara kamu belum apa-apakan sama sekali daerah vitalku…..’</p>
<p>Aku tersenyum,</p>
<p>Kuremas buah dadanya kulumat bibirnya, dia membalas, tangannya lembut mengocok burungku. Oooooooohhhhhhhhhhhhhhhhhh……………..begitu nikmat rasanya.</p>
<p>Aku dekap lebih erat dirinya, tanganku meraih vaginanya, dengan lembut kuelus elus dan ternyata cairan kental telah banyak terkumpul di sana. Aku menurunkan seranganku ke daerah seputar pusar, kujilat dan ku gigit pelan daerah itu dia menjerit lirih. Sementara itu aroma vaginanya begitu merangsang, aku segera turun dan kuciumi vagina yang dulu menjadi jalan keluar Riri istriku saat pertama kali muncul di dunia fana ini, aku buka pahanya, vaginanya begitu wangi dan merah, sementara epitelnya telah luber, dengan rakus aku sedot cairan itu, aku emut klitorisnya kasar, dia berteriak dan menggelinjang-gelinjang, lidahku menyusup masuk lebih dalam, dia menggeliat kasar tangannya mencengkeram kepalaku, pahanya mengapit kepalaku, terasa sesak tetapi aku berusaha terus merasangnya, aku terlalu paham bahwa mertuaku kini tengah dipuncak birahi dan mendekati orgasme. Tidak berapa lama kamudian dia berteriak kencang dan seluruh tubuhnya bergetar hebat, cairan hangat menyembur dari vaginanya, dengan rakus aku menjilati memek kekasihku menghabiskan semua lendirnya. Sementara secara perlahan nafas memburu mertuaku mulai mengendur. Jepitannya pun mengendur juga, tetapi burungku tentu saja masih tegak berdiri.</p>
<p>Sisa-sisa epitel dan semburan mani kewanitaanya aku jilat sampai tandas. Lidahku menyusuri dinding vaginanya, dia melenguh dan menggelinjang lagi.</p>
<p>‘Adi oooooooooooh……… kamu benar-benar menantu, kekasih dan suami gelapku yang nakal’ katanya.</p>
<p>Aku bangga juga dengan ‘gelar’ yang diberikannya kepadaku.</p>
<p>Seranganku tidak mengendur, semakin ganas, sembari lidahku melumat habis kewanitaannya, tanganku masih rajin dan makin rajin meremas payudara montoknya. Kontolku terasa begitu tegang hingga agak sakit. Tetapi aku berusaha untuk bersabar, aku sungguh-sungguh ingin membahagiakan kekasihku ini dan berharap bisa membuatnya benar-benar mendapatkan sensasi seks maksimal. Sebuah seri orgasme yang mungkin saja belum pernah dia dapatkan seumur hidupnya.</p>
<p>‘Adi oooooh, kamu apakan lagi aku? Aku sudah dua kali mencapai puncak….aku lemas’</p>
<p>Kuhentikan sebentar aktivitasku di selangkangannya.</p>
<p>Aku melumat bibirnya, ia membalasnya dengan amat mesra bibirnya terpejam.</p>
<p>‘Aku ingin mengajakmu ke puncak berkali-kali…..aku ingin mengajakmu ke puncak surga dunia.’</p>
<p>‘Kamu tahu sayang, baru kali ini aku bisa orgasme dua kali sementara burungmu sama sekali belum menyentuh kewanitaanku……… ‘</p>
<p>‘Kamu sudah tidak sabar….?’</p>
<p>Yayu mengangguk manja; “Tapi jangan sekarang aku sudah tidak sanggup……”</p>
<p>‘Kamu akan segera mendapatkanya dan akan ada cukup tenaga untuk menikmati puncak kenikmatan bersamaku……’</p>
<p>Segera kulumat bibir mertuaku, ia membalasnya dengan begitu antusias, tanganku meremas-remas payudaranya yang kini sudah kembali mengeras. Kemudian kuciumi leher putih, halus dan jenjang, keteknya yang bersih tak luput dari serangan bibir dan kumisku. Saat aku menyerang keteknya yang wangi dia terpekik kaget, kemudian meronta. Kini aku tahu rupanya ketiaknya merupakan titik lemahnya. Aku meningkatkan intensitas seranganku, ia menggelepar gelepar meremas-remas kepalaku dan tangannya meraih penisku, kemudian dikocoknya penisku dengan keras dan cepat. Aku raba vaginanya basah sekali. Kini aku tidak lagi bisa menahan diri, birahiku sampai kepuncak.</p>
<p>Sebentar aku cium vaginanya yang sudah sangat basah, dia mengerang.</p>
<p>Segera saja aku tindih penuh dia yang pasrah, burungku yang laksana meriam itu kemudian kuarahkan ke liang rahimnya.</p>
<p>Menyadari aku mulai mengarahkan senjataku untuk ‘penyelesaian akhir’ ia menutup mata dan menggigit bibir.</p>
<p>Melihat mimiknya yang demikian ekspresif aku kepengin mengekploitasinya lebih. Rudalku kuhentikan hanya di bibir kelaminnya, aku kemudian melumat bibirnya, tanpa sadar dia melayani pagutan ganasku. Sejurus kemudian dia menghentikan. Menarik wajahnya sedikit menjauh dan cemberut;</p>
<p>‘Teganya sih kamu mempermainkan birahiku…… aku dan gak tahaaaaan Di’ Katanya merintih.</p>
<p>Inilah saatnya aku menyerang dengan serangan paling mengesankan. Segera kutusukan senjataku dengan intensitas agak tinggi, dia terpekik….</p>
<p>‘Adiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…………….. besar dan keras sekali sayaaaaang’</p>
<p>Ketika mencapai setengah dari seluruh panjang senjataku aku berhenti. Yayu nampak begitu kesakitan. Aku melumat bibirnya dengan halus, ia membalasnya dengan desahan penuh birahi.</p>
<p>Senjataku kutarik sedikit, dia meringis, matanya terpejam.</p>
<p>Kembali kutekan senjataku masuk ke liang rahimnya lebih dalam, ada jerit lirih tertahan.<br />
Tetapi kini sudah liang kemaluannya sudah lebih licin, penetrasiku tidak kuhentikan. Aku semakin menghujamkan meriamku lebih dalam…..Dia menggelinjang dan mendesah, ketika semua sudah tertanam penuh dan rambut kemaluan kami sudah saling berhimpit. Kurasakan denyut-denyut kenikmatan merata menekan rudalku dari seluruh bagian vaginanya yang kini nampak kewelahan menampung rudalku yang hitam besar dan memiliki ujung helm yang besar juga (menurut teman-temanku besar helm dan rudalku di atas rata-2).</p>
<p>Aku menghentikan penetrasiku, memberi kesempatan agar vaginanya melakukan adaptasi dengan rudalku.</p>
<p>Yayu masih terpejam, tangannya erat mencengkeram sprei,</p>
<p>Vaginanya terasa berdenyut,</p>
<p>Aku merenggangkan dekapanku, sementara seluruh berat badan ku pindah ke bagian bawah tubuhku, sehingga tanpa sadar sisa batang rudalku tertekan masuk seluruhnya kedalam kelamin Yayu…..ia menjerit lirih. Sungguh jeritan yang mengundang birahi. Rudalku kian menegang.</p>
<p>Aku tatap seluruh wajah Yayu, dalam puncak birahinya dia nampak jauh lebih cantik. Tubuhnya nan polos indah kini sempurna dalam penguasaanku. Aku lumat bibirnya perlahan, matanya masih terpejam. Dia meraih kepalaku, membalas dengan lumatan yang halus mesra…..</p>
<p>‘Di aku menyayangimu………….’ Katanya bergetar.</p>
<p>‘Aku juga Yu…… Kamu istriku kini.’</p>
<p>Dia membuka mata, tersenyum maniiiiiiiiiiiiiiiisssssssssssssss sekali, membelai rambutku, aku balas menatap matanya dengan senyum tulusku, kamu bersitatap dengan dalam. Dia menyerahkan jiwa raganya ke aku, akupun demikian.</p>
<p>Pelan kami saling mendekatkan wajah, matanya tertutup, bulu-bulu matanya nampak demikian indah, kulumat bibirnya penuh khidmat, dia juga melakukan hal serupa. Tidak berapa lama kemudian ciuman kami menjadi semakin liar. Dia menggoyangkan pinggul, pelan tetapi penuh tenaga, erotis. Aku baru sadar bahwa penisku masih menancap penuh di vaginanya. Kurasakan kini vaginanya sudah lebih basah, apalagi kini kedutan-kedutanya ssemakin terasa saat dia menggoyangkan pinggul. Aku mengimbanginya dengan cara serupa, pompaan yang lembut ritmis.</p>
<p>Yayu merintih erotis menahan nikmat, ia memelukku erat, dadaku menekan penuh payudara yang kukagumi. Sementara pinggul kami bekerja sama memompa semua kenikmatan mulut kami tidak henti saling pagut. Goyangan dan pagutan kami semakin liar. Dan liar……</p>
<p>Yayu mendesah. Merintih. Mengerang penuh nikmat.</p>
<p>Akupun demikian.</p>
<p>Kami saling mendekap, menggoyang, mendesah kian liar……</p>
<p>Kumisku kuarahkan menyentuh ketiaknya yang harum,</p>
<p>Ia merintih penuh birahi, aku menaikan turunkan pantatku dengan syahdu</p>
<p>Ia membalasnya dengan goyangannya yang aduhai.</p>
<p>Ia menggigit leherku, aku menyapu seluruh leher jenjangnya penuh sentuhan birahi.</p>
<p>Yayu merintih-rintih seolah mengatakan betapa persenggamaan ini begitu indah dan nikmatnya.</p>
<p>Pelan-pelan kurasakan ritme goyangannya menjadi sedikit liar.</p>
<p>Makin liar……</p>
<p>Mendesah, kami mendesah, kami saling mendekap, payudaranya mengencang, rintihannya begitu merangsang hasratku. Aku mengocok kian kencang.<br />
Hingga kemudian dia mencengkeram rambutku, aku tahu dia akan kembali orgasme aku naikan intensitas kocokanku.</p>
<p>Yayu memekik hebat mengejang dan berkelojotan…………..</p>
<p>Kami berpelukan sangat erat, butir-butir keringat memenuhi wajahnya. Kurasakan vaginanya berdenyut ritmis seperti mengurut penisku, aku sudah merasakan nikmatnya orgasme jiwa, tetapi secara fisik aku belum orgasme. Mungkin karena aku begitu intensnya menikmati persenggamaan ini. Penisku masih perkasa menancap di selangangkangannya yang kini masih kurasakan berdenyut-denyut ritmis dan membuatku merasa melayang entah kemana.</p>
<p>Yayu masih memejamkan mata, aku tahu dari ekspresinya dia telah terpuaskan oleh persenggamaan ini. Aku menciumi kening dan pipinya, kusibak rambutnya yang kini basah oleh keringat birahi kami. Ia membuka mata, lalu tersenyum, dengan manja dia memeluk lebih erat aku, mengecup lembut dua pipiku. Aku tidak ingat dia mertua perempuanku, dia pun mungkin lupa bahwa aku suami anaknya.</p>
<p>‘Terima kasih……’ Katanya dengan mata sayu, sayu yang sendu.</p>
<p>Aku hanya membalasnya dengan senyum, ia meminta ruang, lalu pandangannya mengarah kebawah, ke selangkangan kami.</p>
<p>‘Kamuuuuuu……..’ Katanya dengan setengah tidak percaya.</p>
<p>‘Aku masih mampu mengajakmu ke puncak tertinggi lainnya……’ Kataku berbisik sambil kucium bawah telinga kekasihku.</p>
<p>Ia mencubit punggungku dengan mesra, aku melumat lehernya yang berkilat karena keringat.</p>
<p>‘Bawlah aku ke mana saja, tepi beri aku sepuluh menit untuk beristirahat….’</p>
<p>Aku tidak memperdulikannya, aku balik badannya, rudalku masih menancap jantang di selangakangannya. Dia kemudian mengambil posisi menungging, aku baru menyadari dalam posisi ini dia nampak begitu sexy sempurna. Pinggangya kencang karena terlatih, lalu pantatnya bulat kencang juga, sedikit mengkilat karena keringat kami.</p>
<p>‘Kamu begitu cantik dan sexy saat dalam posisi ini sayang…..’ Kataku, ia berpaling memandangku mesra, lalu tersenyum.</p>
<p>‘Ambilah diriku…..puaskanlah dirimu…… Aku siap menampung benihmu, taburkan saja….’ Katanya kemudian, aku sosor bibir indahnya, hanya sebentar kucium punggungnya kuremas kasar payudaranya. Ia menjerit mendesah, mencoba meraih tanganku. Aku tahu kini dia mulai terangsang lagi. Aku mulai menggenjot lagi pantatku, betapa halus bokong mulusnya, membuat nafsuku melejit tidak terhalangi.</p>
<p>Genjotanku makin keras, dia mendesis menahan nikmat.</p>
<p>Aku remas buah dadanya, kupilin lembut ujungnya dia menjerit lirih. Goyangan pantatnya menggila. Nafsukupun meluap…….aku menggenjot demikian keras hingga dia terguncang-gunjang, gerakan punggungnya sungguh sexy, membangkitkan gairah.</p>
<p>Aku terus menggenjotnya liar.</p>
<p>Kami mendesis, mendesah, menikmati puncak birahi kami.</p>
<p>Suara keclak, keclok terus terdengar seiring dengan keluar masuknya zakarku ke vaginanya, aku lihat tetes demi tetes epitel turun deras dari lubang vaginanya yang kini mekar sempurna karena sodokan zakarku. Aku semakin bersemangat menggenjotnya.</p>
<p>Kini mulai terasa terkumpulnya sperma dan maniku di bawah perutku dan mulai merambat inci demi inci ke dalam saluran zakarku, rasanya luar biasa nikmat apalagi menyadari bahwa segera saja air maniku akan menyemprot vaginanya. Peristiwa yang sudah kuimpikan demikian lama. Aku kesetanan menggenjotnya serasa tengah terbang ke angkasa…..</p>
<p>Ia menjerit lirih mendesah meremas-remas seprei dipan tempat kami bersetubuh. Aku melengking nikmat ketika kurasakan puncak orgasme tidak mungkin kutahan lagi kusodok dengan keras lubang kewanitaannya diapun mengejang kejang lagi tanda orgasme juga tengah di ambang rasanya. Aku mempercepat kocokanku, kurasa semburan pertama benihku mulai membasahi rahimnya, sementara dari vagina harumnya juga kurasakan semprotan kewanitaannya melimpahi zakarku yang terus menerus berdenyut-denyut memompa persediaan air maniku sampai tandas mengisi relung rahimnya. Kali ini empotan vaginanya terasa lebih kuat. Beberapa saat kami saling terdiam menikmati sisa puncak kenikmatan kami.</p>
<p>Dia perlahan menurunkan tangannya, kemudian dengan penuh perasaan kubalikan  badanya, ketika kami sudah dalam posisi berhadapan dia memandangku begitu sendu sebuah ucapan terima kasih sangat tulus kukira. Aku memeluk erat tubuh bugilnya, zakarku meski baru saja menyemprotkan begitu banyak sperma masih menancap di vaginanya. Ia membalasnya. Kini titik airmata bahagia mengambang di pelupuk matanya.</p>
<p>‘Aku mencintaimu ……’ Bisikku</p>
<p>Dia memandangku dengan amat mesra, lalu mengangguk dan menciumi wajahku…..</p>
<p>‘Akupun demikian, sudah sangaaaaaaat lama aku membayangkan bisa menikmati persenggamaan seperti ini……. Bersamamu. Terima kasih telah memberikan pengalaman baru buatku……’ Katanya lirih, diantara deru nafasnya yang kini mulai menjadi teratur.</p>
<p>Pelan-pelan rudalku mulai mengendur, jam sudah menunjukan angka 5 kurang limabelas menit. Lebih dari dua jam kami bercinta, kami masih saling mengecup mencium dan membelai. Aku menunjukan jam kearahnya, setengah jam lagi…katanya. Aku tersenyum mengangguk.</p>
<p>Kami berciuman syahdu, dia membisikan kata cinta yang begitu memabukkan.</p>
<p>‘Aku ikhlas menyerahkan kehormatanku untukkmu, kamu pria perkasa, bahkan jika benihmu tumbuh di rahimku aku akan merawatnya……’</p>
<p>Dia mengungkapkan kalimat itu dengan sepenuh perasaan. Ah, benarlah dia rupanya memang seniman ranjang. Tidak hanya bodinya yang indah merangsang, goyangannya yang membuai, kata-katanya pun membuat aku merasa tersanjung dan bernafsu, belum lagi tatap matanya indah mengundang…….</p>
<p>Meski aku tahu aku baru saja mengeluarkan entah berapa cc air mani ke liang kewanitaannya, perlahan tapi pasti zakarku yang hampir kembali ke titik normal mengeras lagi.</p>
<p>Menyadari zakarku mengeras lagi, dia tersenyum, memandangku sebagai undangan bercinta dan kemudian membela rambut dan punggunggku penuh perasaan. Aku lumat bibirnya, dia mendesah kembali…….</p>
<p>‘Kamu tidak ada puas-puasnya ya………..? Pantas saja dahulu Riri sampai trauma melayanimu………..’</p>
<p>‘Aku membayangkan dirimu ketika memerawaninya…………..’<br />
‘Kamu jahat kalau begitu…..Riri amat sangat menyanjungmu…….’<br />
‘Saya tahu. Kini tentu aku akan lebih kalem saat diranjang bersamanya…..’<br />
‘Mengapa….?’<br />
‘Aku sudah mendapatkan yang paling kuinginkan……. Siapa dia coba……?’</p>
<p>Dia tersenyum malu….. pipinya yang putih ranum dan dewasa memerah.</p>
<p>‘Kamu……’Kataku</p>
<p>Dia mancubit pingganggku dengan manja, melumat bibirku ganas dan menyapu leherku dengan bibir tipisnya. Zakarku kembali mengeras sempurna, hari telah semakin sore.</p>
<p>‘Maaf sayang, aku akan menggenjotmu sedikit kasar…….’ Kataku.</p>
<p>Ia hanya memandangku dengan pandangan sayu pasrah, aku mulai menggenjotnya dengan ganas, maklumlah nafsuku kembali mememuncak dan karena waktu aku tidak boleh berlama-lama lagi menggumulinya.</p>
<p>Ia merintih-rintih sambil menggoyangkan pinggul sama cepatnya dengan kocokanku, kedua tangannya memeluk erat tubuhku, aku menjatuhkan seluruh badanku menindihnya. Selain bunyi alat kelamin kami clak, clok, clak, clok, maka hanya suara derit ranjang dan rintihan penuh birahi yang terdengar. Rintihan tersebut berganti menjadi desahan saat kedua bibir kami saling melumat. Aku terus mengocoknya dengan buas……</p>
<p>Sekitar duapuluh menit kemudian dia memelukku dengan lebih erat, seluruh tubuhnya mengejang, akupun merasa segera sisa spermaku akan menyembur, kepercepat entotanku dia menggelepar akupun begitu …….</p>
<p>Tidak lama kemudian kami saling berteriak untuk kemudian saling melumat dengan ganas saat kami menikmati orgasme bersama ………..</p>
<p>Zakarku terasa sedikit perih….. tapi nikmat</p>
<p>Dia memelukku erat-erat….. vaginanya berdenyut denyut, mengurut habis zakarku, memeras air mani terakhirku……</p>
<p>Sayang untuk kali ini kami tidak bisa berlama-lama menikmati akhir ini.</p>
<p>Setelah denyutanya berhenti aku menarik zakarku yang masih agak tegang, dia dengan berat hati melepas rengkuhanku.</p>
<p>Saat zakarku lepas dari jepitan vaginya, aku melihat bentuk vaginanya terbuka begitu merangsang, ingin rasanya kembali memasukkan rudalku kedalam vagina itu. Dari vaginya kemudian menetes cairan putih kental sisa kenikmatan kami. Beberapa saat dia masih tidur terlentang dengan paha mengangkang, pahanya sungguh indah, putih berkilat dan begitu mulus, aku membelainya, dia kemudian berusaha untuk duduk, aku peluk dia dan dalam keadaan bugil aku pangku, keringa kami bercucuran. Saat kupangku cairan kental itu semakin banyak mengalir keluar, maklumlah tiga jam kami bersenggama, dan entah berapa kali dia  mengalami orgasme. Aku sendiri mengelami dua kali orgasme nan nikmaaaaaat, orgasme jiwa raga. Aku kaget saat kudapati bercak darah walau sedikit diantara ceceran air mani kami di sprei.</p>
<p>‘Nggak papa, mungkin aku agak lecet karena punyamu begitu besar dan keras.’<br />
‘Benar-benar tidak sakit?’<br />
‘Benar…….. hanya enaaaaak…..’</p>
<p>Aku tersenyum kutowel pipi ibu mertuaku gemas, dia menggelendot manja di pangkuanku, tentu kami masih bugil.</p>
<p>Tidak berapa lama meski masih lemas kugendong dia ke kamar mandi, kami mandi berdua membersihkan badan yang penuh cipratan air mani. Dia menyabuni seluruh tubuhku, rudalku dielus-elus hingga bangun lagi. Sayang waktu mematahkan hasrat ketigaku sore itu………………</p>
<p>Setalah mengemasi sprei penuh sperma kami segera bergegas keluar dari toko sesaat sebelum senja. Aku tidak tahu cara dia menyembunyikan sprei penuh bercak sperma dan sedikit tetesan darah tersebut dari suaminya……..di rumah. Mungkin dia langung memasukan di mesin cuci lalu memutarnya……</p>
<p>Sungguh sore yang sangat indah. Sepanjang perjalanan pulang kerumahnya kami tidak berhenti saling meremas jemari dan berpegang tangan. Kami tidak lagi kikuk segala beban di hati telah tercurahkan. Kami rupanya telah lama saling tertarik dan menginginkan. Tetapi keadaan harus menunda semua hasrat kami tersebut.</p>
<p>Minggu pagi merupakan hari tutup toko, tetapi pagi itu aku bangun lebih pagi dari biasanya, tidak seperti biasanya aku menyiapkan the manis hangat untuk istriku yang telah menghadiahiku keperawanan, seorang anak yang kini masih dalam kandungan dan seorang ibu jelita yang secara diam-diam menjadi madunya juga.</p>
<p>Riri nampak bahagia dengan surprise ku. Aku telah minta ijin untuk pergi menemui rekan bisnis di hari minggu ini. Ketika dia merasa keberatan karena cemburu, aku menyarankan agar ibunya saja menemaniku untuk menjadi semacam satpam bagiku. Dia setuju, ayah mertuakupun setuju. Ibu mertua dan kekasihku sedikit bersandiwara dengan pura-pura sedikit keberatan untuk bepergian di hari minggu pagi. Dia menyarankan suaminya yang menggantikan menemaniku, tentu dengan perhitungan suaminya pasti menolak karena hari minggu merupakan ‘hari besar’ baginya untuk memuaskan hasrat memancingnya.</p>
<p>Jadilah jam delapan pagi aku telah berada di jalan menjemput kekasihku untuk sebuah perjalan bulan madu kami.</p>
<p>Aku terpana saat Yayu membukakan pintu dia sudah berdandan demikian cantik. Sebuah kemeja aneka warna nan ketat dan celana panjang nan chick sangat serasi dengan postur serta warna kulitnya yang tinggi langsing dan kuning langsat. Saat aku tiba ayah mertuaku sudah tidak ada di rumah dan Randi adik Riris masih tidur. Menyadari tidak ada bahaya mengintai aku segera mencium pipinya, tetapi dia menolak saat aku hendak melumat bibirnya yang mengenakan lipstick warna muda.</p>
<p>‘Nantiiiiiii…… sabar, sedikit. Tahan nafsumu, bisa berbahaya kalau kebablasan.’ Katanya dengan lirih.</p>
<p>‘Habis kamu cantik sekali…..’ Ia merengut manja, aku menowel dagunya.</p>
<p>Sepanjang perjalanan dia terus tersenyum manja dan bahagia, aku telah memesan sebuah vila di sebuah resort wisata berikut semua logistic terbaik dengan perjanjian sebelum jam tengah sepuluh logistic sudah harus ada.</p>
<p>Kesanalah kini kendaraan aku arahkan.</p>
<p>Dia menggelendot manja di bahuku, sesekali menciumi pipiku, aku merasa sangat tersanjung dan bahagia.</p>
<p>Kami layaknya pengatin remaja yang tengah dalam perjalanan menuju bulan madu.</p>
<p>Villa ini telah sering aku gunakan untuk beristirahat. Ririspun pernah tidur di sini saat sebelum hamil. Tetapi kali ini aku merasa jauh lebih bergairah melangkahkan kakiku ke sana. Aku tahu semua gelora asmara akan lebih bebas tertumpah saat ini.</p>
<p>Ketika aku mengambil kunci villa petugas villa mengkonfirmasi bahwa semua pesananku sudah penuh. Kuberi dia tip lebih besar dari biasanya. Matanya berbinar.</p>
<p>‘Dengan istri ?’</p>
<p>Aku mengangguk. ‘Pastikan jangan ada seorangpun mendekati pagar villa, mungkin aku akan bercinta di luar gedung villa.’</p>
<p>‘Beres boooos…..’</p>
<p>Pagar Villa telah terbuka, aku masuk dan kemudian menguncinya dari dalam. Villa ini terletak di lokasi tersembunyi dari resort wisata ini, sejuk dan akan sangat nyaman untuk bercinta. Taripnya memang hampir dua kali lipat dari villa lain, tapi bulan madu adalah suatu yang istimewa bukan ?</p>
<p>Saat aku memarkir mobil di garasi villa, Yayu tidak henti mengagumi keindahan villa tempat yang selama pagi hingga menjelang malam nanti menjadi arena kami bercinta. Aku segera membuka pintunya, udara terasa demikian segar dan syahdu. Aku bopong dia memasuki villa. Penisku menegang sempurna saat tanganku menjamah bokong indahnya meski masih tertutup rapat celana panjangnya.</p>
<p>Di sofa aku memangkunya. Ia kini amat rakus menciumku, aku tidak tahan juga menjawab serangannya, dengan hati-hati aku mencopoti baju dan celananya agar tidak kusut. Diapun sigap mempereteli pakaianku. Aku tidak terburu-buru menikmati puncak nafsu. Aku ingin menciumi setiap inci keindahan kulit dan tubuhnya, aku sengaja hanya melepaskan BH-nya saja tanpa melepas celana dalam tipisnya yang jelas telah basah oleh cairan kewanitaannya. Aku dekap bawah ketiaknya aku sosor buah dadanya yang besar ranum, dia merem melek menikmati lumatanku. Rintihannya begitu merangsang birahiku tetapi aku berketetapan untuk mengaturnya. Aku ingin menikmati menit demi menit persenggamaan ini dengan syahdu dan nikmat. Aku masih terus bermain di seputar dadanya. Buah dada itu sungguh sangat merangsang birahiku, tanganku mulai bergerilya meremas pantat dan mengelus vaginanya, sementara tangan halus mulusnya meremas apa saja dalam tubuhku menahan gelora birahinya yang memuncak. Aku kemudaian melepas dia dari pangkuanku, segera aku duduk di depanya, kuciumi kaki mulus panjangnya dengan rakus, aku tempelkan rudalku melahap inci demi inci kulit halus mulusnya, aku harus menodai semua yang ada pada dirinya hari ini. Dia menggelinjang-gelinjang dan merintih rintih. Aku terus menciumi paha dan betisnya. Sementara sebuah tanganku mulai mengelus-elus vaginanya dari luar celana dalamnya yang basah kuyup. Saat jari tengahku masuk menyentuh kelentitnya dia tampak terkejut. Aku menyerangnya dari semua sisi, mulut dan lidahku menciumi betis dan pahanya. Tangan kiriku , meremas-remas pantat kencangnya tangankananku masuk kedalam vaginanya. Ia tidak berkutik menerima seranganku sehingga dia tidak melakukan apa – apa kecuali merintih keenakan. Aku puas karena telah menyengankan hasrat kekasihku.</p>
<p>Mungkin karena sudah tidak tahan dia kemudian melepas dengan cepat celana dalamnya sendiri, harum vaginanya semakin menarik birahiku naik. Gundukan daging sobek nan merangsang itu kini hanya beberapa mili dari hidungku, aku menyosor pangkal pahanya yang mulus, dia menjerit. Air kewanitaannya  luber membasahi vaginanya, rambut vaginanya lebat, kontras dengan kulit kuning langsat di sekitarnya. Aku mencium paha mulusya dengan penuh perasaan dia melenguh, merintih, tangannya menggapai kepalaku. Rambutku diremasnya. Kulit pahanya begitu halus mulus, otot-otot pahanya kencang, dia pasti rajin fitness. Pohon yang kutanam kini telah menghasilkna buah, dan aku kini memanennya. Tubuh dewasanya benar-benar molek sempurna, setelah puas menyosor daerah paha dan sekitarnya aku menghentikan aktivitas penyerbuanku. Aku berdiri lalu kubuka semua jendela villa agar terang matahari menyinari kamar kami, lampu-lampunyapun aku hidupkan.</p>
<p>Yayu berusaha memprotes takut diintip orang, aku lalu meyakinkannya bahwa seluruh villa ditembok cukup tinggi.</p>
<p>Aku ingin cahaya sebanyak mungkin menerangi tubuh bugil nan indahnya sehingga dapat kunikmati inci demi inci. Aku kembali ke ranjang, dia berusaha menutupi vagina dan buah dadanya.</p>
<p>Kemudian dengan penuh mesra aku meminta dia membiarkan seluruh tubuhnya terbuka sepenuhnya tanpa ditutupi tangan indahnya. Dengan malu malu dia membuka kedua tangannya, aku menatap seluruh bagian tubuhnya dengan penuh gairah. Memang indah sekali, kaki jenjangnya, betis mulus panjangnya,  pahanya yang ranum, perutnya nan langsing, keindahan postur itu masih dilengkapi dengan kulit kuning mulus dan halus laksana sutra sungguh membuatku menjadi benar-benar mabuk kepayang. Kali ini aku sungguh merasa sangat beruntung diberi kesempatan untuk berdua dengan seseorang secantik Dewi Shinta. Tentu saja aku bukan Rahwana pria sial yang sampai mati tidak pernah memiliki kesempatan untuk menjamah perempuan yang dipujanya…….. Aku telah menjamahnya dan segera  akan kujamah dan kunikmati lagi setiap segi keindahannya tersebut dengan  gairah dan birahiku.</p>
<p>Aku duduk bersimpuh di pinggir ranjang, kupandangi dengan takjub tubuh bugil mertuaku, dia memang maha karya dari semesta. Pinggang dan lekuk bokongnya seungguh sangat girly, pria normal manapun akan sangat terangsang untuk menggauli dan menumpahkan benih tersuburnya pada rahim dengan bentuk amat elok tersebut. Ini merupakan reaksi alamiah kukira…… Dengan hati-hati kuelus paha dan lekuk pantatnya. Ia merintih, pandangan mataku yang penuh gairahpun agaknya telah membuat dia terangsang. Aku lihat diantara lipatan vaginanya, cairan kental dengan bau khasnya telah kembali terkonsentrasi, dia mencoba menutupinya dengan cara melipat paha, mungkin malu.</p>
<p>Aku masih mengelus lembut paha dan pantatnya. Lalu aku rebah dengan posisi sedikit menindih bagian atas tubuhnya. Dia menatapku dengan gairah dan rasa terima kasih, aku lumat bibir indahnya dalam senyum. Kuperoleh balasan setimpal, dia melumat bibirku juga. Begitu lama kami berpagutan, menikmati gelora cinta yang berpendar diantara kami. Ceplak, ceplok bibir kami saling memagut, kesyahduan ini perlahan bergerak meliar, tanganku mulai bergerilya ke mana saja, diapun mulai meremas-remas punggungku dan tangan satunya mulai mengelus-elus batang kejantananku yang sudah berdiri menegang sempurna. Erangannya mulai terdengar lagi erotis, aku nyungsep di dada montoknya, kuremas, kesosor payudara sangat menggairahkan milik mertuaku tersebut, dia menggelinjang-gelinjnag.</p>
<p>‘Aaaaah, oooooh, oooooogh, Adiiiiiiiiiiiiii sayang……..ini enak sekali sungguh.’ Begitulah rintihan erotis birahinya. Aku terus menjaga gelora nafsuku agar tetap terkendali. Aku peluk erat bagian atas tubuhnya sehingga kedua payudararanya mengampit erat dadaku. Dalam posisi itu aku ciumi leher dan sekujur wajahnya lebih bernafsu, dia balas memeluku, menyerang leher dan wajahju juga. Desahannya kian bergelora, nafsunya makin menggelegak. Penisku mulai dikocok dengan sedikit lebih cepat, nikmaaaaaaat…………… Tangnnya begitu halus dan hangat.</p>
<p>Puas menikmati leher jenjang dan wajah ayunya, aku segera beralih ke selangkangannya. Dalam cahaya siang, kusibak rambut vaginanya, cairan kental telah meluber di sana sini. Dengan selangkangan putih mulusnya, maka vagina ini nampak demikian rekah menarik. Merah segar warna dindingnya, sementara cairan epitelnya mengingatkan aku pada buah semangka yang di dilumuri saus bening. Aroma vaginanya sungguh khas. Kukira dia kini sedang berada pada saat puncak suburnya. Oooooh, betapa birahiku terasa demikian menghentak. Aku menyerang vaginanya dengan sosoran lembut bertenaga, dia menggeliat-geliat saat aku menyerot seluruh cairannya. Lidahku kemudian dengan liar menyapu seluruh permukaan vagina merahnya, tandas keminum cairan birahinya itu. Aku meraih bintil klitorisnya dengan lidahku, dia mengejat, memekik lirih dan spontan menggoyangkan pinggulnya tanda terangsang hebat.  Rintihanya terdengar merdu merangsang.</p>
<p>Dengan seluruh wajah terbenam di selangkangannya, tanganku masih berusaha tetap menguasai daerah dadanya pula. Dia menjerit-jerit nikmat saat  klitorisnya kugigit-gigit penuh nafsu, cairan kewanitaannya tidak berhenti mengalir dari dalam rahimnya. Aku semakin bernafsu saat dia meregang orgasme, kepalaku dikempit paha mulusnya dengan keras, kemudian dia merancau dan menggelepar-gelepar. Lidahku semakin bersemangat melumat vaginanya, penisku melonjak-lonjak begitu tegang minta jatah.</p>
<p>Saat mertuaku mulai turun dari puncak orgasmenya aku segera beralih merangsang leher dan dadanya, dia nampak kelelahan melayaniku. Tetapi aku tidak perduli, aku tahu benar, sebantar  lagi dia akan kembali in untuk kusetubuhi.</p>
<p>Tidak berapa lama dia mulai memperlihatkan tanda-tanda peningkatan nafsunya lagi, kali ini aku langsung mensejajarkan tubuhku dengan tubuh terlentangnya, aku segera menyentuhkan ujung penisku yang amat tegang ke bibir vaginanya. Dia tersenyum penuh terima kasih menyadari aku segera akan melakukan serangan puncak. Selangkangannya dia buka lebar, kemudian memeluk tubuhku lebih erat bersiap untuk kembali ke puncak kenikmatan, puncak kebersamaan, seiring dengan mulai kutusukan rudalku ke vaginanya, aku melumat mesra bibirnya.</p>
<p>‘Eeeeh, eeeeh, eeeh………..’ Erangan sensual tersebut masih tetap keluar dari mulutnya saat dengan perlahan namun pasti rudalku mulai menusuk masuk ke lubang surgawinya. Meski sudah sangat licin karena cairan kewanitaannya terus mengalir tetapi kurasakan bahwa jepitan vagina mertua dan istri gelapku ini masih sempurna. Terasa benar rudalku penuh memenuhi rongga kelaminnya, mengaduk-aduk vaginanya.</p>
<p>Tidak seperti kemarin sore. Kali ini dia sudah lebih rileks dan terbuka. Tanpa menunggu waktu segera saja dia goyang pinggulnya sesaat setelah ujung zakarku tercelup sempurna di liang kewanitaannya serta ujung rahimnya telah kusentuh.</p>
<p>Goyangannya tidak terlalu kencang, tetapi ritmis erotis dan bertenaga. Dia benar-benar seniman ranjang. Gairah rupanya telah memberi dorongan kepadanya untuk segera melakukan semua hal terbaik di ranjang. Aku merem melek menikmati goyanganya, segera aku menyerang daerah-daerah sensitifnya agar gelora birahinya kian memuncak. Aku cium bawah telinganya dan kugesek-gesekan kumisku yang tebal untuk merangsangnya, dia memendesah-desah tanganya mencengkeram tubuhku lebih erat lalu kedutan dan empotan vaginanya terasa lebih keras bertenaga. Rintihanya membuatku semakin mabuk kepayang. Tetapi aku berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan situasi aku tidak melakukan pompaan apapun ke vaginanya, sepenuhnya aku menikmati goyangan dan empotan vaginanya yang demikian nikmaaaatnya.</p>
<p>Aku mengerang, merintih……jiwaku telah menikmati orgasme.</p>
<p>Mendegar rintihanku dia membuka mata, empotan vaginanya kian terasa.</p>
<p>Dia tersenyum,</p>
<p>‘Kamu menikmati persenggamaan ini sayang……?’ Tanyanya manja mesra.</p>
<p>‘Aku menikmati, lebih dari yang aku bayangkan……Kamu seniman ranjang sayang.’ Kataku jujur.</p>
<p>Dia tersenyum manis, aku segera saja menyerang bibirnya yang menggemaskan dia membalas cipokanku dengan lebih ganas sambil merintih-rintih. Goyangannya menjadi liar dan kian liar. Dia memeluk erat tubuhku, payudaranya yang subur benar-benar tergencet dadaku. Sekujur tubuhnya mengejang………… Tidak berapa lama kemudian dia memekik………. Dia orgasme……….</p>
<p>Di ujung orgasmenya dia mencengkeram punggunku, kedutan-kedutan vaginanya sungguh luar biasa.</p>
<p>Puncak itu ia lalui beberapa menit, keringat mulai deras membasahi wajah ayunya. Setelah tenang dia membelai rambutku pancaran matanya menyatakan berjuta terima kasih padaku.</p>
<p>‘Aku kalah lagi…….’ Katanya menyesali orgasmenya.</p>
<p>Aku tutup bibir indahnya dengan jari telunjukku.</p>
<p>‘Bersenggama bukan pertandingan kalah menang, tetapi kerja sama dua tubuh dua jiwa….Kamu akan orgasme lagi, aku akan orgasme juga nanti. Aku bahagia mampu membuat kamu orgasme….. dan aku janji untuk membuatku begini lagi sampai lemas….’ Kataku setengah berbisik.</p>
<p>Ia tersenyum manja. Kami berpagutan. Zakarku masih tegang sempurna dalam jepitan vaginanya yang kini masah kuyup karena maninya yang beru tersembur.</p>
<p>Aku kocok pelan-pelan dan ritmis.</p>
<p>Dia memejamkan mata indahnya menikmati seranganku.</p>
<p>Meski masih sedikit lemas dia memaksa diri menggoyangkan pinggulnya.</p>
<p>Sepasang bukit kembarnya berkilat-kilat karena keringat. Nampak kembali mengeras, aku mengusulkan agar ganti posisi.</p>
<p>Kini dia di atasku, aku menggenjotnya dari bawah. Bibirku melumat payudaranya yang menggantung.</p>
<p>Dia meronta menahan nikmat birahi. Goyangannya kembali liar. Aku membalas dengan sodokan penuh tenaga.</p>
<p>Clak,clok,clak, clok……….. Bunyi entotanku terdengar jelas diantara desau angin gunung. Dia merem melek menikmati puncak kenikmatan ini.</p>
<p>Aku meremas payudara dan menyosornya. Tentu saja membuat dia semakin memuncak birahinya karena kumisku yang keras menggelitik payudaranya.</p>
<p>Dia mulai kesetanan, goyangannya liar, desahannyapun kian meninggi dan sangat sexy.</p>
<p>Aku mengimbanginya, terdengar derit ranjang tempat kami bergumul. Nafasnya kian memburu, payudaranya menegang dan naik turun karena gerakan pinggulnya menggauliku.</p>
<p>Keringat kami kembali menetes, goyangannya semakin menggila, aku merasa rudalku seperti disedot-sedot dan dipelintir.</p>
<p>Seluruh tubuhnya menegang dan dia merancau tidak karuan, orgasme……….dia menjabak dan mencium bibirku begitu liar. Dia orgasme lagi…… sesaat kemudian dia menghentikan goyangannya dan melemas……</p>
<p>Ia menciumku mesra sekali, nafasnya terengah, keringat membanjiri seluruh tubuhnya…..</p>
<p>‘Aku keluar lagi….. Terima kasih…’ Katanya dengan mata sayu dan wajah penuh kepuasan birahi.</p>
<p>Aku tersenyum dan kulumat bibirnya, kami saling pagut lagi.</p>
<p>Kali ini aku ‘tidak memberi ampun dia’ meski baru saja dia orgasme aku tidak memberi jeda. Segera kubalik tubuhnya dengan zakar tegangku masih menancap sempurna di selangkangannya. Aku tindih penuh tubuhnya. Dia menggelayutkan dua kakinya bersilang di pingganggku. Sikap pasrah dan penyerahan diri total. Memandangku sayu dalam kepuasan dan keinginan terakhir menuju puncak.</p>
<p>Tak kuberi ampun dia. Birahiku memuncak, kugenjot pantatku naik turun dengan cepat dan ganas, kusosor bibirnya dengan ganas pula.</p>
<p>Aku tindih payudaranya, lalu pentil payudaranya ku remas penuh nafsu, dia merintih – rintih, paha mulus halusnya mendekap selangkanganku, rintihan serta desahannya membuaiku.</p>
<p>Aku menggenjot dengan liar,</p>
<p>Aku kambing jantan yang birahi kini,</p>
<p>Dia betina terbaikku yang seksi,</p>
<p>Kuentot dia, kunodai rahimnya.</p>
<p>Cumbuan, rangsangan serta entotanku yang ganas rupanya telah membuat dia kembali ‘naik’.</p>
<p>Dia tidak lagi  pasif,</p>
<p>Mulai mengimbangi seranganku dengan goyangannya yang liar.</p>
<p>Dia merintih lebih keras, merancau dengan kata-kata tidak karuan.</p>
<p>Akupun mendesis-desis, kurasa nafsuku kini tengah merayapi puncak.</p>
<p>Oooooh…………aku merasa perjalan maniku tidak lagi bisa ku tahan, rasanya begitu sensasional.</p>
<p>Aku mengocok vaginanya lebih keras, seperti kesetanan.</p>
<p>Dia pun terengah, menjerit mencengkeram dan menegang.</p>
<p>Aku lumat bibirnya keras dan rakus.</p>
<p>Dia mengampit pinggangku keras sekali, melenguh dan mendesis.</p>
<p>Aku kocok, aku masukan rudalku sedalam-dalamnya.</p>
<p>Lalu ……… ooooooh. Ser-ser, crot,crot,crot….. air maniku sepertinya berpesta menikmati penglepasan ini.</p>
<p>Aku melayang, dia menjerit orgasme. Vaginanya berkedut-kedut liar, zakarku diperasnya dengan nikmat.</p>
<p>Beberapa saat kami mebisu di puncak bahagia, ia membelai-belai punggungku, aku membelai rambut indahnya. Ia tersenyum bahagia, akupun begitu. Kami saling mengecup lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali. Kecupan kemesraan, kecupan cinta.</p>
<p>‘Kamu lelaki jantan dambaanku. Mengapa harus kudapatkan kamu dengan cara mencuri seperti ini?’ Katanya antara bahagia dan sedih.</p>
<p>‘Kamu tidak mencuri dari siapapun dalam hal cinta.’</p>
<p>Ia membelai rambutku memelukku erat.</p>
<p>‘Jangan dulu turun ya sayang.’</p>
<p>Aku mengangguk.</p>
<p>Hari itu kami benar-benar memuaskan hasrat birahi kami gila-gilaan. Di kamar, sofa, kamar mandi di taman belakang kami bersetubuh, bercinta, bersenggama.</p>
<p>Sungguh bulan madu sederhana yang benar-benar indah.</p>
<p>Ketika hendak pulang sore dia bahkan merasa sedikit nyeri di vaginanya macam perawan yang baru bersetubuh pertama kali. Kami tersenyum mendapati kenyataan itu.</p>
<p>Zakarkupun terasa sedikit ngilu karena kebanyakan bersetubuh.</p>
<p>Kami menertawakan kelakuan kami hari ini. Tentu dengan percandaan nan mesra. Sore yang berat pun tiba, kami harus berpisah juga. Kami masih tersenyum melihat sprei kamar kami yang penuh noda sperma di sana sini….. Biarin aku toh memberi tip lebih kepada mereka.</p>
<p>Asmara kami semakin menggebu sesudah itu, setiap hari kami menikmati persenggamaan saat toko kami tutup. Kadang sekali, kadang dua atau tiga kali tergantung situasi.</p>
<p>Dua bulan sesudah itu mertuaku hamil, tentu saja dia mengandung anakku. Tidak seperti Riris, dia malah semakin binal saat mengandung.</p>
<p>Hubungan asmara kami menghasilkan sepasang anak. Dara anak gadis kami pertama dan Dani anak  kami kedua. Mereka memiliki kulit kuning langsat seperti kami. Cantik dan ganteng sekali anak-anak kami. Ibunya cantik sedang bapaknya……Ehm, menurut teman dan pacar-pacarku dulu aku memiliki wajah dan postur yang lebih dari cukup untuk merayu perempuan manapun. Setelah memiliki dua anak dariku dia menggunakan kontrasepsi sebab yakin bila tidak tentu akan hamil lagi akibat nafsu kami.</p>
<p>Dari Riri aku memperoleh dua anak cantik – cantik. Kini aku ayah dari empat orang anak dalam kurun kurang dari empat tahun. Setiap hari aku mendapatkan pelayanan seks dari ibu nan jelita dan anaknya yang ayu….. Mungkin karena kebahagian kami, maka usahaku tumbuh pesat. Mertuaku kubuatkan toko besar juga saat pensiun. Ini merupakan usaha menafkahi anak-anakku sendiri secara diam-diam. Karena bagaimanapun hubunganku dengan Yayu tidak boleh diketahui orang lain. Aku dan mertuaku makin mesra saja dalam berhubungan, ya kami ternyata memang saling jatuh cinta. Pemenuhan hasrat jiwa ini, berimbas pada sikapku dalam keluarga. Menurut Riris aku adalah suami sempurna. Menurut ibunya aku adalah kekasih istimewa. Aaaaaaaaaaaah, sungguh beruntungnya diriku.</p>
<p>Pengirim:<br />
Harry Sanjaya<br />
harrysanjaya40@yahoo.com</p>
<h4>Cerita seks lainnya:</h4><ul><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/http%3A%2F%2Fwww+ceritadewasaonline+info%2F" title="http://www ceritadewasaonline info/">http://www ceritadewasaonline info/</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/aku+dan+mertuaku" title="aku dan mertuaku">aku dan mertuaku</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/istriku+menggelepar" title="istriku menggelepar">istriku menggelepar</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/kontol+bapa+mertua+gagah+perkasa" title="kontol bapa mertua gagah perkasa">kontol bapa mertua gagah perkasa</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/lagi+kusodok+dengan+keras+lubang+kewanitaannya+diapun+mengejang+kejang" title="lagi kusodok dengan keras lubang kewanitaannya diapun mengejang kejang">lagi kusodok dengan keras lubang kewanitaannya diapun mengejang kejang</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/menggenjot+kasar+mengerang+kesakitan+keperawanannya" title="Menggenjot kasar mengerang kesakitan keperawanannya">Menggenjot kasar mengerang kesakitan keperawanannya</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/merayu+mertua+seksi" title="merayu mertua seksi">merayu mertua seksi</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/meremas+pantat+mbak" title="Meremas pantat mbak">Meremas pantat mbak</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/ngentot+pengantin+baru" title="Ngentot pengantin baru">Ngentot pengantin baru</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/puncak+orgasme+tidak+mungkin+kutahan+lagi+kusodok+dengan+keras" title="puncak orgasme tidak mungkin kutahan lagi kusodok dengan keras">puncak orgasme tidak mungkin kutahan lagi kusodok dengan keras</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.054 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritadewasaonline.info/pengalaman-ngentot-dengan-mertuaku.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati Tubuh Seksi Adik Iparku</title>
		<link>http://www.ceritadewasaonline.info/menikmati-tubuh-seksi-adik-iparku.htm</link>
		<comments>http://www.ceritadewasaonline.info/menikmati-tubuh-seksi-adik-iparku.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 04:09:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jack Parlente</dc:creator>
				<category><![CDATA[Insest]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[ML adik ipar]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot ipar]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot istri orang]]></category>
		<category><![CDATA[sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[sesama jenis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritadewasaonline.info/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Aku seorang suami dengan dua anak. Saat anakku kecil aku tinggal dengan mertua. Saat itu aku sering memperhatikan dengan diam-diam tubuh adik iparku yang saat itu masih sma. Ingin rasanya aku melumat tubuhnya yang montok itu.
Suatu hari niatan itu kesampaian. Ia sudah bersuami dan punya satu anak. Siang itu aku ke rumah mertua untuk antarkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku seorang suami dengan dua anak. Saat anakku kecil aku tinggal dengan mertua. Saat itu aku sering memperhatikan dengan diam-diam tubuh adik iparku yang saat itu masih sma. Ingin rasanya aku melumat tubuhnya yang montok itu.<br />
Suatu hari niatan itu kesampaian. Ia sudah bersuami dan punya satu anak. Siang itu aku ke rumah mertua untuk antarkan sesuatu. Tak kuduga ia ada di sana. Ia hanya diantar A suaminya kemudian suaminya itu pulang lagi. </p>
<p>Suasana rumah sepi ketika aku tiba disana. Bpk dan ibu mertua seperti biasa sedang di sawah. Dan anaknya baru tidur. Seperti biasa aku langsung masuk. Ternyata ia sedang mandi di kamar mandi. Kesempatan ini, pikirku. Dengan sengaja pura-pura nggak tahu aku masuk kamar mandi untuk kencing. Ia terkejut dan hampir berteriak. Maaf dik aku mau kencing. Kulihat dengan jelas tubuh montoknya yang telanjang. <span id="more-21"></span></p>
<p>Cepat mas aku malu, katanya. Usai kencing beneran, aku nggak segera pergi. Ia ketakutan ketika aku mendekat. Nggak usah teriak, kamu mau kita semua jadi malu. Atau kamu mau kucekik sekarang ? ancamku. Ayo, layani aku. Aku nggak beda dengan suamimu kok, bisa puaskan kamu. bahkan mungkin rasanya lain. ia beneran takut, tapi tidak juga berteriak.</p>
<p>Walau sedikit meronta, ia tetap diam ketika aku mulai memeluk tubuhnya yang telanjang dari belakang. Dengan segera kukecupi pundaknya yang mulus. Ia mencoba menghindar tapi dekapan tanganku lebih kuat. Kujilati dengan merata. Sementara itu kedua tanganku meremas dengan lembut kedua payudaranya yang meski sudah agak kendur tapi nampak masih montok itu. Aku tahu dengan yakin ia ketakutan untuk teriak. Mungkin ia mengira aku akan sangat kasar. tapi aku tak mau egois, justeru dengan lembut mungkin ia akan terbawa nafsu alaminya untuk mereguk nafsu seks tidak dengan suaminya. dan tenyata benar. Kini ia tak lagi mencoba melawan. Maaas!!!!!! Jangan !!!!!</p>
<p>Hanya itu desahan lirihnya. Sesuatu yang bertolak belakang. Ia katakan jangan tapi aku yakin nafsunya tak mampu menolak lagi rangsangan dariku. Apalagi setelah kusapu seluruh punggungnya dengan lidahku, semakin turun dan kini, setelah kulepas pakaianku,tanpa ragu kujilati bokongnya dengan sangat merata. Kini dengan masih tetap berdiri tangannya menumpu pada bibir bak mandi. Nafasnya mulai tak teratur. Aku berjongkok di belakangnya. Belahan bokong itu kusibak. Kujilati anusnya yang sebelum itu kusabuni biar bersih. Dengan sendirinya ia membuka kakinya mengangkang lebih lebar. Ia mendesah lirih. Kini aku merubah posisi. Aku duduk berselonjor di lantai kamar mandi, dengan mukaku tepat dibawah selangkangannya. </p>
<p>Dengan leluasa aku kini menggeser jilatanku pada bibir vaginanya. Ia menjerit kecil. tapi tak akan ada yang dengan karena kamar mandi ini kini sudah kukunci dari dalam. Ia tak kuasa membiarkan pinggulnya diam. perlahan tapi pasti meliukkkan pinggulnya agar lidahku lebih merangsek ke dalam. Sementara itu kubiarkan saja penisku yang mengembangnya dengan maksimal. Tak lama kemudian hanya tujuh menitan kujilati vaginanya tiba-tiba napasnya tertahan. Pinggulnya mendekap erat mukaku. Ia lepaskan nafasnya dengan menjerit kecil. Kurasakan cairan hangat meleleh keluar. Ia orgasme. Kini nafasnya jadi tidak beraturan.</p>
<p>Duduklah sayang, turunlah. Kemudian ia merendah, duduk dipangkuanku. Penisku yang tegak kusembunyikan dulu di lipatan paha agar ia tak kesulitan duduk berhadapan di pangkuanku. Mas nakal, aku tak pernah merasakan yang aneh-aneh seperti ini dengan suamiku, komentarnya. Kini aku benar yakin ia telah gelap mata untuk melampiaskan hasratnya. Kini ia jadi aktif. Didekatkannya wajahnya ke wajahku. hari ini, yang bertahun lalu hanya ada di pikiran kotorku, kini benar-benar kurasai. </p>
<p>Wajah montok dan bersihnya kuciumi. Bahkan dengan bernafsu bibirnya aktif mengulum-ngulum bibirku. Kesempatan itu kusia-siakan. Kuberikan nikmatnya berciuman melalui teknik berciuman yang kukuasai. Hari ini secara sengaja juga kutunjukkan kebolehanku dalam mengantar mendaki ke puncak birahi agar ia ketagihan untuk mereguk nikmatnya seks denganku. Setelah itu kini kumulai seranganku pada payudaranya. </p>
<p>Gundukan kembar itu kujilati sepenuhnya sebelum sampai putingnya. Sudah sejak tadi sebenarnya payudara itu mengembang secara penuh. Hinga tiba saatnya, puting itu kulahap dengan ganas. Bersamaan dengan itu saat pahaku sedikit kubuka, penisku menyembul dan menyentuh bibir vaginya. Dengan segera, hilanglah sabarnya,ia menekankan vaginanya, dan blesss meski agak sesak kini penisku menghunjam ke vaginanya. </p>
<p>F adik iparku yang tadi ketakutan sekarang dikuasai kegilaan. Pinggulnya menari seirama gelombang hasratnya, dengan buas. Kini kubiarkan saja ia menarikan tariannya, sambil kupandangi dua payudaranya yang bergoyang hebat. sepuluh menit kemudian ia menghentikan tariannya, tubuhnya mengejang dengan dekapan pahanya sangat kuat dan ujung selangkangannya itu ditekan sangat hebat hingga tak semili pun penisku ada di luar. Cairan hangat kedua membanjir. </p>
<p>Ia menjerit tertahan, nafasnya terengah-engah kemudian lunglai. Tak peduli lagi, ia kemudian melorot dari pangkuanku, terlentang di lantai kamar mandi. Kini tak lagi malu atau menolak, kulampiaskan puncak hasratku, kuambil bagianku. Selangkangan itu kubuka lagi dan pinggulku menggila menghunjaminya berkali-kali, hingga tak tahan lagi penisku yang tegak menyemprotkan mani ke dalam dasar vaginanya. Sejak itu kami sering melakukannya dengan diam-diam.</p>
<p>Pengirim:<br />
<strong>seksmania </strong><br />
triroes@yahoo.com</p>
<h4>Cerita seks lainnya:</h4><ul><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+dewasa" title="cerita dewasa">cerita dewasa</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/http%3A%2F%2Fwww+ceritadewasaonline+info%2F" title="http://www ceritadewasaonline info/">http://www ceritadewasaonline info/</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/adik+ipar" title="adik ipar">adik ipar</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+seks+online" title="cerita seks online">cerita seks online</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/adik+iparku" title="adik iparku">adik iparku</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+seks+sedarah" title="cerita seks sedarah">cerita seks sedarah</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/tubuh+seksi" title="tubuh seksi">tubuh seksi</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+ipar+seksi" title="cerita ipar seksi">cerita ipar seksi</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+orang+dewasa" title="cerita orang dewasa">cerita orang dewasa</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita-dewasa-tante" title="cerita-dewasa-tante">cerita-dewasa-tante</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.398 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritadewasaonline.info/menikmati-tubuh-seksi-adik-iparku.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Ngentot Pertama Kali dengan Pacar</title>
		<link>http://www.ceritadewasaonline.info/pengalaman-ngentot-pertama-kali-dengan-pacar.htm</link>
		<comments>http://www.ceritadewasaonline.info/pengalaman-ngentot-pertama-kali-dengan-pacar.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 02:30:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jack Parlente</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman Pertama]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot di hotel]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot pacar]]></category>
		<category><![CDATA[pacaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritadewasaonline.info/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Sya vanya d jkt, kbetulan sya lagi ke kampus tiba2 pacar sya sebut sja namany aldi dia ngajak sya makan siang bareng d sebuah kafe dkat kampus sya stelah plang kampus,
&#8220;yank tar qta plang qta k kafe t4 biasa&#8221; kta aldi
&#8220;iy yank, jemput skitar jam 2&#8243; kataq
skitar jam 2 dia jemput dng motor ninjany, kamipun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sya vanya d jkt, kbetulan sya lagi ke kampus tiba2 pacar sya sebut sja namany aldi dia ngajak sya makan siang bareng d sebuah kafe dkat kampus sya stelah plang kampus,<br />
&#8220;yank tar qta plang qta k kafe t4 biasa&#8221; kta aldi<br />
&#8220;iy yank, jemput skitar jam 2&#8243; kataq</p>
<p>skitar jam 2 dia jemput dng motor ninjany, kamipun lngsung k kafe, tiba2 stelah mkan siang dia ngajak k hotel, syapun gk nanggung2 buat nolak krn dia pcr sya,<br />
sampai d hotel, dia blang &#8220;ynk mau isap tete qmu, bsakan ?tnyany penuh nafsu<br />
mw gk mau sya iyakan, kmudian dia buka bju sya kemudia celna sya, dia perhatikan sya dng hnya berbIkini, sya pun mulai bernafsu tp sya agak malu2 krn bru 2 minggu jdian, <span id="more-18"></span><br />
stelah dia perhatikan sluruh tubuh sya, diapun buka bH dan clana dlm sya, sya pun hnY diam krn, kmudian dia isap puting susu sya wah enek bnget skitar 15mnit dia lngsung turun k memek sya syapun mrasa knikmatan, berselang 20 menit dia pun ngentot sya, ah. . .kataQ,&#8230;.<br />
Stelah stengah jam qmi mlakukan bermacam gaya, pcr sya lngsung t&#8217; lentang d kasur bgtupun dng sya krn kcpean, 3 jam qmi ber2 tduaran tanpa sehelai benang pun.</p>
<p>Pengirim:<br />
Vanya<br />
Vanya_blue79@yahoo.co.id</p>
<h4>Cerita seks lainnya:</h4><ul><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/http%3A%2F%2Fwww+ceritadewasaonline+info%2F" title="http://www ceritadewasaonline info/">http://www ceritadewasaonline info/</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+pacaran+sesama+jenis" title="cerita pacaran sesama jenis">cerita pacaran sesama jenis</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/ngentot+pertama" title="ngentot pertama">ngentot pertama</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/pengalaman+ngentot" title="pengalaman ngentot">pengalaman ngentot</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+seks+pacaran" title="cerita seks pacaran">cerita seks pacaran</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+tentang+pacar" title="cerita tentang pacar">cerita tentang pacar</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/ngentot+pacar" title="Ngentot pacar">Ngentot pacar</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/ngentot+pertama+kali" title="ngentot pertama kali">ngentot pertama kali</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/pengalaman+ngentot+pertama+kali" title="pengalaman ngentot pertama kali">pengalaman ngentot pertama kali</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.279 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritadewasaonline.info/pengalaman-ngentot-pertama-kali-dengan-pacar.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Birahi Ngentot di Villa</title>
		<link>http://www.ceritadewasaonline.info/pengalaman-birahi-ngentot-di-villa.htm</link>
		<comments>http://www.ceritadewasaonline.info/pengalaman-birahi-ngentot-di-villa.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 01:21:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jack Parlente</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[bibi seksi]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot bibi]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot istri orang]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritadewasaonline.info/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini saya menginjak 17tahun, dan kisah ini terjadi kira-kira 2 bulan yang lalu, saat aku liburan akhir semester. Waktu itu aku sedang libur sekolah. Aku berencana pergi ke villa tanteku di kota M. Tanteku ini namanya Sofi, orangnya cantik, tubuhnya-pun sangat padat berisi, dan sangat terawat walaupun usia nya memasuki 38 tahun. Aku ingat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat ini saya menginjak 17tahun, dan kisah ini terjadi kira-kira 2 bulan yang lalu, saat aku liburan akhir semester. Waktu itu aku sedang libur sekolah. Aku berencana pergi ke villa tanteku di kota M. Tanteku ini namanya Sofi, orangnya cantik, tubuhnya-pun sangat padat berisi, dan sangat terawat walaupun usia nya memasuki 38 tahun. Aku ingat betul, pagi itu, hari sabtu, aku berangkat dari kota S menuju kota M.</p>
<p>Sesampainya di sana, aku pun disambut dengan ramah. Setelah saling tanya-menanya kabar, aku pun diantarkan ke kamar oleh pembantu tanteku, sebut saja Bi Sum, orangnya mirip penyanyi keroncong Sundari Soekotjo, tubuhnya yang indah tak kalah dengan tanteku, Bi Sum ini orangnya sangat polos, dan usianya hampir sama dengan tante Sofi, yang membuatku tak berkedip saat mengikutinya dari belakang adalah bongkahan pantat nya yang nampak sangat seksi bergerak Kiri-kanan, kiri-kanan, kiri-kanan saat ia berjalan, seeakan menantangku untuk meremas nya. <span id="more-16"></span></p>
<p>Setelah sampai dikamar aku tertegun sejenak, mengamati apa yang kulihat, kamar yang luas dengan interior yang ber-kelas di dalamnya. sedang asyik-asyik nya melamun aku dikagetkan oleh suara Bi sum.<br />
“Den, ini kamarnya.”<br />
“Eh iya Bi.” jawabku setengah tergagap.<br />
Aku segera menghempaskan ranselku begitu saja di tempat tidur.<br />
“Den, nanti kalau ada perlu apa-apa panggil Bibi aja ya?” ucapnya sambil berlalu.<br />
“Eh, tunggu Bi, Bibi bisa mijit kan? badanku pegel nih.” Kataku setengah memelas.<br />
“Kalau sekedar mijit sih bisa den, tapi Bibi ambil balsem dulu ya den?”<br />
“Cepetan ya Bi, jangan lama-lama lo?”<br />
“Wah kesempatan nih, aku bisa merasakan tangan lembut Bi Sum memijit badanku.” ucapku dalam hati.<br />
Tak lama kemudian Bi Sum datang dengan balsem di tangan.<br />
“Den, coba Aden tiduran gih.” suruh Bi Sum.<br />
“Eh, iya Bi.” lalu aku telungkup di kasur yang empuk itu, sambil mencopot bajuku. Bi Sum pun mulai memijit punggungku, sangat terasa olehku tangan lembut Bi Sum memijit-mijit.<br />
“Eh, Bi, tangan Bibi kok lembut sih?” tanyaku memecah keheningan.<br />
Bi Sum diam saja sambil meneruskan pijatannya, aku hanya bisa diam, sambil menikmati pijitan tangan Bi Sum, otak kotorku mulai berangan-angan yang tidak-tidak.<br />
“Seandainya, tangan lembut ini mengocok-ngocok penisku, pasti enak sekali.” kataku dalam hati, diikuti oleh mulai bangunnya “Adik” kecilku.</p>
<p>Aku mencoba memecah keheningan di dalam kamar yang luas itu.<br />
“Bi, dari tadi aku nggak melihat om susilo dan Dik rico sih.”<br />
“Lho, apa aden belum dibilangin nyonya, Pak Susilo kan sekarang pindah ke kota B, sedang den Rico ikut neneknya di kota L.” tuturnya.<br />
“Oo.., jadi tante sendirian dong Bi?” tanyaku<br />
“Iya den, kadang Bibi juga kasihan melihat nyonya, nggak ada yang nemenin.” kata Bi Sum, sambil pijatannya diturunkan ke paha kiriku. Lalu spontan aku menggelinjang keenakan.<br />
“Ada apa den?” tanyanya polos.<br />
“Anu Bi, itu yang pegel.” jawabku sekenanya.<br />
“Mm.. Bibi udah punya suami?” kataku lagi.<br />
“Anu den, suami Bibi sudah meninggal 6bulan yang lalu.” jawabnya. Seolah berlagak prihatin aku berkata.<br />
“Maaf Bi, aku tidak tahu, trus anak Bibi bagaimana?”<br />
“Bibi titipkan pada adik Bibi” katanya, sambil pijitannya beralih ke paha kananku.<br />
“Mm.. Bibi nggak pingin menikah lagi?” tanyaku lagi.<br />
“Buat apa den, orang Bibi udah tua kok, lagian mana ada yang mau den?” ucapnya.<br />
“Lho, itu kan kata Bibi, menurutku Bibi masih keliatan cantik kok.” pujiku, sambil mengamati wajahnya yang bersemu merah.<br />
“Ah.., den andy ini bisa saja” katanya, sambil tersipu malu.<br />
“Eh bener loh Bi, Bibi masih cantik, udah gitu seksi lagi, pasti Bibi rajin merawat tubuh.” Godaku lagi.<br />
“Udah ah, den ini bikin Bibi malu aja, dari tadi dipuji terus.”</p>
<p>Lalu aku bangkit, dan duduk berhadapan dengan dia.<br />
“Bi.., siapa sih yang nggak mau sama Bibi, sudah cantik, seksi lagi, tuh lihat tubuh Bibi indahkan?, apalagi ini masih indah loh..” kataku, sambil memberanikan menunjuk kearah gundukan yang sekal di dadanya itu. Secara reflek dia langsung menutupinya, dan menundukkan wajahnya.<br />
“Aden ini bisa saja, orang ini sudah kendur kok dibilang bagus.” katanya polos.<br />
Seperti mendapat angin aku mulai memancingnya lagi.<br />
“Bibi ini aneh, orang payudara Bibi masih inah kok bilangnya kendur, tuh lihat aja sendiri” kataku, sambil menyingkapkan kedua tangannya yang menutupi payudaranya.<br />
“Jangan ah den, Bibi malu.”<br />
“Bi.. kalau nggak percaya, tuh ada cermin, coba Bibi buka baju Bibi, dan ngaca.” Lalu aku mulai membantu membuka baju kebaya yang dikenakannya, sepertinya ia pasrah saja. Setelah baju kebaya nya lepas, dan ia hanya memakai Bh yang nampak sangat kecil, seakan payudaranya hendak mencuat keluar. Aku pun mulai menuntunnya ke depan cermin besar yang ada di ujung ruangan.<br />
“Jangan den, Bibi malu nanti nyonya tahu bagaimana?” tanyanya polos.<br />
“Tenang aja Bi, tante Sofi nggak bakal tahu kok” Aku yang ada dibelakang nya mulai mencopot tali BH nya, dan wow.. tampak olehku didepan cermin, sepasang bukit kembar yang sangat sekal dan padat berisi, melihat itu “Adik” kecilku langsung mengacung keras sekali.</p>
<p>Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Aku langsung meremas nya dari belakang, sambil ciumanku kudaratkan ke lehernya yang jenjang tersebut. Bi Sum yang telah setengah telanjang itu, hanya bisa mendesah dan matanya “Merem-melek”.<br />
“Oh.. den jangan den, uhh.. den, Bibi diapain, den”<br />
Aku tak menggubris pertanyaannya malahan aku meningkatkan seranganku. Kini ia kubopong ke ranjang, sambil menciumi putingnya yang merah mencuat itu, ia pun kelihatan mulai menikmati permainanku, dan Bi Sum telah kurebahkan diranjang, lalu aku mulai lagi menciumi putingnya, sambil menarik jarik yang dipakainya.<br />
“Uhh.. den shh.. Bibi enak den uh.. shh.. teruus den”<br />
Aku pun mulai membuka seluruh pakaianku dan ciumanku terus turun keperutnya, dan dengan ganasnya ku pelorotkan CD yang dipakainya, aku terdiam sesaat seraya mengamati gundukan yang ada dibawah perutnya itu.<br />
“Den, punya aden besar sekali” katanya sambil meremas penisku, lalu kusodorkan penisku kemulutnya.<br />
“Bi, jilatin ya.. punya Andy.” Bibir mungil Bi Sum mulai menjilati penisku. uuhh.., sungguh nikmat sekali rasanya.<br />
“Mmhh.. ohh.. Bi terus, kulum penisku Bi.., tak lama kemudian Bi Sum mulai menyedot-nyedot penisku, dan rasanya ada yang akan keluar di ujung penisku.<br />
“Bi.. teruuss, Bi.. aku mmaauu keeluuar, oohh” jeritku panjang dan tiba-tiba, serr maniku muncrat dalam mulut Bi Sum, Bi Sum pun langsung menelannya.</p>
<p>Aku pun mulai pindah posisi, kini aku mulai menjilati memek Bi Sum, tampak didepan mataku, memek Bi Sum yang bersih, dengan seikit rambut. Rupanya Bi Sum sudah tidak sabar, ia menekan kepalaku agar mulai menjilati memeknya dan sluurpp.. memek Bi Sum kujilati sampai kutenukan sesuatu yang mencuat kecil, lalu kuhisap, dan gigit kecil, gerakan tubuh Bi Sum mulai tak karuan, tanganku pun tidak tinggal diam, ku pilin-pilin putingnya dengan tangan kiriku sedangkan, tangan kananku ku gunakan menusuk memeknya sambil lidahku kumasukkan sedalam-dalamnya.</p>
<p>“Ohh.. den.. teruuss den jilat teruss.. memek Bibi den.. mmhh” katanya sambil menggeliat seperti cacing kepanasan.<br />
“Ouhh den.. Bibi mau.. keluarr.. den ohh, ahh, den, Bibi keeluuaarr, akhh.” Bi Sum menggelinjang hebat dan serr cairan kewanitaannya kutelan tanpa sisa. Tampak Bi Sum masih menikmati sisa-sisa orgasme nya. Lalu aku mencium bibirnya lidahku kumasukkan kedalam mulutnya, ia pun sangat agresif lalu membalas ciumanku dengan hot.<br />
Aku pun mulai menciumi telinganya, dan dadanya yang besar menempel ketat di dadaku, aku yang sudah sangat horny langsung berkata, “Bi aku masukkan sekarang ya..”. ia hanya bisa mengangguk pelan.</p>
<p>aku pun mengambil posisi, kukangkangkan pahanya lebar-lebar, kutusukkan penisku ke memek nya yang sudah sangat becek. Bless.. separuh penisku amblas kedalam memeknya, terasa olehku memeknya menyedo-nyedot kepala penisku. kusodokkan kembali penisku, bless.. peniskupun amblas kedalam memeknya, aku pun mulai memaju-mundurkan pantatku, memeknya terasa sangat sempit.</p>
<p>“Den.. ouhh.. teruuss.. denn.. mmhh..sshh.” desahan erotis itu keluar dari mulut Bi Sum, aku pun tambah horny dan kupercepat sodokkanku di memeknya.<br />
“Oh.. Bii memek kamu sempit banget, ohh enak Bii, goyang teruuss Bii.. ouhh..”<br />
“Den.. cepatt.. den.. goyang yang cepat.. Bibi.. mauu.. keluar.. den..”<br />
aku mulai mengocok penisku dengan kecepatan penuh, tampak Bi Sum menggelinjang hebat.<br />
“Den.. Bibi.. mau keluuaarr.. ouhh.. shhshshshh..”<br />
“Tahan Bii.. aku.. juga mau keluuarr..”</p>
<p>Lalu beberapa detik kemudian terasa penisku di guyur cairan yang sangat deras.. serr.. penisku pun berdenyut hebat dan, serr.. terasa sangat nikmat sekali, rasanya tulang-tulang ku copot semua. aku pun rubuh diatas wanita setengah baya yang tengah menikmati orgasmenya.</p>
<p>“Bi.. terima kasih ya.. memek Bibi enak” kataku sambil mencupang buah dadanya.<br />
“Den kapan-kapan Bibi dikasih lagi yaa.”</p>
<p>akhirnya kami tertidur dengan penisku menancap di memek Bi Sum, tanpa aku sadari permainan ku tadi dilihat semua oleh tanteku, sambil dia mempermainkan memeknya dengan jarinya. sekian pengalaman saya dengan Bi Sum, pembantu tante saya yang sangat menggiurkan. lain kali akan saya ceritakan pengalaman saya dengan tante saya yang mengintip permainan saya dengan Bi Sum, yang tentunya lebih menghebohkan, karena tante saya ini orang yang hipersex, jadi nafsunya sangat besar, dan meledak-ledak.</p>
<h4>Cerita seks lainnya:</h4><ul><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/http%3A%2F%2Fwww+ceritadewasaonline+info%2F" title="http://www ceritadewasaonline info/">http://www ceritadewasaonline info/</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/ngentot+di+villa" title="ngentot di villa">ngentot di villa</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/pengalaman+ngentot" title="pengalaman ngentot">pengalaman ngentot</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+ngentot+di+villa" title="cerita ngentot di villa">cerita ngentot di villa</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+ngentot+d+vila" title="Cerita ngentot d vila">Cerita ngentot d vila</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+ngentot+di+vila" title="cerita ngentot di vila">cerita ngentot di vila</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+birahi" title="cerita birahi">cerita birahi</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/birahi+ngentot" title="Birahi ngentot">Birahi ngentot</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/ngentot+di+vila" title="ngentot di vila">ngentot di vila</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+birahi+cerita+dewasa" title="cerita birahi cerita dewasa">cerita birahi cerita dewasa</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.254 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritadewasaonline.info/pengalaman-birahi-ngentot-di-villa.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Pertama Berhubungan Seks</title>
		<link>http://www.ceritadewasaonline.info/pengalaman-pertama-berhubungan-seks.htm</link>
		<comments>http://www.ceritadewasaonline.info/pengalaman-pertama-berhubungan-seks.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 01:19:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jack Parlente</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot abg]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot remaja]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[seks perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritadewasaonline.info/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Lia, aku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Asalku sendiri dari Bandung dan di Jakarta aku kost di sebuah rumah kost wanita di Jakarta Selatan. Ada sekitar 12 orang kost di tempatku dan sebagian besar masih kuliah seperti aku walaupun ada juga yang sudah bekerja. Aku cukup beruntung karena berasal dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Lia, aku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Asalku sendiri dari Bandung dan di Jakarta aku kost di sebuah rumah kost wanita di Jakarta Selatan. Ada sekitar 12 orang kost di tempatku dan sebagian besar masih kuliah seperti aku walaupun ada juga yang sudah bekerja. Aku cukup beruntung karena berasal dari keluarga yang berkecukupan, malah mungkin dapat dibilang cukup berlebihan.</p>
<p>Satu hal yang membedakan aku dengan wanita-wanita normal lainnya adalah sejak kecil aku tidak pernah tertarik pada pria. Sebenarnya banyak pria yang suka denganku sejak aku masih SMU. Teman-temanku juga banyak yang heran mengapa aku belum punya pacar juga, karena menurut mereka aku cantik. Aku selalu bilang kalau belum ada yang kusuka dan aku belum mau cepat-cepat pacaran. Ada juga yang pernah bercanda dan bilang kalau mungkin aku seorang lesbian. Sebenarnya temanku itu betul, tapi aku tidak berani mengakuinya. <span id="more-14"></span></p>
<p>Terus terang aku malu sekali bila ada yang tahu kalau aku seorang lesbian. Orangtuaku juga pasti marah besar dan kecewa bila tahu keadaanku yang sebenarnya. Apalagi mereka juga tergolong sangat religius dan aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan di Bandung. Baru sejak aku kuliah dan pindah ke Jakarta aku dapat menyalurkan keinginanku yang sudah bertahun-tahun kupendam dan kadang sangat menyiksa itu.</p>
<p>Waktu di SMU aku pernah punya teman dekat wanita. Kami sering pergi berdua dan aku suka sekali sama dia. Tapi sampai hari ini pun perasaan itu tidak pernah kuutarakan kepadanya karena aku tahu dia bukan seorang lesbian sepertiku dan aku tidak mau merusak persahabatanku dengannya.</p>
<p>Pengalaman pertamaku dengan wanita dimulai sekitar satu tahun lalu. Di tempat kostku ada seseorang yang kebetulan juga kuliah di kampus yang sama denganku walaupun dia beda fakultas, sebut saja namanya Tasya. Tasya tidak punya kendaraan, jadi dia sering ikut mobilku ke kampus. Kami juga sering pergi ke mall atau nonton bersama, sehingga dalam waktu yang singkat hubungan kami menjadi cukup dekat.</p>
<p>Tasya anaknya sangat cantik (dia sekali-sekali melakukan pemotretan sebagai model dan pernah menjadi cover girl di salah satu majalah remaja), kulitnya putih mulus dan badannya juga tinggi langsing. Sebenarnya sejak dari awal aku kenal dia aku sudah suka dia, tapi sekali lagi, perasaan itu kusimpan dalam-dalam karena aku tidak tahu apakah dia juga seperti aku atau seperti gadis normal lainnya. Yang kutahu dia belum pernah punya pacar cowok juga.</p>
<p>Di malam hari kami sering main ke kamar masing-masing untuk ngobrol atau nonton film. Kamar Tasya juga ada kamar mandinya dan biasanya dia hanya melilitkan handuk setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian di depanku. Mungkin karena aku wanita juga, jadi dia tidak malu-malu, pikirku. Di kamar biasanya Tasya hanya mengenakan baju kaos longgar tanpa BH atau celana dalam lagi. Aku sering mencuri-curi pandang ke kemaluannya yang ditumbuhi oleh bulu-bulu yang lebat. Hampir seluruh badannya ditumbuhi bulu-bulu halus dan ini menambah keseksian dia.</p>
<p>Setelah beberapa bulan kami dekat, aku masih belum tahu kalau dia juga seorang lesbian sepertiku. Aku baru tahu setelah dia sendiri mengaku kepadaku. Kejadiannya sekitar 7-8 bulan yang lalu. Waktu itu aku sedang baca majalah di kamar dan Tasya main ke kamarku, katanya mau nonton VCD di kamarku. Sambil dia nonton, aku pergi mandi dan waktu aku selesai mandi aku sengaja keluar tanpa mengenakan apa-apa. Hal ini tidak pernah kulakukan sebelumnya karena sebenarnya aku cenderung pemalu dan tidak biasa memamerkan tubuh telanjangku ke orang lain. Aku hanya mau melihat reaksi Tasya saja kalau melihat aku dalam keadaan telanjang.</p>
<p>Begitu aku keluar kamar mandi, dia cukup kaget melihatku. Matanya terus memandangi tubuhku dari atas ke bawah dan dia berkomentar kalau badanku seksi dan dia suka buah dadaku yang menurutnya walaupun tidak begitu besar tapi kelihatan kencang. Tidak tahu kenapa, saat itu aku tidak merasa malu walaupun Tasya terus memandangku, dan malah aku sengaja berlama-lama mengeringkan rambutku sambil menghadap ke arahnya.</p>
<p>Setelah itu aku mengenakan baju tidur putih yang bahannya cukup tipis tanpa mengenakan apa-apa lagi seperti yang biasa dilakukan Tasya. Aku duduk bersila di depannya dan kami mulai mengobrol seperti biasanya. Karena posisi dudukku dan baju tidurku yang cukup pendek, Tasya dapat melihat kemaluanku dengan jelas, dan kuperhatikan dia beberapa kali melihat ke arah situ.</p>
<p>Pembicaraan kami pun berlanjut dan Tasya menanyakan aku apakah aku pernah pacaran dengan wanita, karena dia heran kenapa sampai saat ini aku belum pernah punya pacar cowok. Aku bilang belum dan aku tidak melanjutkan jawabanku lagi. Hal yang sama kutanyakan ke Tasya dan jawabannya sungguh di luar dugaanku. Tasya mengaku kalau sebenarnya dia adalah seorang lesbian dan dia pernah punya pacar wanita sewaktu di SMU. Terus terang, pernyataan itu membuat hatiku berbunga-bunga karena dia adalah wanita pertama yang kusuka dan kebetulan juga seorang lesbian.</p>
<p>Aku beranikan untuk berterus terang ke Tasya kalau aku juga seperti dia dan bahwa sudah lama aku memendam perasaan padanya. Tasya tersenyum dan mengatakan bahwa dia juga punya perasaan yang sama, tapi juga tidak berani mengatakan yang sebenarnya kepadaku sebelum dia yakin kalau aku juga suka sama dia. Tasya kemudian merebahkan kepalanya di pangkuanku.</p>
<p>Sambil membelai rambutnya, kami terus ngobrol dan menyesalkan kenapa selama ini masing-masing selalu berpura-pura dan tidak berani berterus terang. Aku bilang kalau aku takut dia malah menjauhiku kalau tahu aku seorang lesbian, karena sampai hari itu pun aku juga tidak tahu kalau Tasya seperti aku juga.</p>
<p>Beberapa saat kemudian Tasya mengajakku naik ke ranjang. Kami berciuman lama sekali, dan itulah pengalaman pertamaku berciuman dengan seseorang. Tasya kelihatan sudah cukup ahli dan tangannya mulai turun dan memegang buah dadaku. Aku sudah mulai terangsang dan aku minta dia untuk melepaskan baju tidurku.</p>
<p>Sambil berdiri, Tasya melepaskan baju kaos yang dikenakannya, tetapi masih mengenakan celana dalamnya. Kemudian dia menarik baju tidurku ke atas sehingga aku tidur telentang di hadapannya tanpa mengenakan apa-apa lagi. Tasya kemudian mulai menciumi buah dadaku dan menjilati kedua putingku. Aku sudah sangat terangsang dan kemaluanku mulai basah.</p>
<p>Ciuman Tasya mulai turun dan dia kemudian membuka kedua kakiku lebar-lebar. Rambut kemaluanku disibakkan dan Tasya mulai menjilati klitorisku. Aku terus mengerang sambil memejamkan mata. Hanya dalam selang waktu beberapa menit aku menikmati ciuman pertamaku, sentuhan seorang wanita dan sekarang pertama kalinya juga seseorang menjilati kemaluanku.</p>
<p>Tasya terus memainkan lidahnya di kemaluanku dari atas ke bawah dan beberapa kali menghisap klitorisku seperti menghisap sedotan. Aku orgasme beberapa kali dan sepertinya Tasya tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk bernapas dan terus memainkan lidahnya dan menjilatiku dengan semakin bernafsu.</p>
<p>Setelah puas menjilatiku, dia memintaku untuk melakukan hal yang sama kepadanya. Aku mulai dengan menjilati buah dadanya yang lumayan besar dan putingnya yang berwarna merah kecoklatan. Putingnya juga besar dan sepertinya sensitif sekali, karena Tasya langsung mendesah-desah dengan keras begitu aku menjilati putingnya. Tasya memintaku untuk menjilati kemaluannya, tapi aku masih belum puas bermain-main dengan putingnya yang seksi itu.</p>
<p>Jilatanku terus turun sampai ke kemaluannya. Celana dalamnya belum kulepaskan, dan di sebelah kiri kanan celananya terlihat rambut kemaluannya yang lebat. Aku mulai dengan menjilati sebelah kiri dan kanan selangkangannya. Tasya terus mendesah dan membuka kakinya lebih lebar lagi. Dia memintaku untuk melepaskan celananya, dan sambil pantatnya diangkat sedikit, kulepaskan celana dalamnya perlahan-lahan, dan terlihatlah dengan jelas kemaluannya.</p>
<p>Kulanjutkan dengan menjilati kemaluannya, matanya dipejamkan dan kedua tangannya ditaruh di atas kepalaku sambil sedikit menekan-nekan dan mengarahkan jilatanku ke klitorisnya. Ternyata menjilati kemaluan wanita sangat nikmat, lebih dari yang selama ini kubayangkan. Aku membuka bibir kemaluan Tasya dan kujilati bagian dalamnya yang berwarna kemerahan. Tasya sudah sangat basah dan semakin keras mengerang.</p>
<p>Kemudian Tasya memintaku untuk bangun dan melakukan posisi 69 dengan tubuhku berada di atas tubuhnya. Kami saling menjilati kemaluan satu sama lain sampai akhirnya kami beberapa kali orgasme. Setelah lelah, kami berciuman kembali dan tidur berpelukan sepanjang malam. Aku benar-benar menikmati pengalaman pertamaku ini, apalagi dengan orang secantik dan selembut Tasya.</p>
<p>Setelah malam itu, kami sering bercinta. Kadang-kadang aku menginap di kamarnya atau dia di kamarku. Memang kami tidak berani untuk tidur bersama setiap malam untuk menghindari omongan teman-teman kost lainnya.</p>
<p>Percintaan kami berakhir dua bulan yang lalu waktu Tasya beserta keluarganya pindah ke Australia. Aku sangat kehilangan dirinya dan tidak tahu apakah aku akan mendapatkan orang seperti dirinya lagi.</p>
<p>Saat ini aku sangat kesepian dan kadang-kadang timbul keinginan untuk menceritakan keadaanku yang sebenarnya ke orang lain, mungkin saja dengan begini aku akan lebih mudah mendapatkan teman wanita. Tapi sepertinya saat ini aku belum siap dan aku terlalu takut orangtuaku akan kecewa dan marah besar kalau mereka tahu satu-satunya anak wanitanya adalah seorang lesbian.</p>
<h4>Cerita seks lainnya:</h4><ul><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/pengalaman+pertama+berhubungan" title="pengalaman pertama berhubungan">pengalaman pertama berhubungan</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+berhubungan+intim" title="cerita berhubungan intim">cerita berhubungan intim</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/http%3A%2F%2Fwww+ceritadewasaonline+info%2F" title="http://www ceritadewasaonline info/">http://www ceritadewasaonline info/</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+berhubungan+seks" title="cerita berhubungan seks">cerita berhubungan seks</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/pengalaman+berhubungan+intim" title="Pengalaman berhubungan intim">Pengalaman berhubungan intim</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+pengalaman+berhubungan+intim" title="Cerita pengalaman berhubungan intim">Cerita pengalaman berhubungan intim</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+pengalaman+pertama+berhubungan" title="cerita pengalaman pertama berhubungan">cerita pengalaman pertama berhubungan</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/pengalaman+pertama+berhubungan+seks" title="pengalaman pertama berhubungan seks">pengalaman pertama berhubungan seks</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/pengalaman+pertama+berhubungan+intim" title="Pengalaman pertama berhubungan intim">Pengalaman pertama berhubungan intim</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/hubungan+intim+dengan+lesbi" title="hubungan intim dengan lesbi">hubungan intim dengan lesbi</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.198 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritadewasaonline.info/pengalaman-pertama-berhubungan-seks.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Ngentot Mama Lina Seksi</title>
		<link>http://www.ceritadewasaonline.info/pengalaman-ngentot-mama-lina-seksi.htm</link>
		<comments>http://www.ceritadewasaonline.info/pengalaman-ngentot-mama-lina-seksi.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 01:16:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jack Parlente</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[ibu seksi]]></category>
		<category><![CDATA[mama seksi]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot mama lina]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritadewasaonline.info/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Rendi, telah beristri, bekerja di sebuah Perusahaan Swasta, Istriku cukup lumayan, cantik dan bahenol, namun yang akan aku ceritakan ini bukan soal hubungan seks ku dengan istri ku, tapi soal hubungan ku dengan seorang setengah baya, yang setatusnya adalah tante, tapi kami sekeluarga memanggilnya dengan kata Mama, hal ini wajar, agar bisa lebih akrab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Rendi, telah beristri, bekerja di sebuah Perusahaan Swasta, Istriku cukup lumayan, cantik dan bahenol, namun yang akan aku ceritakan ini bukan soal hubungan seks ku dengan istri ku, tapi soal hubungan ku dengan seorang setengah baya, yang setatusnya adalah tante, tapi kami sekeluarga memanggilnya dengan kata Mama, hal ini wajar, agar bisa lebih akrab dan dekat.</p>
<p>Mama Lina, itulah sebutan dan nama dari tante istriku, Mama Lina adalah Istri dari Paman Istriku, maaf beliau (Mama Lina) adalah Istri kedua dari Paman Istriku, Cantik, tidak terlalu tinggi, wajar sebagaimana pribumi, kulitnya terbilang putih, mulus, walau bersetatus tante atau lebih tua dari istriku tapi belum terbilang tua, karena dia istri kedua dari Paman Istriku, semua lekuk tubuh sensualnya masih mengencang, mulai dari payudaranya, masih terangkat keatas dan bulat menonjol menggairahkan, putingnya juga masih seperti milik seorang gadis, perutnya belum mengendor, begitu juga pinggul dan pantatnya masih menonjol. <span id="more-11"></span></p>
<p>Anda tahu apa sebabnya ? ialah karena Mama Lina tidak pernah hamil dan ternyata selama 9 tahun berumah tangga dengan Paman Istriku, boleh dikatakan hanya 1 tahun dia digauli sebagaimana layaknya seorang istri, selebihnya selama 8 tahun selanjutnya, hanya dia bisa nikmati dengan sentuhan tangan suaminya, Itu semua dia alami Karena Sang suami memiliki penyakit Jantung kronis, dan sudah tiada.</p>
<p>Singkat ceritanya ialah Mama Lina sudah lebih kurang 1 tahun menjanda, sebatang kara, tidak punya anak, apalagi cucu, tidak bekerja dan juga tidak memiliki usaha, peninggalan suami pas-pasan, oleh karenanya aku bersama istri sudah berniat untuk membelanjakan atau memberikan nafkah kepada Mama Lina, mulai dari urusan bayar telepon, Listrik, sampai urusan belanja dapur. Hidupnya sehari-hari ditemani dengan seorang pembantu rumah tangga, yang juga menjadi tanggungan kami.</p>
<p>Setiap dua minggu sekali istriku selalu datang menemui Mama Lina untuk menjenguk sekaligus membawanya belanja keperluan dapur ke Supermarket, aku paling hanya telepon dan paling sebulan sekali menjenguknya. Semua ini kami lakukan hitung-hitung balas budi, karena sewaktu suaminya masih ada dan kondisi kehidupan kami belum mapan kami banyak dibantunya.Suatu ketika istriku tidak dapat pergi untuk menjenguk Mama Lina, padahal sudah jadualnya untuk belanja keperluan dapur Mama Lina, istriku kurang enak badan, terpaksa aku menggantikannya, dan hal ini bukan yang pertama kali sudah sering hampir 4-5 kali, namun yang kali ini suatu hal yang luar biasa.</p>
<p>Aku sudah tidak canggung lagi dengan Mama Lina, karena sudah biasa bertemu dan bahkan sudah seperti Ibu ku sendiri. Soal tidur, kami sering tidur bertiga, Aku, Istriku dan Mama Lina, bahkan pernah suatu siang kami, Aku dan Mama Lina tidur berdua dikamar, jadi tidak ada hal yang aneh, namun kali ini kejadiannya tidak terencana dan sangat mengagetkan.Selesai jam kerja di sore hari, aku langsung menuju kerumah Mama Lina, untuk menggantikan istriku menemani Mama Lina belanja keperluan dapur sebagaimana rutinnya, Setibanya di rumah Mama Lina aku langsung memarkirkan mobil ku di depan garasi rumahnya.</p>
<p>“Sore Ma……!” Sapa ku sambil menghampiri Mama Lina yang sedang tiduran di sofa sambil menonton TV, kucium tangannya dan kedua pipinya, hal ini adalah kebiasaan di keluarga kami kalau bertemu dalam satu keluarga.</p>
<p>“Dengan siapa kamu Ren …?” Mama Lina bertanya sambil melirik kearah pintu utama dan melihat ku dengan kening dikerut.</p>
<p>“Ya dengan Mobil Ma …..!” Jawab ku santai dan berbalik ke arah Lemari Es untuk mengambil segelas air dingin.</p>
<p>“Jangan bercanda …., Mama Tanya beneran “</p>
<p>“Rendy tidak bercanda Ma…., Rendy jawab benaran “ sekarang aku duduk di bangku tamu didepan sofanya, sambil ikutan menonton TV.</p>
<p>“Maksud Mama, Eva tidak ikut ?” Eva adalah Istri ku.</p>
<p>“Eva lagi tidak enak badan, jadinya Rendy yang kesini” Jawab ku sambil mengalihkan pandangan dari pesawat Televisi kearah Mama Lina, namun pandanganku terhenti di kedua panggkal pahanya yang sedang dilipat dan saling bertindihan.Kusadari Mama Lina tidak sadar kalau dasternya tersingkap atau dia tahu tapi karena hal ini sudah biasa maka tidak ada masalah bagi kami.</p>
<p>Kali ini aku merasakannya agak aneh, kog aku merasa terangsang dengan pandangan ini. Aku sadar sehingga kualihkan secepatnya pandanganku lagi kearah pesawat televisi, tapi perasaan ku menggoda, sehingga aku mencoba mecuri pandang dengan melirik kearah paha tadi, hati semakin tidak tenang, pikiranku mulai tidak normal. Kucoba membuang fikiran yang sudah mulai tidak menentu arah.</p>
<p>“Ma….. !`” sapaan ku berhenti, aku ingin menggajak nya bicara tapi pada saat aku menyapa sacara bersamaan aku memalingkan pandangan ku lagi kearah wajah Mama Lina, tapi pandangan ku berhenti di bagian dada Mama lina yang terlihat gundukannya dikarenakan belahan dastrernya pada bagian dada melorot kesamping, karena pada saat itu posisi tidur Mama Lina disofa miring.</p>
<p>” Ada apa Ren … ” Tanya nya mengagetkan ku, aku segera memalingkan pandanganku kewajahnya.</p>
<p>” Ayo Ma…, rapi-rapi, sudah hampir jam 7 nich, nanti Supermaket tutup”</p>
<p>” Ren…, badan Mama rasanya lemes, kurang bersemangat, bagaimana kalau besok aja kita belanjanya”</p>
<p>” Yah … Mama ….., Rendy udah sampai disini, lagi pula besok Rendy ada kerja lembur, dan iya kalau Eva sudah enakkan dan bisa kesini. ”</p>
<p>“Ya udah kapan kapan aja “ sambutnya lagi,</p>
<p>“Enggak ah Ma… sekarang aja, nanti kalau ditunda-tunda jadi enggak jadi kayak dulu”</p>
<p>“Kamu memang orangnya keras kepala Ren, kalau ada maunya tidak bisa ditunda”</p>
<p>“Ya sudah Mama salin dulu, tapi kalau nanti Mama jadi sakit kamu yang repot juga”</p>
<p>Akhirnya dengan malas dia bangun dari sofanya menuju kamar, akupun melanjutkan menonton Televisi. Selang beberapa menit aku menunggu dengan tidak sabar, akupun melirik kearah pintu kamar, dan tiba tiba mata ku terperanjat melihat pandangan didalam kamar, kulihat Mama Lina membelakangi pintu kamar dengan hanya menggunakan celana dalam tanpa BH, sayangnya posisinya juga membelakangi ku sehingga aku hanya bisa menikmati lekukan tubuhnya dari belakang, dan cukup indah masih seperti anak remaja, semuanya serba ketat dan gempal. Aku semakin kacau.</p>
<p>Kuperhatikan terus dari ujung kaki sampai ujung kepalanya, rambut yang terurai semakin menggairahkan ku. Kulihat Mama lina sedang memakai Baju Kemeja putih berenda, wah rupanya dia tidak memakai BH, setelah itu dia pakai celana Jean ketat panjangnya tiga-per-empat, dan langsung berbalik kearah pintu kamar, aku dengan cepat juga memalingkan muka kearah Televisi seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi tadi di kamar.</p>
<p>“Ayo Ren …. Kita jalan “, sapa Mama Lina yang sudah keluar dari kamarnya, dan akupun meraih remote TV untuk mematikan TV, sambil bangun dari sofa yang aku duduki.</p>
<p>“Kalau nanti Mama sakit, kamu harus tanggung ya Rend !” Mama Lina membuka lagi pembicaraan setelah beberapa menit kami meninggalkan rumahnya dan Mama lina sedang menikmati jalan sambil duduk disebelahku. Aku sambil memegang setir mobil menjawab dengan santai dan manja.</p>
<p>” Ya …. Iya dong Ma…., siapa lagi yang ngurus Mama kalau bukan Rendy.”</p>
<p>” Mama sambil rebahan ya Ren ?” pintanya sambil merebahkan sandaran jok mobil yang didudukinya.</p>
<p>” Boleh kan Ren ?” pintanya lagi sambil memegang tangan kiriku, tapi saat ini posisi Mama Lina sudah rebah dan terlentang, seolah-olah memerkan dadanya yang menonjol menggairahkan itu.</p>
<p>Aku menoleh kesamping kearah Mama Lina sambil mengangguk, tapi lagi-lagi pandanganku terhenti didada Mama Lina, yang terlihat samar lekukannya dari balik bajunya yang sengaja tidak dikancing pada bagian atasnya. Kuarahkan lagi pandangan ku kejalan raya agar tidak terjadi apa-apa.Setibanya di Supermarket mobil aku parkirkan ditempatnya dan kami pun berjalan menuju kedalam supermarket sambil bergandengan, Mama lina mengait tanganku untuk digandolinya, hal ini sudah biasa bagi kami, tapi kali ini darah ku berdesar-desar saat bergandengan tangan dengan Mama Lina, bagaimana tidak berdesar, yang sedari tadi dalam fikiran ku terlintas terus lekukan buah dada Mama Lina kini tersenggol-senggol mengenai siku kiri ku seirama dengan gerakan langkah kami selama menuju kedalam Supermarket.</p>
<p>Setibanya didalam supermarket aku langsung menyambar lorry yang berada disisi pintu masuk supermarket, dan kami pun bergandengan lagi menuju ke barisan etalase keperluan Rumah tangga. Satu persatu barang keperluan dapur dipilih dan diambil oleh Mama Lina, akupun asik dengan kegiatan ku sendiri memperhatikan lekukan badan Mama lina yang masih mengencang yang bergerak terus kadang merunduk dan berdiri lagi sambil ia memeriksa barang yang terdapat dietalase. Khayalan ku terhenti karena sapaannya.</p>
<p>” Rend coba kamu lihat labelnya ini, apakah jangka waktunya masih berlaku tidak “ pintanya sambil jongkok dan dan tanpa melihatku kebelakang dengan tangan memegang sebuah makanan kaleng memberikan kepada ku.Kemudian aku bergerak mendekati Mama Lina dan berdiri tepat disampingnya yang sedang jongkok, kuambil makanan kaleng yang ada ditangannya dan kuperhatikan dengan seksama label masa berlaku yang dimaksud.</p>
<p>” Masih lama nih Ma……” Jawab ku sambil mengembalikan makanan kaleng tadi kepada Mama Lina, yang saat ini posisinya sedang membungkuk memperhatikan barang-barang yang lain.</p>
<p>Aku terperanjat melihat dua buah gunung yang menempel di dada Mama Lina, terlihat jelas karena posisinya yang membungkuk sehingga bajunya menggantung kebawah.Buah dada yang indah, masih mengencang, dan memiliki putting yang masih kencang dan tidak terlalu besar, maklum karena Mama Lina belum pernah menyusui bayi. Bentuknya masih bagus, tanpa keriput sedikitpun di sekitar putingnya, putih mulus dan terawat dengan baik. Ada sekitar sepuluh detik aku memperhatikannya, terhenti karena Mama lina berdiri dan bergeser posisi.Kini akupun tetap berada disampingnya, dengan maksud untuk mendapatkan kesempatan memandang seperti tadi, dan benar Mama lina sebentar-bentar menunduk, dan kesempatan itu tidak aku lewati dengan langsung mengincar pandangan buah dada yang indah itu. Sudah lebih kurang setengah jam kami mengitari etalase demi etalase, tiba-tiba dari posisi jongkok Mama Lina meraih tangan kiriku yang sedang berada disebelahnya. Sambil menggandul ditanganku Mama Lina berdiri dan merapatkan badannya disisi badan ku langsung meletakkan wajahnya di bahu kiri ku sambil bergumam</p>
<p>” Mama pusing Ren.. Mama udah enggak kuat lagi” Kemudian tangan kiri ku mengait pinggul Mama Lina setengah memeluk dan berkata,</p>
<p>“Ya.. sudah Ma, kita pulang aja, kalau masih ada yang kurang belanjaannya bisa dibeli di warung dekat rumah aja” Tanpa menunggu jawaban Mama Lina, sambil tetap merangkulnya tangan kanan ku meraih kereta dorong belanjaan dan berjalan menuju Kasir.</p>
<p>Selesai membayar semua belanjaan aku pun meminta petugas kasir untuk membantu membawakan barang ke Mobil, sementara aku berjalan didepan sambil merangkul Mama Lina. Yang kurasakan sekarang buah dada Mama Lina menempel di rusuk kiri ku, dan nafasnya yang wangi sangat terasa disisi pipi ku. Setibanya di Mobil aku pun membukakan pintu dan membimbing Mama Lina masuk ke Mobil, perlahan aku dudukan dan kurebahkan ke kursi yang berada disebelah supir, dan sambil kedua tangan ku menahan badan Mama Lina rebah, tersenggol lah kedua sisi buah dadanya oleh tangan ku, aduh… alangkah kerasnya tuh buah dada.</p>
<p>Diperjalanan pulang kutanyakan apakah perlu diperiksa ke dokter, tapi Mama Lina mengatakan tidak perlu, karena dia hanya merasa pusing biasa, mungkin masuk angin. Aku pun menyetujui dan langsung mengarahkan mobil ke rumah Mama Lina. Kusempatkan memegang kening Mama Lina dengan tujuan memeriksa apakah badannya panas atau tidak. Kupalingkan pandangan ku sekali sekali kearah Mama Lina yang tiduran disamping.</p>
<p>“Masih pusing Ma….., Tanyaku.</p>
<p>“Sedikit ….. ” jawabnya singkat.</p>
<p>“Ntar juga sembuh Ma …….”.</p>
<p>Pembicaraan kami terhenti dan diam beberapa saat.Mobil aku parkir didepan rumah, dan dengan bergegas aku turun terus menghampiri sisi pintu kiri mobil untuk membukakan pintu bagi Mama Lina, pintu pun ku buka, kulihat Mama Lina terasa berat mengangkat badannya dari Jok Mobil.</p>
<p>“Bantu Mama dong Ren…., dasar tidak bertanggung jawab ” hardiknya manja.</p>
<p>Akupun langsung merangkul pinggulnya turun dari Mobil dan langsung memapah kedalam rumah. Setibanya didepan pintu masuk Mbok Atik pembantu Mama Lina membukakan pintu dan aku sambil membopong Mama Lina memerintahkan Mbok Atik untuk menurunkan barang serta menguncil kembali mobilnya.</p>
<p>“Mama mau tiduran di Sofa atau dikamar?”</p>
<p>“Dikamar aja Rend” Kami pun menuju kamar, dan aku langsung membaringkan Mama Lina terlentang di tempat tidur. Mama Lina pun berbaring sambil memegang kepalanya.</p>
<p>“Rendy balur minyak kayu putih dulu ya.. perut Mama, setelah itu Rendy pijit kepala Mama” Pintaku.</p>
<p>Mama Lina diam saja, dan aku mengartikan dia setuju, akupun langsung beranjak mengambil minyak kayu putih yang tersedia di tempat obat. Kuangkat sedikit baju kemeja bagian bawah Mama Lina sampai batas rusuk bawahnya, dan akupun membalurkan minyak kayu putih tadi, dengan lembut aku lakukan.</p>
<p>“Ma … Kancing celana Mama di lepas ya… biar lega bernafas” Aku tahu dia pasti tidak menjawab dan aku pun langsung melepas kancing celana nya.</p>
<p>Selesai aku membalur bagian perutnya dan tanpa meminta ijin aku membalur bagian dada atasnya, saat itu Mama lina kuperhatikan sedang memejamkan matanya sambil kedua tangannya memegangi kepala. Dan aku duduk diatas tempat tidur disisi kanan Mama Lina. Sesuai janji ku, selesai membalur akupun mulai memijit kepala Mama Lina, perlahan kutarik kedua tangannya kebawah, dan tanpa kusadari tangan kanannya jatuh diatas pangkal paha ku hampir mengenai punya ku.</p>
<p>Perlahan aku pijit dengan lembut kepalanya, dia pun menikmatinya, tiba-tiba aku teringat pemandangan yang indah sewaktu di supermarket tadi, dua gundukan daging yang menggairahkan, seketika itu juga pandangan ku berpindah ke dada Mama Lina, tapi sial yang terlihat hanya bagian atasnya, bajunya hanya terkuak sedikit pada saat aku membalurkan minyak kayu putih pada bagian dada tadi.</p>
<p>“Ren …. Jangan pulang dulu…, temani Mama sampai enakan” Aku terkejut dengan suara tadi dan akupun memalingkan muka ku kearah wajah Mama Lina, sambil mengangguk.</p>
<p>Pijitan ku terus pada kepala Mama Lina, dan Dia pun kembali memjamkan matanya.Terasa capek karena posisi ku memijit agak membungkuk, akupun pindah duduk di lantai karpet. Sekarang posisi memijit ku sambil duduk dilantai dengan kepala aku tidurkan ditempat tidur, pas berada disamping karena buah dada Mama Lina.Karena mungkin terlalu capek, akupun tertidur pulas, ada mungkin 15 menit, dan aku terbangun karena tekanan buah dada sebelah Kanan Mama Lina pada ubun-ubun kepala ku.</p>
<p>Kuangkat kepala ku, kudapatkan Mama Lina sedang tidur miring kekanan menghadap ku, dan tanpa kusadari sekarang pipi ku menempel langsung pada bagian atas buah dada kanan Mama Lina. Aku tidak berani bergerak, kudiamkan saja pipi ku menempel, tapi barang ku mulai bergerak mengeras. Ada lebih kurang satu menit aku terdiam pada posisi ini, dan tiba-tiba Mama Lina memindahkan tangan kirinya yang sedari tadi di atas paha nya ke bahu ku tepat dibawah leher, seolah-olah memeluk ku. Gerakan Mama Lina tadi menyebakan bajunya yang terkuak nyangkut di dagu ku dan tertarik kebawah, sehingga makin terbuka lebar buah dada yang terbuka, dan kepala ku juga ikut terdorong kebawah dengan posisi tidur Mama Lina masih miring dan yang menyenangkan bagi ku ialah putting susu kanan yang kecil mungil tadi berada satu centimeter diujung bibir ku.</p>
<p>Aku heran dan gemeter, apakah ini sengaja dilakukan oleh Mama Lina, dan apakah dia benar-benar tidur sehingga tidak mengetahui keadaan ini. Sementara fikiran ku bertanya-tanya tanpa kusadari lidah ku sudah mulai menjilati pinggiran putting yang kecil mungil dan halus itu, terus aku jilati sepuas ku dan perlahan aku geser kepala ku sedikit agar lebih dekat dan dapat mengisap serta mengulumnya. Kini aku isap putting yang menggairahkan itu.</p>
<p>Mama lina masih memejamkan matanya, entah tidur atau tidak tapi aku sudah tidak perduli lagi dan perlahan aku buka satu lagi kancing baju atasnya, agar aku bisa lebih leluasa menjilati buah dada yang indah ini. Tiba-tiba ada gerakan pada kaki Mama Lina, dan dengan segera aku lepas kuluman bibir ku di putting Mama Lina dan aku ber pura-pura tidur, wah bener Mama Lina menggerakkan badannya dan berpindah posisi miring membelakangi ku.</p>
<p>Untuk beberapa saat aku terdiam sambil memperhatikan punggung Mama Lina, namun fikiran ku terus merayap mencari akal agar aku dapat menikmati buah dada yang montok tadi, maklum nafsu ku sudah mulai tidak bisa dibendung, untuk pulang kerumah menyalurkannya perlu waktu lagi, sementara disini sudah mulai dapat kesempatan, apalagi aku tahu Mama Lina sudah bertahun-tahun tidak pernah di sentuh barang sakti, pasti vaginanya sudah mulai rapat dan ketat lagi.Akhirnya aku putuskan untuk memberanikan diri naik ketempat tidur dan berbaring disebelah Mama lina dengan posisi miring menghadap punggung Mama Lina.</p>
<p>Untuk beberapa saat aku merfikir memulainya dari mana, aku bingung, tapi akhirnya aku putuskan untuk memeluk Mama Lina dari belakang dengan melingkarkan tangan kanan ku ketengah dadanya. Perlahan ku tempelkan telapak tangan ku bagian atas buah dada kiri Mama Lina, wah…. benjolannya masih keras, pelan ku gerakkan tangan ku turun ke bagian tengah buah dadanya, sekarang posisi tangan ku sedang mempermainkan putting buah dada Mama Lina sambil sebentar &#8211; sebentar meremasnya.</p>
<p>Kurasakan badan Mama Lina bergerak dan akupun berhenti dalam permainan ku sejenak dalam posisi masih memeluk Mama Lina dan tangan ku masih berada diatas gundukan buah dada Mama Lina. Bersamaan akan aku mulai lagi permainan ku tadi, karena aku anggap Mama Lina sudah pulas lagi, ku dengar suara serak dan parau dari sebelah ku.</p>
<p>“Ren dari tadi Mama tahu kalau Rendy mimik, dan sekarang pegangi susu Mama “ suara ini datangnya dari Mama Lina. Aku sangat terkejut dan kaku sekujur tubuh ku, takut dan bersalah.</p>
<p>“Ma …..” belum selesai aku berbicara tiba–tiba tangan ku yang berada diatas buah dada Mama Lina dipegangnya dan ia berkata</p>
<p>“Tidak apa-apa Ren……., kalau kamu masih belum puas teruskan aja, asal kamu bisa memberi kesenangan pada Mama”</p>
<p>Tanpa menunggu aba-aba lagi dari Mama Lina, aku segera menarik badan Mama Lina sehingga pada posisi telentang, dan karena kancing bajunya sudah terbuka setengah maka terkuak lah buah dada yang aku remas -remas tadi.</p>
<p>“Rendy akan memberikan kepuasan yang telah lama hilang dari Mama malam ini” selesai berkata demikian, aku langsung menerkam dan melumat bibir mungil yang dihadapan ku.</p>
<p>Permainan bibir berjalan sangat panjang, kami saling bertukar menghisap bibir atas dan bawah, saling mempermainkan lidah, bagaikan dua orang yang sudah lama tidak berciuman.Permainan bibir dan ciuman kuhentikan dan aku berkata lembut sambil memandangi mata Mama Lina yang sudah mulai layu.</p>
<p>“Mama sudah puas ciuman Ma ……..” dia tersenyum dan mengangguk.</p>
<p>“Sekarang Mama nikmati ya……., Mama diam dan nikmatilah, Rendy akan memberikan kesenangan yang Mama minta”</p>
<p>Perlahan aku pelorotkan badan ku yang ada diatas Mama Lina turun kebawah, sehingga muka ku persis diatas dada Mama Lina. Ku ciumi lembut leher kirinya dan perlahan berputar ke leher sebelah kanan, setelah puas dengan ciuman di leher, ciuman aku pindahkan kebagian atas dada Mama lina.</p>
<p>Pertama aku ciumi dan aku jilati gundukan kedua dadanya, dan bergeser kebagian tengah, kini aku kitari keliling gundukan buah dada yang kanan dan sekarang yang kiri. Perlahan ku rambatkan juluran lidah ku keatas puting susu kiri Mama lina dan kuisap sedikit-sedikit sambil menggigit halus. Kuraskan kedua tangan Mama Lina mulai mendekap badan ku, dan kurasakan juga Mama Lina mulai menggerak-gerakkan pinggulnya yang kutahu dia sedang mencari ganjalan agar menekan tepat dibibir vaginanya. Aku pindahkan lagi kuluman dan permainan bibir ku ke putting susu Mama Lina yang sebelah kanan, Mama lina makin bergerak agak cepat, dia mulai terangsang penuh.</p>
<p>“Enak Ma….., ???Mama Senang .??…..”sambung ku lagi.</p>
<p>“Ren …. Mama senang, Mama Puas….., Kamu pinter, kamu lembut …….anak manis, …… Mama sudah lama sekali tidak merasakan ini, Mama ….mau kalau setiap ketemu Kamu cium dan mimik Mama………”“Ren ……, lagi nak ……., jangan terlalu lama ngobrolnya, teruskan aja apa yang kamu mau lakukan, Mama pasti senang”.</p>
<p>“Cium lagi Ren ….., Mimik lagi anak manja …..’”</p>
<p>Aku pun meneruskan permainan lidah ku di kedua susu yang mentul dan keras itu. Perlahan ciuman dan jilatan ku turun ebawah sambil aku melorotkan lagi badan ku, kini kaki ku sudah menyentuh lantai. Ku ciumi perlahan perut Mama lina terus kebawah sambil membuka resliting celana Mama lina.Sekarang posisi ciuman ku sudah berada dibagian bawah pusar Mama Lina, kira-kira satu centi lagi diatas klitoris Mama lina.</p>
<p>Badannya mulai bergerak tidak menentu, pinggulnya naik turun seakan ingin segera ujung lidah ku menyentuh belahan yang sudah mulai membasah ini, sesekali kudengar suara desis dari bibir mungil Mama Lina dan nafas yang sudah mulai tidak menentu.</p>
<p>“ahhkk…. Hek …….ehhhh, yaa…hhhh Ren……”</p>
<p>Perlahan kutarik dan lepaskan celana jean dan sekaligus celana dalam Mama lina, badan dan kakinya ikut dilenturkan agar mudah aku melepaskan celana yang menutupi vaginanya.Sekarang celananya sudah terlepas tidak ada lagi yang menutupi kulit mulus Mama Lina dari pusar kebawah, sementara kancing baju yang dipakainya sudah kubuka semua dan telah terbuka lebar.Aku terdiam sejenak dan memandangi tubuh mulus Mama Lina yang sedang telentang pasrah sambil memejamkan matanya. Kupandangi dari kedua buah dadanya sampai ketengah selangkangannya yang menjepit vagina yang ditumbuhi bulu halus dan pirang, Berulang kali aku pandangi, akhirnya aku terkejut oleh suara Mama Lina.</p>
<p>“Anak manja …….., apa sudah selesai kamu puaskan Mama, …..atau Mama cukup kamu pandangi saja seperti itu??”</p>
<p>“Tentu tidak Mama sayang ……, Mama akan mendapatkan kepuasan yang belum pernah Mama dapatkan sebelumnya,. …..tapi Rendy tidak akan menyia-nyiakan pemandangan yang langka ini, jadi Rendy puas-puaskan dulu memandangi Mama….”</p>
<p>“Ayo lah Ren…., mama sudah tidak sabar lagi merasakan kepuasan yang kamu janjikan….., kamu bisa memandang Mama kapan saja dan dimana saja nanti, Mama pasti kasih asal kamu selesaikan dulu sekarang”</p>
<p>Tanpa menjawab apa-apa lagi aku pun berlutut diujung kakinya du tengah kedua kakinya. Perlahan aku elus dengan kedua tangan ku kedua kaki Mama Lina mulai dari bawah betisnya sampai kepangkal pahanya ber-ulang kali naik turun sambil kedua ujung jari ku menyentuh sekali-sekali bibir kiri dan kanan Vaginannya. Rangsangan mulai dirasakan Mama Lina, kaki dan pinggulnya mulai bergerak dan kejang-kejang. Melihat hal itu aku langsung membungkuk dan menjilati sekeliling bibir Vagina Mama Lina.</p>
<p>Tercium aroma khas vagina yang terawat dan basah….., dan aku yakin kalau vaginan ini sudah bertahun-tahun tidak disentuh benda keras, kelihatan rapat dan tidak berkerut seperti genjer ayam, satu keuntung besar aku dapatkan. Permainan lidah ku berlangsung semakit lincah dan sembari menggigit dan menghisap bagian klitoris yang benar sensitive itu.</p>
<p>“Ren…. Enak sekali Rennnn ……., kamu benar ……, Mama belum pernah merasakan jilatan seperti ini …… sungguh sayang …., ahhhkkk Ren …..ahhhh ehhhhhhhlk kkk….. “ sambil bergumam Mama lina menarik rambut ku dengan kedua tangannya agar aku merapatkan dan menekan bibir ku kuat ke Vaginannya.</p>
<p>“Jangan berhenti Ren ….. , Mama puas…., Mama ahhkk…. Mam….., Mama menikmatinya Ren ……. Uhhh…..”</p>
<p>“Kamu apain Ren……, Tobat anakku….., ampun … Mama ……..ahkkkkk ahhhhhhh enak Ren……,”Aku tidak perdulikan ocehannya, terus aku jilati vaginanya yang semakin basah, kutahan pinggulnya dengan kedua belah tangan ku agar tidak menggangu permainan ku dengan rontakan nya.</p>
<p>Tiba &#8211; tiba aku rasakan kepala ku diangkat keatas dan kulihat Mama Lina sudah duduk dihadapan ku, dengan cepat kedua tangan Mama Lina meraih ikat pinggang dan kancing celana ku, dan membuka resliting celnaa ku. Kurasakan darah ku mengalir cepat dan bulu roma ku berdiri pada saat tangan kanan Mama Lina menelusup masuk kedalam celanaku dan mengelus batang kemaluan ku.</p>
<p>Ku diamkan saja apa Maunya. Mama lina terus mengelus sembari meremas remasa kelamin ku. Dengan tidak sabar di pelorotinya celana ku, dan karena posisi kuberdiri dengan lutut diatas tempat tidur dihadapan Mama Lina, sehingga gerakan tanganya melorotkan celanaku dan celana dalam ku berhenti di lutut ku, tapi itu semua sudah cukup untuk membuat kemaluan ku tidak tertutup lagi</p>
<p>“Ren ….. besar sekali kamu punya “ di berkata sambil mengelus-ngelus batang dan kantong biji kemaluan ku.</p>
<p>“Ren apa tidak sakit Ren …., Mama kan sudah lama tidak dimasuki ……”</p>
<p>“Tidak Ma….., Nanti Rendy akan pelan &#8211; pelan dan Mama akan merasakan nya nikmat..”</p>
<p>Dan ahhhhhk….., tersentak nafasku, Mama Lina sudah mengulunm ujung batang kemaluan ku, dihisapnya dan sambil memaju dan memundurkan kepalanya aku rasakan setengah batang kemaluan ku sudah masuk kerongga mulut Mama Lina. Aku biarkan dia menikmatinya sambil membuka baju ku, setelah itu, aku membuka baju Mama Lina yang sudah terlepas kancingnya tadi.</p>
<p>Sambil Mama Lina menikmati Batang kemaluanku, kedua tanganku juga meremas-remas buah dadanya dan sekali mengelus punggungnya dan yang lainnya. Pokoknya hampir seluruh badannya aku elus. Ciuman Mama Lina di batang kemaluan ku berhenti dan kedua tangan ku diraihnya, dan ditariknya sambil Mama Lina merebahkan kembali Badan nya, maka badan ku pun tertarik merebah menimpa diatas badannya.</p>
<p>” Mama sudah tidak sabar lagi kepengen meraskan batang milik anak Mama yang besar itu Ren ..”</p>
<p>“Iya … Sayang …. “ Sambut ku sambil menyambar bibir mungil Mama Lina.</p>
<p>Sembari mencium, pinggulku ku gerak-gerakan untuk mengarahkan Batang sakti ku masuk ke mulut Vagina Mama Lina yang sudah sempit lagi itu. Kurasakan Batang ku sudah menempel di Vaginanya, dan aku rasakan Mama lina mengangkat pinggulnya untuk menekan rapat kebatang kemaluanku.Kuangkat pantat ku dan pelan kuarahkan ujung batang kemaluan ku tepat di tengah lubang yang basah ini, kutekan pelan-pelan dan ahkkkk tersentak badan Mama Lina.</p>
<p>“Sakit Ma ……??”, Tanya ku dan Mama Lina tidak menjawab dia hanya mendesih…. Ehhhhhhh. Aku terus menekan sedikit demi sedikit, masuk sudah setengah kepala batang kemaluan ku…..Kutekan terus dan sekarang seluruh kepala kemaluan ku sudah masuk di lobang nikmat ini…… Kutekan terus per lahan dan pelan dan masuk lah setengah Batang ku tapi Mama Lina berteriak…..</p>
<p>“Aduhhhhhh … ahhkkk…”Aku hentikan gerakan menekan ku dan akubertanya :</p>
<p>“Sakit Ma……,??”Dia mengangguk tapi kedua tangannya memegang pinggul ku seakan tidak membolehkan aku mencabut batang ku dari vaginanya.</p>
<p>Aku berfikir, baru setengah sudah sakit dan terasa terjepit. Memang Batang ku cukup besar diatas normal sementara Mama Lina tipikal tubuh badan pribumi yang mungil dan memiliki barang yang sempit, aku jadi penasaran dan ingin merasakan nikmatnya kalau seluruh batang ku masuk. Perlahan kugerakan lagi pantatku menekan kedalam, lembut sekali dan sangat perlahan.</p>
<p>“Ehh… ahhh…, Ren…. Ahhhhh…. Iya ehhhh ahh …. Ren …..,” itu lah suara yang keluar dari mulut Mama Lina seiring gerakan ku naik turun yang menyebabkan barang ku keluar masuk.</p>
<p>Sedikit -sedikit gerakan menekan kedalam aku tambah sehingga batang ku yang masuk semakin dalam. Aku rasakan diujung batang ku seperti di hisap-hisap, alangkah nikmatnya, aku hampir tidak tahan. Aku perkirakan semua batang ku sudah ambles kedalam karena terasa hangat dan nikmat. Dengan lembut aku rapatkan selangkangan ku sambil kedua tangan ku menguak dan mengangkat kedua kaki Mama Lina. Ku tekan rapat-rapat dan ku gerakkan memutar pinggul ku dengan pahaku menempel rapat dan semua batang ku telah masuk.</p>
<p>“Ren ….. nikmat sekali ren, sudah lama sekali Mama tidak merasakan seperti ini, kamu pandai bermain seks … Nak… Mama … bisa ketagihan Ren….”Aku terus memutar pinggul ku dan menciumi lehernya sambil merapatkan badan ku.</p>
<p>“Mama bisa minta kapan saja ….., Mama tinggal telepon dan Rendy pasti melayani Mama ……”</p>
<p>“Ma ….. punya Mama masih enak, rapat dan menghisap …., Rendy menikmatinya Ma…..”</p>
<p>“Ahhhkk Ren …., goyang ehhhhh, goyangnya lebih cepat sayang ….., Mama kayaknya mau dapat “</p>
<p>“ahhkkkk Ren ,,,, ya…. Uhhhh ……hekkk .. Ren……”Aku hentikan sejenak goyangan ku dan kuperbaiki posisi ku dengan sedikit menarik dengkul ku agak menekuk agar pada saat dapat nanti aku bisa leluasa mengankat dan menekan pantat ku dengan leluasa.</p>
<p>“Jangan berhenti sayang …..”</p>
<p>“tenang Ma…. Kita dapatnya bareng, … pada saat dapat nanti Rendy akan keluar masuk kan punya Rendy biar Mama lebih nikmat lagi…. Kalau dapat Mama bilang Ya…..” aku sudah mulai menggoyang pinggul ku dengan merapatkan panggkal paha ku.</p>
<p>“Ma…. Sekarang nikmati, pejam kan mata Mama ….” Ku goyangkan terus berputar pinggul ku makin lama makin cepat.</p>
<p>“Ren …. Ahhhh, terus Ren…., Terus Sayang,….. auuu… ahh…., ya…. Ren….Ya……”</p>
<p>“Uh ……ahhhh, eeeenak,,,, sekali anak ku….., kamu…. Ahhhhh, goyang … tekan,,,,,,” Semakin mengejang seluruh badan Mama Lina dan goyangan ku semakin cepat berputar.</p>
<p>“Ren… ahhhh, Ren …. Reennnn , Mam ….. ahhhh, ahhhh .., Ren ……. Dah……., Mama mau ….., Mama keluar anakku…..” Mendengar perkataan itu aku pun mempercepat goyang ku.“Ren…. Enak Ren,,,,,,,… terus Rennn…” aku tekan dan aku goyang terus, sambil aku menahan agar aku tidak keluar. Sengaja aku lakukan agar Mama Lina puas dulu baru aku keluar.</p>
<p>“Dapat yang panjang …. Ma,….. Ah,….. yang lama … Ma …. Puaskan Ma……”</p>
<p>“Mama puas Ren,,,,,…. Terus Ren,,,,,,,. Ahhhhh, ahh huhhhh…. Kamu dapat juga sayang …. “</p>
<p>Aku hentikan goyangan ku dan dengan segera aku ganti dengan gerakan naik turun.</p>
<p>“Au …. Ahh… Ren ,,,,, , ya…. Ren… yang kayak gini makin nikmat Sayang…..”</p>
<p>“Puas…. Puas…. Aduhh… enak sekali…. Ahhhhhh, yam,,,yahhhhhhh terus Ren …….” Gerakan naik turun ku semakin cepat dan batang ku terasa semakin keras nafas ku semakin tidak teratur.</p>
<p>“Ma… ahhhh, Ma….., ya….. Mama Sayangg ……, enak sekali Ma…., Punya Mama kering ……, auuu Aduhhhh”</p>
<p>“Ahhhhh, Mam…. Rendy mau dapat Ma….”</p>
<p>“Dapat lah Sayang …. Dapatlah…., semburkan semua …… Mama sudah puas sekali….”</p>
<p>“Ayo …. Ayo Manja……”Akupercepat gerakan ku sehingga bunyi yang terdengar semakin berdecak, agak kutegakkan badan ku mengambil posisi siap untuk menembakkan cairan dari Batang ku.</p>
<p>“Rendy dapat Ma …., Keluar ahhhhhh Ma,,,,,,,”.</p>
<p>“Re…. Mama juga rasakan sayang…., hou…. Keras sekali sayang,,,,,,,, terus Nak……, puaskan manja….”</p>
<p>Semburan mani ku banyak sekali dan berulang ulang, tidak tahu berapa kali, dan gerakkan ku makin pelan dan akhirnya tubuh ku lunglai menimpa tubuh kecil Mama Lina.Aku masih terkulai diatas Mama lina sementara batangku belum kucabut dan masih kurasakan denyutan-denyut liang vagina Mama lina.</p>
<p>Perlahan aku jatuh kesamping kanan Mama Lina yang sedang terbaring lunglai juga, aku masih memejamkan mata ku sambil menikmati permainan yang baru saja selesai. Mama Lina memiringkan badannya menghadapku dan tangan kirinya melingkari dada ku, dan menciumi pipi ku.</p>
<p>“Mama puas sekali Ren…, Terima kasih Na……,”dia terus menciumi pipi ku dan aku melirik sambil tersenyum. Kulihat dia sedang menyibak selangkangannya dengan tissue yang ada di meja samping tempat tidur, dan setelah selesai Mama lina bangkit duduk mengelap batang ku.</p>
<h4>Cerita seks lainnya:</h4><ul><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/http%3A%2F%2Fwww+ceritadewasaonline+info%2F" title="http://www ceritadewasaonline info/">http://www ceritadewasaonline info/</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/www+cerita+dewasa+online+com" title="www cerita dewasa online com">www cerita dewasa online com</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/pengalaman+ngentot" title="Pengalaman ngentot">Pengalaman ngentot</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/ngentot+mama" title="ngentot mama">ngentot mama</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/www+cerita+manja+com" title="www cerita manja com">www cerita manja com</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+sex+bibi+montok" title="Cerita sex bibi Montok">Cerita sex bibi Montok</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/pengalaman+ngentot+d+mobil" title="Pengalaman ngentot d mobil">Pengalaman ngentot d mobil</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/pengalaman+ngentot+di+mobil" title="pengalaman ngentot di mobil">pengalaman ngentot di mobil</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/kepuasan+dari+mama" title="kepuasan dari mama">kepuasan dari mama</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/tante+langsung+ngentot+enggak+lepas+baju" title="tante langsung ngentot enggak lepas baju">tante langsung ngentot enggak lepas baju</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.496 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritadewasaonline.info/pengalaman-ngentot-mama-lina-seksi.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karena Ketagihan Ngentot</title>
		<link>http://www.ceritadewasaonline.info/karena-ketagihan-ngentot.htm</link>
		<comments>http://www.ceritadewasaonline.info/karena-ketagihan-ngentot.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 01:07:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jack Parlente</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[ketagihan ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritadewasaonline.info/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Saya mau bercerita tentang pengalaman saya beberapa waktu yang lalu. Saya adalah wanita yang memiliki hyperseksual yang dalam hal ini kecanduan akan kebiasaan sepongan (melakukan oral seks terhadap kemaluan pria). Sudah lama sekali saya waktu pertama kali menghisap kemaluan pria. Waktu itu umur saya 16 tahun. Dan setelah kejadian itu, saya sudah mendapatkan 2 kejantanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mau bercerita tentang pengalaman saya beberapa waktu yang lalu. Saya adalah wanita yang memiliki hyperseksual yang dalam hal ini kecanduan akan kebiasaan sepongan (melakukan oral seks terhadap kemaluan pria). Sudah lama sekali saya waktu pertama kali menghisap kemaluan pria. Waktu itu umur saya 16 tahun. Dan setelah kejadian itu, saya sudah mendapatkan 2 kejantanan pria lagi untuk saya sepong. Saya benar-benar tidak puas dengan tidak terpenuhinya keinginan saya untuk menghisap kemaluan pria. Masalahnya saya sering dipingit orang tua, apalagi ditambah dengan lingkungan sekolah saya yang merupakan sekolahan khusus cewek. Jadi saya sering sakaw (menagih) kemaluan pria. Suatu malam, saya sudah benar-benar tidak tahan lagi. Buku dan VCD porno pun tidak bisa memuaskan saya. Bahkan waktu saya melakukan masturbasi pun saya tetap merasa kurang puas. <span id="more-7"></span></p>
<p>Saya yang sehabis masturbasi, membuka jendela kamar saya yang berada di lantai 2 rumah saya. Waktu itu jam 23:30. Saya melihat jalanan di depan rumah sudah sepi sekali. Tiba-tiba ide gila saya mulai lagi. Saya dengan nekat, diam-diam keluar rumah sambil bertelanjang tanpa sepengetahuan siapa pun yang ada di rumah karena semua sudah pada tidur. Saya sampai nekat melompat pagar dengan harapan ada cowok atau pria yang melihat dan memperkosa saya. Apapun asal saya bisa menghisap kemaluannya.</p>
<p>Di komplek saya memang sepi sekali pada jam-jam segitu. Saya sedikit menyesal juga, kenapa saya tidak keluar agak lebih sore. Agak dingin juga malam itu atau mungkin juga karena saya tidak memakai selembar pakaian pun. Di ujung jalan, saya melihat masih ada Mas Agus, tukang nasi goreng langganan saya yang masih berjualan. Langsung saya sapa dia.<br />
“Mas Agus, nasi gorengnya dong..” pinta saya.<br />
“Lho, Mbak Lili..? Ngapain malam-malam begini masih di luar? Ngga pake apa-apa lagi..” sahutnya sambil terheran-heran melihat saya yang tanpa sehelai benang pun di tubuh.<br />
“Abis panas sih, Mas. Kok tumben masih jualan..?”<br />
Mas Agus tidak menjawab. Tetapi saya tahu matanya tidak bisa lepas dari payudaraku yang putih polos ini.<br />
“Ngeliatin apa mas..?” kutanya.<br />
“Ah ngga..” katanya gugup.<br />
Lalu Mas Agus menyiapkan penggorengannya untuk memasak nasi goreng pesananku. Saya lihat ke arah celananya, saya tahu batang kemaluannya sudah berubah jadi bertambah besar dan tegang. Karena saya sudah tidak tahan lagi untuk segera menghisap kemaluannya, saya nekat juga. Saya jongkok sambil membuka ritsletingnya dan mengeluarkan batang kejantanannya dari dalam CD-nya. Tidak pakai basa-basi, saya masukkan alat vitalnya Mas Agus ke dalam mulut saya. Saya jilat-jilat sebentar lalu saya hisap dengan bibir. Saya yakin Mas Agus merasakan senang yang tiada tara, seperti mendapatkan rejeki nomplok. Tidak hanya itu, saya juga menjilati dua telor Mas Agus. Memang agak bau sih, tetapi saya benar-benar menikmati kejantanan Mas Agus yang sekarang dia mulai bersuara, “Mmmh.. mmh.. uhh..”</p>
<p>Kira-kira 15 menit saya menikmati kemaluannya Mas Agus, tiba-tiba Mas Agus menyuruh saya untuk berdiri. Dia memelorotkan celana dan CD-nya sendiri sampai bawah dan menyuruh saya berbalik. Sekarang saya membelakangi Mas Agus. Mas Agus jongkok dan menjilati kemaluan saya. Saya langsung merasakan kenikmatan yang hebat sekali. Hanya sebentar dia melakukan itu. Selanjutnya dia berdiri lagi dan memasukkan batang kejantanannya ke liang senggama saya. Kami berdua melakukan senggama sambil berdiri. Saya melakukannya sambil pegangan di gerobak nasi gorengnya. Saya sudah benar-benar merasa keenakan.</p>
<p>“Uuuh.. akkhh.. akkh.. akhh..” saya menjerit-jerit kegilaan, untung tidak ada yang mendengar.<br />
“Mas, kalo udah mau keluar, bilang ya..” pinta saya.<br />
“Udah mau keluar nih..” jawabnya.<br />
Langsung saja saya melepaskan batang kejantanannya dari liang vagina saya dan jongkok di hadapan kemaluannya yang mengacung tegak. Tetapi setelah saya tunggu beberapa detik, ternyata air maninya tidak keluar-keluar. Terpaksa saya kocok dan hisap lagi batang kejantanannya, saya jilati, dan saya gigit-gigit kecil. Setelah itu tibalah saatnya saya menerima upah yang dari tadi saya sudah tunggu-tunggu, yaitu air maninya yang memang lezat.<br />
“Crot.. crot.. crot..” semuanya saya minum seperti orang yang kehausan.<br />
Langsung saja saya telan dan saya bersihkan kejantanannya dari air mani yang tersisa.</p>
<p>Bertepatan dengan itu, 2 laki-laki lewat di depan kami. Ternyata mereka adalah bapak-bapak yang tinggal di komplek ini yang sedang meronda.<br />
“Lho, Mas Agus lagi ngapain..?” kata seorang bapak di situ.<br />
“Ah ngga pak.. mm.. ini Mbak Lily..” jawab Mas Agus malu-malu.<br />
“Ini Om, saya habis ‘gituan’ sama Mas Agus..” saya jawab begitu nekat dengan harapan 2 bapak ini juga mau memperkosa saya seperti yang telah saya lakukan dengan si penjuali nasi goreng.<br />
Mereka keheranan setengah mati mendengar pengakuan saya itu.<br />
“Adik ini tinggal dimana?” tanya salah satu dari mereka.<br />
“Di sana, di blok F.” jawab saya.<br />
“Ayo pulang sudah malam..!”<br />
Dan saya pun diseret pulang. Saya takut setengah mati karena jika sampai saya dibawa pulang, pasti ketahuan sama orang tua dan saya bakal digantung hidup-hidup.</p>
<p>Di tengah jalan, saya beranikan diri berkata pada mereka, “Om, mau nyusu ngga..?”<br />
“Jangan main-main kamu..”<br />
“Ayolah Om.. saya tau kok, Om mau juga kan ngewe sama saya..?”<br />
Mendengar itu, si Om langsung terangsang berat. Saya langsung mengambil kesempatan meraba-raba batang kejantanannya yang tegang.<br />
“Ayo dong Om.. saya pengen banget lho..” saya bilang lagi untuk menegasakan maksud saya.<br />
Bapak yang satunya lagi langsung setuju dan berkata, “Ya udah, kita bawa ke pos ronda aja Pak Karim..” dan Pak Karim pun setuju.</p>
<p>Setibanya di sana, ternyata masih ada 3 orang lagi yang menunggu di sana, termasuk Bang Parli, hansip di komplek saya. Saya kegirangan sekali, bayangkan saya akan mendapatkan 6 batang kejantanan dalam semalam. Gila.. beruntung sekali saya malam itu. Setelah kami berenam ngobrol-ngobrol sebentar tentang kejadian antara saya dan Mas Agus, saya langsung memberanikan diri menawarkan kesempatan emas ini ke mereka, “Saya sebenernya pengen banget ngerasain barangnya bapak-bapak ini..”<br />
Mereka langsung terlihat bernafsu dan terangsang mendengar perkataan saya, dan saya jeas mengetahuinya. Saya suruh mereka berlima melepas celana dan CD mereka sendiri dan duduk di bangku pos hansip itu. Mereka berbaris seperti menunggu dokter saja. Batang kemaluan mereka besar-besar juga. Saya langsung memulai dengan batang kejantanan yang paling kanan, yaitu senjata keperkasaannya Bang Parli. Saya hisap, saya gigit-gigit kecil, saya kocok di dalam mulut saya, dan saya jilati keseluruhan batangnya dan termasuk juga telurnya. Begitu juga pada batang keperkasaan yang kedua, ketiga, keempat, dan yang terakhir miliknya Pak Karim.</p>
<p>Setelah selesai, saya masih belum puas kalau belum meminum air mani mereka. Lalu saya duduki batang kejantananmya Bang Parli sampai masuk ke liang senggama saya. Saya kocok-kocok di dalam vagina saya. Sementara itu, Pak Karim dan satu bapak lainnya menjilati dan menghisap puting susu saya, sedangkan yang dua bapak lainnya menunggu giliran. 10 menit setelah itu, saya sudah setengah tidak sadar, siapa yang menggenjot lubang senggama saya, siapa saja yang menghisap buah dada saya, batang kejantanan siapa saja yang sedang saya sepong, seberapa keras jeritan saya dan berapa kali saya sudah keluar karena orgasme. Ada pula saatnya ketika satu senjata kejantanan masuk ke lubang vagina saya, sedangkan satu senjata lagi masuk ke lubang anus saya sambil saya menghisap 3 batang kemaluan secara bergantian. Pokoknya saya sudah tidak sadar lagi. Karena merasakan kenikmatan yang benar-benar tiada tara.</p>
<p>Untungnya mereka tidak mengeluarkan air maninya di dalam lubang kewanitaan saya, kalau tidak bisa hamil nanti saya.. berabe dong..! Lagipula saya berniat meminum semua air mani mereka. Akhirnya saat yang saya tunggu-tunggu, yaitu saatnya saya berjongkok di depan mereka dan mereka mengelilingi wajah saya sambil mengocok-ngocokkan barang mereka masing-masing. Sesekali saya masih juga menghisap dan menyedot kelima batang kejantanan itu dengan lembut.<br />
Akhirnya, “Crot.. crot.. crot.. crot.. crot..” saya malam itu seperti mandi air mani. Saya merasa puas sekali.</p>
<p>Waktu pulang, saya diantarkan Bang Parli, si hansip. Ketika sudah sampai di depan rumah saya, sekali lagi Bang parli membuka ritsletingnya dan menyodokkan batang kejantanannya ke dalam lubang senggama saya. Saya melakukannya sambil nungging berpegangan ke pagar depan rumah saya. Selama 10 menit saya dan Bang parli melakukan senggama di depan pagar rumah saya. Air maninya sekarang terpaksa dikeluarkan di punggung saya. Saya tidak menyesal karena air maninya kali ini tidak terlalu banyak. Saya melompat pagar lagi, dan masuk ke kamar diam-diam. Sampai di kamar sudah jam 3 lebih. Badan saya seluruhnya malam itu bau sperma. Saya langsung tidur tanpa mandi dahulu karena besoknya saya harus ke sekolah. Saya yakin mereka semua akan tutup mulut sebab takut dengan istri mereka masing-masing.</p>
<h4>Cerita seks lainnya:</h4><ul><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+dewasa" title="cerita dewasa">cerita dewasa</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+dewasa+online" title="Cerita dewasa online">Cerita dewasa online</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/http%3A%2F%2Fwww+ceritadewasaonline+info%2F" title="http://www ceritadewasaonline info/">http://www ceritadewasaonline info/</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+ngentot" title="Cerita ngentot">Cerita ngentot</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+ketagihan+ngentot" title="cerita ketagihan ngentot">cerita ketagihan ngentot</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/ngentot" title="ngentot">ngentot</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/ketagihan+ngentot" title="ketagihan ngentot">ketagihan ngentot</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+ngentot+online" title="cerita ngentot online">cerita ngentot online</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+dewasa+ketagihan+ngentot" title="Cerita dewasa ketagihan ngentot">Cerita dewasa ketagihan ngentot</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita-cerita+tentang+orang+sedang+ngentot" title="cerita-cerita tentang orang sedang ngentot">cerita-cerita tentang orang sedang ngentot</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.448 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritadewasaonline.info/karena-ketagihan-ngentot.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Bercinta dengan Tante Linda</title>
		<link>http://www.ceritadewasaonline.info/pengalaman-bercinta-dengan-tante-linda.htm</link>
		<comments>http://www.ceritadewasaonline.info/pengalaman-bercinta-dengan-tante-linda.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 00:30:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jack Parlente</dc:creator>
				<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>
		<category><![CDATA[celana dalam tante]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot tante]]></category>
		<category><![CDATA[paha tante]]></category>
		<category><![CDATA[seksi]]></category>
		<category><![CDATA[Tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[tante hot]]></category>
		<category><![CDATA[tante linda]]></category>
		<category><![CDATA[Tante seksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritadewasaonline.info/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Ade, umurku waktu itu sekitar 19 tahun, aku kini kuliah di OSU, Amerika. Kebetulan aku kost di salah satu kenalan Oom aku di sana yang bernama Tante Linda. Wuih, dia itu orangnya baik benar kepadaku. Kebetulan dia seorang istri simpanan bule yang kaya raya tapi sudah tua. Jadilah aku kost di rumahnya yang memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Ade, umurku waktu itu sekitar 19 tahun, aku kini kuliah di OSU, Amerika. Kebetulan aku kost di salah satu kenalan Oom aku di sana yang bernama Tante Linda. Wuih, dia itu orangnya baik benar kepadaku. Kebetulan dia seorang istri simpanan bule yang kaya raya tapi sudah tua. Jadilah aku kost di rumahnya yang memang agak sepi, maklumlah di sana jarang memakai pembantu sih. Tante Linda ini orangnya menurutku sih seksi sekali. Buah dadanya besar bulat seperti semangka dengan ukuran 36C. Sedangkan tingginya sekitar 175 cm dengan kaki langsing seperti peragawati. Sedangkan perutnya rata soalnya dia belum punya anak, yah maklumlah suaminya sudah tua, jadi mungkin sudah loyo. Umurnya sekitar 33 tahun tapi kulitnya masih mulus dan putih bersih. Hal ini yang membuatku betah berlama-lama di rumah kalau lagi nggak ada urusan penting, aku malas keluar rumah. Lagian aku juga bingung mau keluar rumah tapi nggak tahu jalan.</p>
<p>Dan sehari -harinya aku cuma mengobrol dengan Tante Linda yang seksi ini. Ternyata dia itu orangnnya supel benar nggak canggung cerita-cerita denganku yang jauh lebih muda. Dari cerita Tante Linda bisa aku tebak dia itu orangnya kesepian banget soalnya suaminya jarang pulang, maklum orang sibuk. Makanya aku berupaya menjadi teman dekatnya untuk sementara suaminya lagi pergi. Hari demi hari keinginanku untuk bisa mendapatkan Tante Linda semakin kuat saja, lagi pula si Tante juga memberi lampu hijau kepadaku. Terbukti dia sering memancingmancing gairahku dengan tubuhnya yang seksi itu. Kadang-kadang kupergok Tante Linda lagi pas sudah mandi, dia hanya memakai lilitan handuk saja, wah melihat yang begitu jantungku deg – degan rasanya, kepingin segera membuka handuknya dan melahap habis tubuh seksinya itu. Kadang- kadang juga dia sering memanggilku ke kamarnya untuk mengancingkan bajunya dari belakang. Malah waktu itu aku sempat mengintip dia lagi mandi sambil masturbasi. Wah pokoknya dia tahu benar cara mancing gairahku.</p>
<p>Sampai pada hari itu tepatnya hari Jumat malam, waktu itu turun hujan gerimis, jadi aku malas keluar rumah, aku di kamar lagi main internet, melihat gambar-gambar porno dari situs internet, terus tanpa sadar kukeluarkan kemaluanku yang sudah tegang sambil melihat gambar perempuan bugil. Kemudian kuelus-elus batang kemaluanku sampai tegang sekali sekitar 15 cm, habis aku sudah terangsang banget sih. Tanpa kusadari tahu-tahu Tante Linda masuk menyelonong saja tanpa mengetuk pintu, saking kagetnya aku nggak sempat menutup batang kemaluanku yang sedang tegang itu. Tante Linda sempat terbelalak melihat batang kemaluanku yang sedang tegang, langsung saja dia bertanya sambil tersenyum manis.</p>
<p>“Hayyoo lagi ngapain kamu De?”<br />
“Aah, nggak Tante lagi main komputer”, jawabku sekenanya.<br />
Tapi Tante Linda sepertinya sadar kalau aku saat itu sedang mengelus-elus batang kemaluanku.<br />
“Ada apa sih Tante?” tanyaku.<br />
“Aah nggak, Tante cuma pengen ajak kamu temenin Tante nonton di ruang depan.”<br />
“Ohh ya sudah, nanti saya nyusul yah Tan”, jawabku.<br />
“Tapi jangan lama-lama yah”, kata Tante Linda lagi.<br />
Setelah itu aku berupaya meredam ketegangan batang kemaluanku, lalu aku beranjak keluar kamar tidur dan menemani Tante Linda nonton film semi porno yang banyak mengumbar adegan-adegan syuuurr.</p>
<p>Melihat film itu langsung saja aku jadi salah tingkah, soalnya batang kemaluanku langsung saja bangkit lagi nggak karuan. Malah malam itu Tante Linda memakai baju yang seksi sekali, dia memakai baju yang ketat dan gilanya dia nggak pakai bra, soalnya aku bisa lihat puting susunya yang agak muncung ke depan. Karuan saja, gairahku memuncak melihat pemandangan seperti itu, tapi yah apa boleh buat aku nggak bisa apa-apa. Sedangkan batang kemaluanku semakin tegang saja sehingga aku mencoba bergerak-gerak sedikit guna membetulkan letaknya yang miring. Melihat gerakan-gerakan itu Tante Linda langsung menyadari sambil tersenyum ke arahku.</p>
<p>“Lagi ngapain sih kamu De?”<br />
“Ah nggak Tante..”<br />
Sementara itu Tante Linda mendekatiku sehingga jarak kami semakin dekat dalam sofa panjang itu.<br />
“Kamu terangsang yah De, lihat film ini?”<br />
“Ah nggak Tante biasa aja”, jawabku mencoba mengendalikan diri. Bisa kulihat payudaranya yang besar menantang di sisiku, ingin rasanya kuhisap -hisap sambil kugigit putingnya yang keras. Tapi rupanya hal ini tidak dirasakan olehku saja, Tante Linda pun rupanya juga sudah agak terangsang sehingga dia mencoba mengambil serangan terlebih dahulu.</p>
<p>“Menurut kamu Tante seksi nggak De?” tanyanya.<br />
“Wah seksi sekali Tante”, kataku.<br />
“Seksi mana sama yang di film itu?” tanyanya lagi sambil membusungkan buah dadanya sehingga terlihat semakin membesar.<br />
“Wah seksi Tante dong, abis Tante bodynya bagus sih.” kataku.<br />
“Ah masa sih?” tanyanya.<br />
“Iya bener Tante, sumpah…” kataku.</p>
<p>Jarak duduk kita semakin rapat karena Tante Linda terus mendekatkan dirinya padaku, lalu dia bertanya lagi kepadaku,<br />
“Kamu mau nggak kalo diajak begituan sama Tante?”<br />
“Mmaaauu Tante…” Ah seperti dapat durian runtuh kesempatan ini tidak aku sia-siakan, langsung saja aku memberanikan diri untuk mencoba mendekatkan diri pada Tante Linda.<br />
“Wahhhh barang kamu gede juga ya De…” katanya.<br />
“Ah Tante bisa aja deh… Tante kok kelihatannya makin lama makin seksi aja sih.. sampe saya gemes deh ngeliatnya…” kataku.<br />
“Ah nakal kamu yah De”, jawab Tante Linda sambil meletakkan tangannya di atas kemaluanku, lalu aku mencoba untuk tenang sambil memegang tangannya.<br />
“Waah jangan dipegangin terus Tante, nanti bisa tambah gede loh”, kataku.<br />
“Ah yang bener nih?” tanyanya.<br />
“Iya Tante.. ehhh, eehhh saya boleh pegang itu Tante nggak?” kataku.<br />
“Pegang apa?” tanyanya.<br />
“Pegang itu tuh..” kataku sambil menunujukkan ke arah buah dada Tante yang besar itu.<br />
“Ah boleh aja kalo kamu mau.”</p>
<p>Wah kesempatan besar nih, tapi aku agak sedikit takut pegang buah dadanya, takut dia marah tapi tangan si Tante sekarang malah sudah mengelus-elus kemaluanku sehingga aku memberanikan diri untuk mengelus buah dadanya.<br />
“Ahhh.. arghhh enak De.. kamu nakal yah”, kata Tante sembari tersenyum manis ke arahku, spontan saja kulepas tanganku.<br />
“Loh kok dilepas sih De?”<br />
“Ah, takut Tante marah”, kataku.<br />
“Ooohh nggak sayang… kemari deh.”</p>
<p>Tanganku digenggam Tante Linda, kemudian diletakkan kembali di buah dadanya sehingga aku pun semakin berani meremas -remas buah dadanya. “Aaarrhh… sshh”, rintihan Tante semakin membuatku penasaran, lalu aku pun mencoba mencium Tante Linda, sungguh diluar dugaanku, Tante Linda menyambut ciumanku dengan beringas, kami pun lalu berciuman dengan mesra sekali sambil tanganku bergerilya di buah dadanya yang sekal sekali itu. “Ahhh kamu memang hebat De.. terusin sayang.. malam ini kamu mesti memberikan kepuasan sama Tante yah.. ahhh.. arhhh.”<br />
“Tante, saya boleh buka baju Tante nggak?” tanyaku.<br />
“Oohhhh silakan sayang”, lalu dengan cepat kubuka bajunya sehingga buah dadanya yang besar dengan puting yang kecoklatan sudah berada di depan mataku, langsung saja aku menjilat-jilat buah dadanya yang memang aku kagumi itu. “Aahhh… arghhh…” lagi-lagi Tante mengerangerang keenakan. “Teruss.. terusss sayang… ahhh enak sekali…” lama aku menjilati buah dada Tante Linda, hal ini berlangsung sekitar 10 menitan sehingga tanpa kusadari batang kemaluanku juga sudah mulai mengeluarkan cairan bening pelumas di atas kepalanya.</p>
<p>Lalu sekilas kulihat tangan Tante Linda sedang mengelus-elus bagian klitorisnya sehingga tanganku pun kuarahkan ke arah bagian celananya untuk kupelororti. “Aahhh buka saja sayang… jangan malu-malu… ahhhh…” nafas Tante Linda terengah -engah menahan nafsu, seperti kesetanan aku langsung membuka celananya dan kuciumi CD-nya. Waah, dia lagsung saja menggelinjang keenakan, lalu kupelorotkan celana dalamnya sehingga sekarang Tante Linda sudah bugil total. Kulihat liang kemaluannya yang penuh dengan bulu yang ditata rapi sehingga kelihatan seperti lembah yang penuh dengan rambut. Lalu dengan pelan -pelan kumasukan jari tengahku untuk menerobos lubang kemaluannya yang sudah basah itu. “Aahrrrh… sshh… enak De.. enak sekali”, jeritnya. Lalu kudekatkan mukaku ke liang kemaluannya untuk menjilati bibir kemaluannya yang licin mengkilap itu, lalu dengan nafsu kujilati liang kemaluan Tante dengan lidahku turun naik sepeti mengecat saja. Tante Linda semakin kelabakan, dia menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil memeras buah dadanya sendiri. “Aahhh… sshhh come on baby.. give me more, give me more… ohhhh”, dengan semakin cepat kujilati klitorisnya dan dengan jari tanganku kucoblos lubang kemaluannya yang semakin lama semakin basah.</p>
<p>Beberapa saat kemudian tubuhnya bergerak dengan liar sepertinya dia mau orgasme. Lalu kupercepat tusukan-tusukan jariku sehingga dia merasa keenakan sekali lalu seketika dia menjerit, “Oohh aaahh… Tante sudah keluar sayang… ahhh”, sambil menjerit kecil pantatnya digoyang-goyangkan untuk mencari lidahku yang masih terus menjilati bagian bibir kemaluannya sehingga cairan orgasmenya kujilati sampai habis. Kemudian tubuhnya tenang seperti lemas sekali, lalu dia menarik tubuhku ke atas sofa. “Wah ternyata kamu memang hebat sekali, Tante sudah lama tidak sepuas ini loh…” sambil mencium bibirku sehingga cairan liang kemaluannya berlepotan ke bibir Tante Linda. Sementara itu batang kemaluanku yang masih tegang di eluselus oleh Tante Linda dan aku pun masih memilin-milin puting Tante yang sudah semakin keras itu. “Aahh..” desahnya sambil terus mencumbu bibirku. “Sekarang giliran Tante sayang… Tante akan buat kamu merasakan nikmatnya tubuh Tante ini.</p>
<p>Tangan Tante Linda segera menggerayangi batang kemaluanku lalu digenggamnya batang kemaluanku dengan erat sehingga agak terasa sakit, tapi kudiamkan saja habis enak juga diremas-remas oleh tangan Tante Linda. Lalu aku juga nggak mau kalah, tanganku juga terus meremas-remas payudaranya yang indah itu. Terus terang aku paling suka dengan buah dada Tante Linda karena bentuknya yang indah sekali, juga besar berisi alias montok. “Aahhh… shhh,”, rupanya Tante Linda mulai terangsang kembali ketika tanganku mulai meremas-remas buah dadanya dengan sesekali kujilati dengan lidah pentilnya yang sudah tegang itu, seakanakan seperti orang kelaparan kuemut-emut terus puting susunya sehingga Tante Linda menjadi semakin blingsatan.<br />
“Ahh kamu suka sekali sama dada Tante yah De?”<br />
“Iya Tante, abis tetek Tante bentuknya sangat merangsang sih, terus besar tapi masih tetep kencang…”<br />
“Aahhh kamu emang pandai muji orang De..”</p>
<p>Sementara itu tangannya masih terus membelai batang kemaluanku yang kepalanya sudah berwarna kemerahan tetapi tidak dikocok hanya dielus-elus. Lalu Tante Linda mulai menciumi dadaku terus turun ke arah selangkanganku sehingga aku pun mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa sampai pada akhirnya Tante Linda jongkok di bawah sofa dengan kepala mendekati batang kemaluanku. “Wahh batang kemaluanmu besar sekali De… nggak disangka kamu nggak kalah besarnya sama punya orang bule”, Tante Linda memuji-muji batang kemaluanku.</p>
<p>Sedetik kemudian dia mulai mengecup kepala batang kemaluanku yang mengeluarkan cairan bening pelumas dan merata tersebut ke seluruh kepala batang kemaluanku dengan lidahnya. Uaah, tak kuasa aku menahan erangan merasakan nikmatnya service yang diberikan Tante Linda malam itu. Lalu dia mulai membuka mulutnya lalu memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya sambil menghisap-hisap dan menjilati seluruh bagian batang kemaluanku sehingga basah oleh ludahnya. Aku pun nggak mau kalah, sambil mengelus-elus rambutnya sesekali kuremas dengan kencang buah dadanya yang montok sehingga Tante Linda bergelinjang menahan kenikmatan. Selang beberapa menit setelah Tante melakukan hisapannya, aku mulai merasakan desiran -desiran kenikmatan menjalar di seluruh batang kemaluanku lalu kuangkat Tante Linda kemudian kudorong perlahan sehingga dia telentang di atas karpet. Dengan penuh nafsu kuangkat kakinya sehingga dia mengangkang tepat di depanku.<br />
“Ahh De ayolah masukin batang kemaluan kamu ke Tante yah.. Tante udah nggak sabar mau ngerasain memek Tante disodok-sodok sama batangan kamu yang besar itu.”<br />
“Iiiya Tante”, kataku.</p>
<p>Lalu aku mulai membimbing batang kemaluanku ke arah lubang kemaluan Tante Linda tapi aku nggak langsung memasukkannya tapi aku gesek-gesekan ke bibir kemaluan Tante Linda sehingga Tante Linda lagi-lagi menjerit keenakan, “Aahhh.. yes.. yes.. oh good.. ayolah sayang jangan tanggung-tanggung masukinnya…” lalu aku mendorong masuk batang kemaluanku. Uh, agak sempit rupanya lubang kemaluan Tante Linda ini sehingga agak susah memasukkan batang kemaluanku yang sudah besar sekali itu. “Aahh.. shhh.. aoh.. oohhh pelan-pelan sayang.. terusterus… ahhh”, aku mulai mendorong kepala batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Tante Linda sehingga Tante Linda merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika batang kemaluanku sudah masuk semuanya.</p>
<p>Kemudian batang kemaluanku mulai kupompakan dengan perlahan tapi dengan gerakan memutar sehingga pantat Tante Linda juga ikut-ikutan bergoyang-goyang. “Aahhh argghhh.. rasanya nikmat sekali karena goyangan pantat Tante Linda menjadikan batang kemaluanku seperti dipilin-pilin oleh dinding liang kemaluannya yang seret itu dan rasanya seperti empotan ayam. “Uuaahhh..” sementara itu aku terus menjilati puting susu Tante Linda dan menjilati lehernya yang dibasahi keringatnya. Sementara itu tangan Tante Linda mendekap pantatku keras-keras sehingga kocokan yang kuberikan semakin cepat lagi. “Ooohh shhh sayang… enak sekali ooohhh yess… ooohh good… ooh yes…” mendenganr rintihannya aku semakin bernafsu untuk segera menyelesaikan permainan ini, “Aahh… cepat sayang Tante mau keluar ahh”, tubuh Tante Linda kembali bergerak liar sehingga pantatnya ikut-ikutan naik rupayanya dia kembali orgasme, bisa kurasakan cairan hangat menyiram kepala batang kemaluanku yang lagi merojokrojok lubang kemaluan Tante Linda. “Aahh… shhsss.. yess”, lalu tubuhnya kembali agak tenang menikmati sisa-sisa orgasmenya.</p>
<p>“Wahh kamu memang bener-bener hebat De… Tante sampe keok dua kali sedangkan kamu masih tegar.”<br />
“Iiya Tante… bentar lagi juga Ade keluar nih…” sambil terus aku menyodok-sodok lubang kemaluan Tante Linda yang sempit dan berdenyut-denyut itu.<br />
“Ahh enak sekali Tante.. ahhh…”<br />
“Terusin sayang.. terus… ahhh.. shhh”, erangan Tante Linda membuatku semakin kuat merojok – rojok batang kemaluanku ke dalam liang kenikmatannya.<br />
“Aauwh pelan-pelan sayang ahhh.. yes.. ahh good.”<br />
“Aduh Tante, bentar lagi keluar nih…” kataku.<br />
“Aahh Ade sayang… keluarin di dalam aja yah sayang.. ahhh.. Tante mau ngerasin.. ahhh… shhh mau rasain siraman hangat peju kamu sayang…”<br />
“Iiiyyaa… Tante..” lalu aku mengangkat kaki kanan Tante sehingga posisi liang kemaluannya<br />
lebih menjepit batang kemaluanku yang sedang keluar masuk lobang kemaluannya.<br />
“Aahhh… ohhh ahhh.. ssshhh.. Tante Ade mau keluar nih.. ahhh”, lalu aku memeluk Tante Linda sambil meremas-meremas buah dadanya. Sementara itu, Tante Linda memelukku kuat-kuat sambil mengoyang-goyangkan pantatnya. “Ah Tante juga mau keluar lagi ahhh… shhh…” lalu dengan sekuat tenaga kurojok liang kemaluannya sehingga kumpulan air maniku yang sudah tertahan menyembur dengan dahsyat. “Seeerr.. serr… crot.. crot…” “Aahhh enak sekali Tante… ahhh harder.. harder… ahhh Tante…” Selama dua menitan aku masih menggumuli tubuh Tante Linda untuk menuntaskan semprotan maniku itu. Lalu Tante Linda membelai-belai rambutku. “Ah kamu ternyata seorang jagoan De…” Setelah itu ia mencabut batang kemaluanku yang masih agak tegang dari lubang kemaluannya kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya untuk dijilati oleh lidahnya. Ah, ngilu rasanya batang kemaluanku dihisap Tante Linda.</p>
<h4>Cerita seks lainnya:</h4><ul><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/pengalaman+bercinta" title="pengalaman bercinta">pengalaman bercinta</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+pengalaman+bercinta" title="cerita pengalaman bercinta">cerita pengalaman bercinta</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/celana+dalam+tante" title="Celana dalam tante">Celana dalam tante</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+dewasa" title="cerita dewasa">cerita dewasa</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/http%3A%2F%2Fwww+ceritadewasaonline+info%2F" title="http://www ceritadewasaonline info/">http://www ceritadewasaonline info/</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+dewasa+online" title="Cerita dewasa online">Cerita dewasa online</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/bercinta+dengan+tante" title="bercinta dengan tante">bercinta dengan tante</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/pengalaman+bercinta+dengan+tante" title="pengalaman bercinta dengan tante">pengalaman bercinta dengan tante</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+bercinta" title="cerita bercinta">cerita bercinta</a></li><li><a href="http://www.ceritadewasaonline.info/search/cerita+dewasa+tante+girang" title="cerita dewasa tante girang">cerita dewasa tante girang</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.452 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritadewasaonline.info/pengalaman-bercinta-dengan-tante-linda.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
